King Hendro Arifin: Saya Ingatkan Lagi, Coblos Prabowo-Sandi, Lalu Saya…!

FOTO: King Hendro Arifin/koranlinear
Rabu, 10 April 2019

Assalamualaikum, Wr., Wb. Selamat Pagi. Salam Sejahtera Untuk Kita Semua. Om Swastiastu. Nammo Budhaya.

Gerindra Menang! Prabowo Presiden! Gerindra Menang! Prabowo Presiden! Prabowo Presiden! Gerindra Menang!

Kembali pagi ini Saya mengusik ruang baca Bapak/Ibu, Saudara/Saudari dan para Rekan Sejawat. Tidak lain dan tidak bukan untuk kembali mengingatkan, jangan lupa datang ke TPS tanggal 17 April 2019 mendatang.

Tegas dan jelas Saya mengingatkan sebagai sebuah harapan bersama, Pilih Capres Nomor 02, H Prabowo Subianto – Sandiaga Uno di surat suara warna abu-abu.

Selepas itu, dengan segala kerendahan hati Saya berharap dan mengajak Bapak/Ibu, Saudara/Saudari dan para Rekan Sejawat fokus ke surat suara warna biru. Cari logo Partai Gerindra, lalu coblos Caleg nomor 7 (tujuh) atas nama, King Hendro Arifin, S.Sos., MH untuk DPRD Provinsi Banten.

Kenapa harus Prabowo – Sandi, Capres yang diusung oleh Partai Gerindra, dan kenapa Caleg yang dipilih harus King Hendro Arifin, S.Sos., MH, dari Partai Gerindra untuk DPRD Provinsi Banten?

Alasannya sederhana dan tidak lain dan tidak bukan dan penjelasan ini tentu bukan hoax. Semata memilih H Prabowo Subianto dan H Sandiaga Uno karena Saya kader Partai Gerindra percaya, bangsa ini dapat maju dan memiliki pondasi bernegara yang kuat, apabila program yang kami usung melalui kemenangan H Prabowo Subianto – H Sandiaga Uno dapat terealisasi. Apa itu pondasi bernegara yang kuat? Akan Saya coba jelaskan dengan padat, singkat dan jelas.

Beberapa tokoh menjelaskan definisi Negara. Dimulai dari John Locke dan Rousseau yang menjelaskan, Negara merupakan suatu badan atau organisasi hasil dari perjanjian masyarakat. Roger F. Soleau menyebut, Negara adalah alat atau dalam kata lain wewenang yang mengendalikan dan mengatur persoalan-persoalan yang bersifat bersama atas nama masyarakat.

Prof. Mr. Soenarko menjelaskan, Negara adalah organisasi masyarakat yang mempunyai daerah tertentu dimana kekuasaan negara berlaku sepenuhnya sebagai suatu kedaulatan.

Prof. Miriam Budiardjo memberikan pengertian Negara adalah organisasi dalam suatu wilayah dapat memaksakan kekuasaannya secara sah terhadap semua golongankekuasaan lainnya dan yang dapat menetapkan tujuan-tujuan dari kehidupan bersama itu. Jadi Negara adalah sekumpulan orang yang menempati wilayah tertentu dan diorganisasi oleh pemerintah negara yang sah, yang umumnya mempunyai kedaulatan (keluar dan ke dalam).

Dari beberapa penjelasan para tokoh dan ahli Tata Negara diatas, dapat kita tarik sebuah kesimpulan dasar bahwa masyarakat adalah obyek yang mempunyai kuasa penuh atas Negara. Masyarakat harus didahulukan kepentingannya dalam sebuah Negara. Terpenting yang harus sama-sama diingat, segala peraturan, perundangan, regulasi dan program kerja harus dan atas persetujuan dan kebutuhan masyarakat luas. Lalu, Negara tidak bisa bertindak atas nama kelompok atau golongan namun, harus atas pertimbangan kebutuhan masyarakat.

Pertanyaannya apakah pondasi bernegara saat ini sudah seperti kesimpulan dasar dan juga dijelaskan oleh para tokoh dan ahli Tata Negara yang disebutkan diatas? Belum? Ya, Saya juga meyakini belum. Terlihat saat ini, banyak kebijakan pemerintahan yang bisa disebut jauh dari semangat Ekonomi Pancasila dan Demokrasi Pancasila.

Contohnya, biaya operasional kereta light rail transit (LRT) Palembang, Sumatera Selatan , digelontorkan sebesar Rp10 miliar dalam sebulan.  Sementara, penghasilan dari operasional LRT Palembang, hanya mendapatkan Rp1 Miliar perbulan dengan total penumpang dalam sehari sekitar 5.000. Dengan pendapatan tersebut, operasional LRT Palembang mengalami kerugian sebesar Rp9 Miliar per bulan.

Tentu siapapun tidak boleh menolak pembangunan  untuk kemajuan bangsa dan negara ini. Dengan catatan, pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan bangsa ini. Bukan pembangunan yang berlandasakan titipan atas kepentingan. Pada posisi inilah harusnya negara hadir untuk memastikan pembangunan berdasarkan kebutuhan masyarakat luas.

Melihat satu contoh yang telah dipaparkan dan menyikapi perkembangan kekininan yang terjadi pada bangsa dan negara ini, maka Saya meyakini dan sangat berharap pembaca dimanapun berada juga mengamini, bahwa solusi cerdas dan akal sehat adalah dengan berperan serta aktif untuk memilih dan memenangkan Prabowo – Sandi pada Pemilu Presiden, 17 April 2019 mendatang.

Saya rasa tidak ada satupun masyarakat dan bangsa ini yang ingin menyalahkan dan menyudutkan pemimpin hari ini atau kemarin. Disisi lain Saya meyakini banyak masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke yang menginginkan perubahan dalam tata kelola Negara yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945.

Tentunya perubahan itu juga dengan dilandaskan doa tentang sosok pemimpin baru yang memiliki semangat juang, memiliki visi, memiliki integritas dan tidak mudah didikte. Juga tegas dan memiliki kemampuan yang cakap, tegas dan memahami cara berkomunikasi yang baik dalam berdiskusi dengan pemimpin atau presiden dari negara lain.

Dan kami Partai Gerindra memiliki dan menawarkan sosok itu adalah Pasangan calon presiden dan wakil presiden, Prabowo Subianto – Sandiaga Uno.

Ingat, Tanggal 17 April, Surat Suara warna abu-abu, Coblos Nomor 02, Capres dan Cawapres H Prabowo Subianto – H Sandiaga Uno. Lalu Surat suara warna biru, Coblos King Hendro Arifin, S.Sos., MH, Caleg nomor 7 dari Partai Gerindra. Salam Akal Sehat, Salam Indonesia Menang.(*)