Kisah Anak Petani Asal Sumba Barat Lulus Seleksi Akpol

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Sabtu, 26 Juni 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Doa, usaha dan kerja keras pasti membuahkan hasil. Ungkapan ini berhasil dibuktikan oleh Richard Daddy Balli Leba Ari. Calon taruna Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2021 asal Panitia Daerah Polda NTT ini, meraih peringkat pertama kelulusan Akpol tahun 2021 yang diumumkan Rabu (23/6).

Richard hadir bersama ibunya, Lusia Puting saat pengumuman kelulusan sementara. Selama empat bulan terakhir, Richard bersama ibunya menyewa kontrakan di sekitar perumahan RSS Liliba, Kelurahan Oesapa Selatan, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang.

Lusia yang merupakan ASN pada Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumba Barat itu, terpaksa harus izin dari tugasnya guna menemani Richard anaknya mengikuti proses seleksi Akpol di Kupang. Beruntung pimpinan di tempat kerja Lusia bisa memahami.

Sejak kelas satu di SMA Kristen Waikabubak, Richard berlatih dan belajar. Sejak kecil Richard memang memiliki cita-cita ingin menjadi seorang polisi dari jalur Akpol. “Saya terinspirasi saat melihat Akpol di media sosial dan televisi. Saya pun punya tekad untuk seperti mereka,” ujarnya.

Ia pun memanfaatkan waktu pulang sekolah untuk rutin berolahraga. Richard juga menggunakan waktu di sela-sela olahraga, membantu ayahnya bertani.

Richard merupakan anak pertama dari lima bersaudara, pasangan Lele Leba Ari, seorang petani dan ibu Lusia Puting yang merupakan ASN golongan rendah. Sebagai anak sulung, banyak tanggung jawab yang dibebankan orang tua kepadanya. Sehingga Richard ingin memberi contoh kepada keempat adiknya, untuk terus berlatih dan belajar otodidak.

“Saya berusaha cari literatur di internet tentang soal psikologi dan soal akademik ujian masuk Akpol. Demikian pula cara dan tips ujian jasmani saya pelajari sendiri,” jelas Richard,dilansir dari Merdeka.com (24/06/2021).

Menjelang ujian akhir SMA, Richard ikut mendaftar sebagai calon taruna Akpol di Polres Sumba Barat. Walau hal pertama dan sulit baginya, namun ia memiliki tekad bulat untuk berusaha maksimal, dengan menjauhi rokok dan minuman keras.

Ia bangga saat dinyatakan lolos tes kesehatan tahap pertama. Ia juga tidak menyangka lolos di ujian psikologi walau dengan nilai 68. Nilai ini jauh di bawah beberapa rekannya yang lain.

Menjelang ujian akademik, ia harus berusaha maksimal.Waktu yang ada dimanfaatkan sebaik mungkin untuk belajar mata ujian pengetahuan umum, wawasan kebangsaan, matematika dan bahasa Indonesia.

Sejumlah buku pelajaran juga ia beli dari toko buku, untuk menambah pengetahuannya menjelang ujian akademik. Hasil dan usahanya berbuah baik. Ia meraih nilai tertinggi di bidang ujian akademik. Ia juga berhasil lolos saat pemeriksaan kesehatan tahap II.

Saat ujian jasmani, Richard kembali berusaha maksimal dengan modal ilmu dan tips yang dipelajari secara otodidak. Di bidang jasmani Richard ada di peringkat kedua namun ia tetap optimis bisa lolos. Ia tidak menduga kalau hasil usaha dan kerja kerasnya selama tiga tahun terakhir, membuahkan hasil menggembirakan.

“Saya tidak menyangka hasil ini. Selama ini saya belajar secara mandiri,” ungkapnya.

Richard bertekad akan tetap berusaha keras dan menjaga kesehatan selama proses ujian di tingkat pusat, karena ia harus menjalani sejumlah rangkaian seleksi mulai, dari pemeriksaan administrasi, pemeriksaan kesehatan, wawancara psikologi, pendalaman PMK.

Selanjutnya tes akademik meliputi TPA dan bahasa Inggris dengan sistem CAT, serta pemeriksaan penampilan atau parade.

Ia berharap semoga usaha dan kerja kerasnya bisa sukses. “Saya berharap bisa sukses dan menjadi contoh serta inspirasi bagi anak-anak lain di Kabupaten sumba Barat,” ucap Richard.

Richard berterima kasih kepada Kapolda NTT Irjen Pol Lotharia Latif, Karo SDM, Kombes Pol Wisnu Widarto dan panitia penerimaan Biro SDM Polda NTT, yang melakukan rekrutmen secara bersih, humanis dan transparan karena seluruh hasil seleksi langsung disampaikan.

Lusia, sang ibu juga terharu dengan hasil ini. “Semoga Richard sehat selalu dan sukses hingga akhir. Kami hanya bisa mendoakan dan memberikan support,” tutupnya.

Untuk diketahui, Polda NTT mendapat kuota kirim sebanyak empat orang Calon Taruna Akpol yakni, satu orang wanita dan tiga orang pria.

Mereka yang lolos dan mengikuti proses di tingkat pusat adalah, Richard Daddy Balli Leba Ari, Johannes Bimantara Jaha, Kresna Buce Tanebet serta Brigitte Trisna Bandi.

Richard, lulusan SMA Kristen Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat, Kresna Buce Tanebet, lulusan SMA Negeri III Kota Kupang baru pertama kali ikut seleksi taruna Akpol. Demikian pula dengan Brigitte Trisna Bandi.

Sementara Johannes Bimantara Jaha, lulusan SMA Taruna Nusantara sudah tiga kali mengikuti seleksi penerimaan taruna Akpol sejak tahun 2019 lalu.

Keempat utusan Polda NTT ini akan diberangkatkan ke Semarang mengikuti seleksi mulai pekan depan hingga akhir Juli 2021. Peserta yang lulus tingkat pusat selanjutnya menjalani pendidikan selama 4 tahun ke depan di Akpol Semarang mulai Agustus 2021 mendatang.

Kapolda NTT, Irjen Lotharia Latif menyatakan kebanggaannya atas prestasi yang diraih para catar Akpol tahun 2021 ini.

Semula dalam DIPA Polda NTT dijatahi tiga orang taruna Akpol. Namun Kapolda NTT mengusulkan penambahan kuota.

“Kita memang usulkan tambahan kuota hingga tujuh orang namun hanya dapat empat, tapi kita bangga dengan perjuangan, prestasi dan hasil ini,” katanya. (Uli)