Kiprah Perempuan Banten : Heroisme dan Makna Simbolik Perempuan (6)

Moh. Ali Fadillah for indolinear.com
Minggu, 14 Oktober 2018

Oleh : Moh. Ali Fadillah

Kiprah Sosial-Politik Perempuan

Berangkat dari sumber-sumber sejarah itu, bisa dikatakan bahwa dalam beberapa fase pemerintahan Banten, raja memang berkuasa, tetapi keputusan terkadang berada di tangan permaisuri. Ratu Syarifah dalam posisi itu, jika bisa dibuktikan, mungkin seorang agen VOC untuk memperkuat pengaruh Belanda dalam sistem pemerintahan kesultanan (Tjandrasasmita, Ambary, Michrob, 1987).

Namun akhirnya, meskipun mengkampanyekan diri sebagai keturunan bangsawan Timur Tengah; untuk memperkuat legitimasi, tetapi lama-kelamaan misi rahasianya terbongkar juga. Dan penghianatan itu, jika memang benar anggapan ini, membuat rakyat Banten memberontak untuk mengembalikan tahta kepada golongan sentana.

Ketegangan Belanda dan Banten itu terus berlangsung, dari paruh pertama dan akhir abad XIX, sampai awal abad XX, yang dipicu oleh kebijakan kolonial: sejak tanam paksa hingga kapitalisme perkebunan ekspor. Sesungguhnya banyak tokoh laki-laki yang memainkan peran resistensi terhadap kekuatan Belanda. Tetapi menarik dicatat di sini munculnya kebaruan, kebangkitan pejuang perempuan dalam melakukan perlawanan: Nyimas Gamparan di Cikande dan Nyimas Malati di Tangerang. Tokoh Nyimas Gamparan muncul ke pentas sejarah mengawali puncak ketegangan, jauh sebelum terjadinya peristiwa Geger Cilegon yang memperkenalkan protagonis Ki Wasid (Kartodirdjo, 1995).

Seperti mengikuti jejak Nyimas Gamparan, para tokoh Geger Cilegon itu pun harus menjelajahi pedalaman Banten yang luas untuk menghindari penangkapan besar-besaran yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Dan Nyimas Gamparan sepertinya, juga Nyimas Malati, dalam semua kesunyian historisitas Banten, telah mengguratkan tapak sejarah bagi jalur-jalur perlawanan itu, sebelum akhirnya gugur di sekitar hutan perbukitan Gunung Karang; antara Paburan dan Baros. Begitu juga Nyimas Malati, harus menemui takdirnya di pedalaman Balaraja. Jejak historis kedua patriot perempuan itu tetap dikenang dalam ingatan kolektif masyarakat Banten.

Tokoh perempuan lain, kendati bersifat metafisik tetapi penting dicatat sebagai paling populer dalam tradisi lisan di pedalaman Banten selatan adalah Nyi Pohaci. Lazim disebut Sanghyang Seri, terutama dalam  religiusitas ‘Pakidulan’ Banten. Penghormatan terhadap tokoh sakral ini, memang sangat umum di nusantara, didasarkan pada kepercayaan bahwa Dewi Sri merupakan perwujudan dari ‘sang pemberi kesuburan’ untuk padi. Oleh karena itu hampir setiap tahun selalu diadakan serangkaian ritual dengan cara yang khusus dan di tempat yang khusus pula.

Pada masyarakat Baduy dan beberapa pusat kasepuhan Banten Kidul (Provinsi Banten dan Jawa Barat) bahkan sampai ke bagian tengah Lebak dan barat daya Pandeglang, penghormatan terhadap Dewi Padi direpresentasikan dengan melakukan upacara ruwat bumi dalam rangkaian Seren Taun.

Peran simbolik perempuan juga hidup di lembah pertemuan tiga gunung (Karang, Pulasari dan Aseupan) hidup legenda sepasang suami istri: Ki Mandala dan Nyi Wangi, yang dipercaya sebagai cikal bakal pemukiman pertama daerah subur di kawasan Mandalawangi. Ritual pun terus dilakukan pada kubur mereka yang terletak di tengah persawahan. Dan sekarang sedang gencar disuarakan dalam media sosial pentingnya legenda lain: Nyi Anteh, sang penunggu bulan dan Puteri Arum, sang penenun! (Bersambung)

Penulis Adalah Anggota Banten Heritage

%d blogger menyukai ini: