Kiprah 1.000 Hari, Wuling Motors Menancapkan Legasi Penting Di Indonesia

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Selasa, 5 Mei 2020

Indolinear.com, Jakarta – Menjadi pemain baru dan langsung bertarung dengan merek raksasa otomotif yang lebih dulu berkuasa, serta melawan stigma merek Tiongkok tidak menjadikan Wuling Motors gentar untuk memutuskan berbisnis di Indonesia. Meskipun tertatih-tatih membangun imej positif, perlahan namun pasti, jenama asal Negeri Tirai bambu ini menancapkan legasinya di pasar nasional.

Hasil kerja keras tersebut, berbuah manis kala PT SGMW Indonesia atau Wuling Motors merayakan pencapaiannya seribu harinya di Tanah Air. Paling terlihat adalah catatan penjualan pabrikan asal Cina ini, dengan mampu mengirimkan sebanyak 46.362 unit ke konsumen.

Mengandalkan empat model, yaitu Confero, Cortez, Formo, dan Almaz, Wuling Motors membuktikan menjadi salah satu merek yang sukses mendulang konsumen. Komposisinya sendiri, berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Confero tetap jadi andalan, dengan terjual sebanyak 26.550 unit, kemudian Almaz berada di posisi kedua karena baru diluncurkan 2019, dengan penjualan 9.903 unit, Cortez 9.424 unit, dan Formo 485 unit.

Dijelaskan Brian Gomgom, Media Relation Wuling Motors, penjualan selama 1.000 hari tersebut bisa dibilang cukup baik dari segi kuantitas maupun kualitas, karena dari tahun ke tahun total penjualan terus meningkat.

“Dengan kondisi sekarang, penjualan kami sudah cukup baik. Setiap tahun juga bertumbuh, dan dari tahun ke tahun meningkat dan itu positif bagi kita,” jelas Brian Gomgom, dilansir dari Liputan6.com (03/05/2020)

Penjualan moncer ini tidak terlepas dari strategi Wuling Motors, dengan menghadirkan mobil dengan harga kompetitif, namun syarat dengan teknologi canggih, bahkan lebih unggul dibanding kompetitiornya. Cara tersebut cukup memberikan efek kejut bagi pasar dalam negeri, yang kurang lebih empat dekade dikuasai oleh merek asal Jepang.

Strategi tersebut terbukti berhasil, dengan penjualan yang cukup baik yang tidak terlepas dari penerimaan yang tepat dari berbagai model yang dihadirkan Wuling. Pasalnya, setiap merencanakan produk baru untuk Indonesia, akan ada serangkai riset sehingga terciptalah model yang memang sesuai kebutuhan masyarakat.

“Secara garis besar, filosofi Wuling dalam menghadirkan model baru titik beratnya value. Kalau orang membeli sesuatu dilihat pertama kali nilainya, kadang-kadang dalam memilih barang apapun tidak hanya mobil, duit segini dapet apa,” tukas Gomgom.

Model dengan teknologi canggih dibanding kompetitor, dan harga jual yang jauh lebih kompetitif, seperti menjadi kesatuan bagi Wuling di Indonesia. hal tersebut, meninggalkan legasi bagi pabrikan asal China lainnya, bahkan yang baru ingin mencoba menjajal ketatnya persaingan pasar roda empat di Indonesia

Legasi Pabrik

Selain model canggih dengah harga kompetitif, legasi lain dari Wuling, adalah keseriusan berbisnis di Indonesia. Dibuktikan dengan investasi besar, senilai 700juta dollar AS atau lebih dari Rp9 triliun.

Masuk ke Indonesia dengan komitmen penuh pada 2015, dengan peletakan batu pertama pembangunan pabrik yang terintegrasi di Cikarang, Jawa Barat. Memiliki luas 60 hektar, pabrik ini memiliki kapasitas produksi hingga 120 ribu unit kendaraan per tahun.

Lepas dua tahun, tepatnya 11 Juli 2017, pabrik Wuling resmi produksi, dengan model pertamanya, Confero. Saat itu, untuk mendukung perakitan mobilnya, Wuling membawa 15 pemasok komponen internasional ternama yang akan menempati supplier park dan juga telah bekerja sama dengan lebih dari 20 pemasok komponen lokal.

Sementara itu, Presiden SGMW Motor Indonesia, Xu Feiyun, mengatakan, pembangunan pabrik pertama Wuling Motors di luar Tiongkok menunjukkan komitmen kuat dan jangka panjang untuk memasuki pasar Indonesia.

“Dengan 3.000 pekerja lokal yang terlibat di seluruh rantai industri, kami siap menumbuhkan perekonomian Indonesia, khususnya di Industri otomotif. Acara hari ini juga merefleksikan pencapaian penting kami untuk kehadiran merek Wuling Motors di Indonesia,” jelas Feiyun saat peresmian pabriknya beberapa waktu lalu.

Legasi Teknologi

Tidak berhenti sampai di situ, setelah Confero, penetrasi pasar yang dilakukan Wuling semakin gencar. Tepat 18 Desember 2017, Wuling memperkenalkan medium MPV terbarunya, Cortez. Lagi-lagi, seperti sudah menjadi ciri khas, model tersebut datang dengan teknologi yang bahkan lebih tinggi dibanding kompetitornya.

Puncaknya, tahun lalu, Wuling menghadirkan Almaz tujuh penumpang yang dilengkapi dengan teknologi Wuling Indonesia Command (WIND). Teknologi canggih tersebut, merupakan voice command yang sudah terintegrasi dengan bahasa Indonesia.

Seperti sebuah sandi, jika pengemudi atau penumpang mengucapkan kata halo Wuling, itu sebagai tanda fitur Almaz bisa diaktifkan hanya dengan perintah suara.

Fitur dengan smart ecosystem ini memungkinkan pengguna menyalakan, mematikan, atau mengoperasikan berbagai fitur kendaraan, seperti pendingin udara, jendela, panoramic sunroof, akses fitur hiburan seperti musik atau radio, dan melakukan panggilan telepon.

Selain itu Wind dapat menjalankan aplikasi misalnya Wuling Link ataupun TPMS, memperbesar atau mengecilkan volume, serta menanyakan tanggal dan waktu saat ini.

Dijelaskan Product Planning PT SGMW Wuling Indonesia, Danang Wiratmoko, filosofi terkait produk yang dihadirkan, adalah value atau nilai dan juga diferensiasi atau pembeda dari model yang memang sudah ada di pasaran.

“Salah satu kunci Wuling bisa bertahan ada perbedaan dan nilai tambah dari produk yang sejenis di pasar. Contohnya, saat meluncurkan Almaz dengan voice command berbahasa Indonesia, dan penggunaan tersebut menjadi nilai tambah. Teknologi voice command itu bukan hanya milik Wuling, tapi ketika kita tambahkan bahasa Indonesia yang kita khususkan untuk pasar di sini, itu menjadi sesuatu yang beda dengan produk sejenis,” tegas Danang.

Legasi Ekspor

Sebagai pabrikan yang beroperasi di Indonesia, Wuling memang tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik saja. Namun, sejak tahun lalu, Wuling juga telah melakukan ekspor, dengan menggunakan merek Chevrolet Captiva yang menggunakan basis Almaz.

Tonggak sejarah tersebut, tercipta tepatnya pada 25 September 2019, dengan berlayarnya Wuling Almaz dengan merek Chevrolet Captiva sebanyal 2.600 unit ke tiga negara, yaitu Thailand, Brunei Darussalam, dan Fiji.

“Kami bekerja sama dengan pemegang saham kita, General Motors (GM), Amerika Serikat, melakukan ekspor ke negara-negara seperti Thailand, Brunei, dan Fiji,” jelas Xu Feiyun, Presiden Wuling Motors, di sela-sela peresmian ekspor perdana Wuling Almaz, di pabrik perakitan Wuling, Cikarang, Jawa Barat, saat itu.

Berdasarkan data Gaikindo, sepanjang September 2019, Wuling mengirim sebanyak 770 unit Chevrolet Captiva, Oktober 2019 724 unit, November 2019 605 unit, dan Desember 2019 579 unit. Sedangkan untuk tahun ini, pada Januari 2020, terkirim sebanyak 285 unit, Februari 2020 141 unit, dan Maret 0 unit.

Meskipun bulan lalu, tidak ada ekspor, namun Wuling menegaskan pengiriman Chevrolet Captiva berlanjut pada April 2020. Namun, datanya sendiri belum bisa diberikan secara detaial karena belum tutup bulan.

Legasi Purnajual

Bisnis Wuling di Indonesia memang tidak hanya berjualan, tapi juga memikirkan aspek yang cukup penting bagi konsumen, yaitu layanan purnajual. Bahkan, selama 1.000 hari tidak kurang dari 115 diler telah dibangun di seluruh Indonesia.

Diler tersebut, berkonsep tiga S, yaitu Sales (penjualan), Service (layanan perawatan dan perbaikan), serta Spare part (atau penyediaan suku cadang). Jadi, salah satu strategi Wuling juga untuk menepis anggapan buruknya pelayanan mobil Tiongkok, dengan menghadirkan layanan yang sangat penting, yaitu servis dan perawatan, serta ketersedian suku cadang.

Legasi tantangan Produk ‘rasa lokal’              

Selama ini, Wuling menghadirkan produk untuk Indonesia dengan mengambil basis dari model yang sudah ada di Cina. Sebut saja Confero yang mengambil dari basis Hongguang, kemudian Cortez dari Baojun 370, serta Almaz yang berdasarkan dari Bjoun 530.

Hal tersebut bisa dibilang wajar, toh Wuling memang didukung dengan usaha patungan dari beberapa pabrikan besar, seperti General Motors (GM), Automotive International Corporation (SAIC) dan Guangxi Automoile Group (Wuling).

Tapi, tidak lengap rasanya, jika Wuling sendiri tidak mengembangkan produk yang benar-benar rasa lokal alias 100 persen dikembangan dari awal untuk pasar Indonesia. Toh, selama ini, sepanjang kurang lebih tiga tahun di Tanah Air, Wuling Motors sedikit banyak sudah mampu menghadirkan produk yang cukup sesuai dengan kebutuhan konsumen.

Menjawab hal tersebut, Danang menjelaskan jika pengembangan model ‘rasa lokal’ sudah dilakukan. Pasalnya, semua produk Wuling yang sudah dipasarkan hingga saat ini, sampai level tertentu memang dikhususkan untuk pasar Indonesia.

“Salah satu tujuannya, terus menambah komponen lokal, dan arahnya suatu ketika kita bisa bikin produk tersebut (rasa lokal),” jelas Danang.

Namun, hingga tahun ketiga Wuling berada di Indonesia, memang belum bisa langsung menjadikan sebuah mobil yang benar-benar dikembangkan dari nol untuk pasar nasional. Ada beberapa hambatan yang memang belum bisa terselesaikan di dalam negeri.

“Contohnya, seperti desain center kita belum ada, lalu powertrain development yaitu mesin dan transmisi masing menggunakan aset headquarter. Sedikit demi sedikit, lokal konten akan kita tambah, dan tujuannya membuat produk yang benar-benar dari Indonesia,” pungkasnya. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT:

Berita Menarik Lainnya