King Hendro Arifin: Sejenak Berfikir Kalau Kita (Jadi) Tua…

FOTO: King Hendro Arifin/koranlinear
Sabtu, 23 Maret 2019

Usia bukan sesuatu yang bisa di tawar. Selain kerut wajah yang bertambah, uban di rambut atau helainya yang mulai menipis, langkah kaki yang bertambah berat akibat motorik otot yang kurang merespon, bungkuk akibat pelemahan tulang, pendengaran yang berkurang, pengelihatan yang mulai samar, adalah ‘kebaruan’ fisik yang diterima.

Dan ingat! Itu adalah anugerah dari sang Pencipta. Itu menandakan bahwa si Tua sudah makin melalui fase dan sebuah keberuntungan dari orang-orang yang belum mendapatkan fase tersebut, bahkan tidak pernah merasakan fase itu karena lebih dulu menghadap sang Pencipta-nya.

Apakah nikmatnya Tua? Selain karunia panjang umur, banyak hal duniawi yang menjadi kenikmatan si Tua. Melihat perkembangan para Cucu yang lucu dan menggemaskan, menikmati perkembangan jaman yang terus dengan teknologi kekinian dan makin canggih. Melihat keberhasilan anak menjadi pengusaha, direktur di perusahaan besar atau menjadi panutan ummat.

Semua itu satu dari sekian kenikmatan menjadi tua. Bahkan makin tua harusnya menambah waktu ibadah kita semakin panjang sebelum menghadap sang Pencipta. Itu bonus yang paling indah dari semua. Waktu Ibadah yang makin banyak.

Tua, bukan persoalan yang harus didebat karena merupakan hak dan kewajiban yang akan diterima, apabila Pencipta menghendaki. Hanya saja, untuk menghadapi masa Tua harusnya tiap orang memiliki kesiapan khusus. Kesehatan tentunya harus dijaga, tabungan hari tua dan rumah tinggal yang layak harusnya jadi kewajiban tiap orang untuk menikmati hak menjadi Tua.

Perlukah Peran Pemerintah atas hak warga menjadi Tua? Ini yang akan coba dan harus didiskusikan panjang. Adakah pemerintah sudah menyiapkan hak untuk warganya menjadi Tua? Harus kita jawab ada. Karena pemerintah telah menyiapkan gaji pensiun bagi PNS atau ASN dan atau juga bagi yang bukan PNS diarahkan menggunakan BPJS. Apakah itu cukup? Tentu saja tidak secara fungsi, bagi sebagian orang. Karena menikmati ke Tua-an bukan berarti individu harus terus berada di dalam rumah.

Hak menjadi Tua juga harus dibarengi dengan kesediaan pemerintah menyiapkan fasilitas-fasilitas pendukung. Mulai dari toilet umum khusus orang tua, parkir mobil khusus orang tua, loket-loket khusus Lansia di rumah sakit, kantor pemerintahan dan lembaga lain harusnya juga tersedia. Karena sekali lagi, menjadi Tua bukan berarti kehilangan kreativitas.

Harus juga pemerintah berfikir bagaimana menyiapkan nomor khusus atau call center khusus bagi para Lansia dalam mendapatkan pertolongan pertama apabila mengalami keterbutuhan dalam hal medis. Harus ada ambulans khusus atau juga lembaga khusus yang dibentuk untuk menangani permasalahan para Lansia.

Harus mulai difikirkan bagaimana mulai tingkat RT/RW dilakukan pendataan yang sistematis untuk para Lansia. Dengan pendataan tersebut maka APBD dapat langsung dikucurkan untuk menambah dan membantu menjaga hak untuk Tua para warga. Bantuan tersebut bisa berupa, pemberian bantuan vitamin, susu, makanan, bahkan bila perlu Pampers untuk Lansia yang didanai oleh APBD.

Mengapa harus ada kebijakan seperti yang diangankan diatas? Karena makin banyak kebijakan yang mendukung dan memudahkan bagi warga yang sudah Tua, tentunya juga mendorong dan bisa meningkatkan produktivitas di usia senja.

Disisi lain, memperhatikan dan memberikan hak kepada Orang yang sudah Tua atau Lansia merupakan penghargaan dari kita untuk kita dan oleh kita bagi mereka yang sudah tua dan bagi kita yang nantinya akan tua.

Mereka yang hari ini Tua atau Lansia, adalah orang-orang yang dulu memiliki jasa dalam tumbuh kembang masyarakat Indonesia, atau Tangsel khususnya. Mereka dulu mungkin guru yang bekerja tanpa melihat waktu. Mereka dulu mungkin PNS yang bekerja di instansi pemerintahan. Atau mereka dulu Sopir angkutan umum yang menghantar kita ke sekolah. Atau dulu mereka Satpam/hansip yang menjaga lelap tidur kita, dan atau siapapun mereka, saat Tua datang harusnya dibarengi dengan fasilitas atas hak menjadi Tua. Karena hak untuk hidup, jelas diatur dan merupakan Hak Asasi Manusia.

Mengapa saya mengajak Sejenak Berfikir Kalau Kita (Jadi) Tua? Hanya satu tujuannya, agar kita bersama berfikiri menyiapkan perangkat, regulasi dan infrastrukturnya, dimulai dari hari ini. Caranya? Kita dapat memulai dengan menjaga gaya hidup sehat. Kita bisa memulai dengan menabung untuk hari tua dan atau hal lain yang sekiranya perlu.

Satu yang tidak kalah penting, kita juga harus mau memulai dengan ikut ambil bagian mempersiapkan regulasi atau peraturan pendukung. Bagaimana lagi caranya? Jangan Lupa Gunakan Hak Pilih Anda Dalam Pileg April 2019. Pilih calon presiden, calon wakil presiden, calon anggota DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi/Kabupaten/Kota yang memperhatikan kesiapan peraturan atau regulasi untuk para Lansia.

Sebagai manusia, kita tidak boleh takut tua. Tapi kita harus takut apabila kita tidak mempersiapkan hari tua kita.(*)

King Hendro Arifin merupakan Direktur indolinear.com