Kiprah Perempuan Banten : Keraton Untuk Sang Ibu (4)

Moh. Ali Fadillah for indolinear.com
Minggu, 7 Oktober 2018

Oleh : Moh. Ali Fadillah

Keraton Untuk Sang Ibu

Dalam posisi kodratnya, seperti ditunjukkan oleh bukti arkeologis dan etnografis, perempuan memainkan peran penting, selain mengurus rumah tangga juga membantu suami melakukan pekerjaan tambahan. Peran ini sangat dominan dalam historiografi tradisional Banten.

Posisi perempuan semakin kuat saat berperan sebagai seorang ibu. Dalam historiografi Banten memang tak begitu menonjol. Namun keberadaannya dalam berbagai lapangan kehidupan teramat penting. Peran yang berkarakter maternal itu tampak sekali dalam memberikan legitimasi kepada Syarif Hidayatullah, yang lebih dikenal dengan gelaran Sunan Gunung Jati. Sebagai cikal bakal Sultan Banten dan Cirebon, selain dipandang sebagai wali qutub; keturunan Nabi Muhammad dari pihak ayah, juga diperkuat dengan garis keturuan Raja Sunda-Pajajaran dari pihak ibu.

Sumber-sumber lokal memberi kita informasi, bahwa hasil perkawinan Sribaduga Maharaja dengan Subang Larang menghasilkan tiga orang anak: Cakrabuwana, Larasati dan Rajasanagara. Terlahir dari Larasati, Syarif Hidayatullah dikisahkan menikahi Kawung Anten, anak perempuan Panembahan Surasowan, yang kakeknya bernama Mayang Sunda, saudara kandung Sribaduga Maharaja.

Jadi dari garis ibu itulah, Syarif Hidayatullah dan Kawung Anten adalah keturunan Pajajaran. Perkawinan keduanya melahirkan Sabakingkin, yang lebih dikenal dengan nama Maulana Hasanudin. Sampai sekarang diyakini kekeramatan keduanya, baik Sunan Gunung Jati maupun Kawung Anten sebagai pasangan yang telah melahirkan raja Islam pertama di Banten (Iskandar dkk, 2000).

Penghormatan kepada seorang ibu lebih nyata lagi pada masa-masa belakangan, ketika otoritas Banten berada di ambang keruntuhan, mengawali berlakunya Regering van Nederlandsch-Indie, saat kolonialisme bermula. Sultan Syafiuddin, kendati menduduki tahtanya yang sedang terancam, ia masih menyempatkan diri membangun sebuah istana untuk ibundanya, Ratu Asiah, yang kini dinamakan Keraton Kaibon di tepi Cibanten, sebelah hulu dari kompleks keraton Surasowan di Banten Lama. Di istana bergaya klasik inilah sultan memberikan penghargaan bagi sang ibu, sebelum pindah ke Pandeglang, untuk diberi kekuasan sangat terbatas di District Banten Kidul oleh pemerintah kolonial Belanda.

Dan terakhir sekali, sebuah catatan penting ditulis Achmad Djajadiningrat. Ia menceritakan bahwa sejak usia 15 tahun telah diinisiasi dengan elmu kejawen oleh ibunya. Sesungguhnya ini berkenaan dengan penanaman nilai-nilai budaya Jawa untuk mengimbangi pendidikan bercorak Eropa di Batavia.

Cerita panji dan berbagai kisah kepahlawanan dalam tembang Jawa yang berlatar pepeling (ajaran moral), baik bersumber dari Babad Banten maupun Serat al-Anbiya (kisah para nabi), mengilhami seorang ibu untuk selalu menasehati anaknya. Dan Achmad Djajadiningrat kemudian menulis kembali puisi yang biasa ditembangkan ibunya: ”wedi asih ing wong toea, setia toehoe ing Sang Aji, Ratoe ingkang angreh praja, noehoni sakersa neki, soemoedjoed lahir lan batin, ikoe sadjatining elmoe, dadasaring kasatrian”. Teks itu bisa diartikan,  “Patuhi dan menyayangi orang tua, tetap setia mengabdi  kepada yang Mulia, ratu yang memerintah negeri, tetaplah menghargai semua titahnya lahir dan batin, itulah ilmu yang sebenarnya, sebagai dasar dari perjuangan).(Bersambung)

Penulis Adalah Anggota Banten Heritage

INDOLINEAR.TV