Kiai NU Bantaeng Meninggal Dunia 1 Jam Setelah Istrinya Berpulang

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Kamis, 20 Agustus 2020
loading...

Indolinear.com, Sulsel – Kabar duka datang dari Sulawesi Selatan. Kiai NU Bantaeng, M Idrus Makkawaru (76 tahun) wafat, Minggu (16/8/2020) malam.

Kiai Idrus meninggal 1 jam seusai menuntun Syahadat Sakratul Maut sang istri tercinta.

Pak Kiai dan istrinya St Sanibah Binti Haruna (74 tahun) berpulang ke Rahmatullah di Katangka, Gowa, perbatasan Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (16/8/2020), malam.

Meninggalnya Kiai Idrus, membawa duka mendalam bagi keluarga dan para kerabat termasuk kepala Kementerian Agama Kabupaten Bantaeng, Muhammad Yunus.

“Almarhum sosok ulama yang telah menorehkan keteladanan dalam kehidupan,” kata Muhammad Yunus, dilansir dari Tribunnews.com (19/08/2020).

Di matanya, Kiai adalah panutan yang benar dalam melaksanakan ibadah sebagai umat Islam.

Walaupun usianya yang sudah senja akan tetapi, ibadah tak putus dijalankan. Tadarus Alquran setiap hari didengungkan.

“Sosok panutan yang benar istikamah dalam ibadah hingga di usianya yang sudah senja masih mampu tadarus Alquran hingga 10 juz setiap hari,” ujarnya.

Selama 11 tahun memimpin Departemen Agama Bantaeng tahun 1989 hingga 2000, menyimpan kesan yang sangat baik bagi keluarga besar kementerian agama pada masanya.

Di akhir kalimat Yunus menyampaikan duka citanya yang mendalam atas meninggalnya sosok Kiai Idrus.

“Kementerian Agama kehilangan tokoh, di tengah duka cita mendalam ini teriring doa semoga almarhum husnul khotimah hingga almarhum dapat menikmati segala kebaikannya semasa hidup di alam kubur. Aamiin Yaa Rabbal Aalamiin,” ucapnya.

Diketahui, Sang Kiai meninggal hanya berselang 1 jam 25 menit, setelah menuntun syahadat sakratul maut istri keduanya.

Istri meninggal pukul 20.00 Wita, seusai mereka salat jamaah Isya.

Dan sang kiai meninggal dunia, berselang 90 menit kemudian, sekitar 21.30 Wita.

“Pak Kiai ini, sepertinya memang sudah janjian, tak akan meninggalkan istrinya,” kata Haji Muhammad Jaelani, Ketua PC Nahdlatul Ulama Bantaeng, kepada Tribun.

Pasangan jenazah ini sempat disemayamkan di rumah duka, Perumahan Gowa Residence, tak jauh dari rumah salah seorang anaknya, di Kompleks Katangka, Gowa.

Di rumah duka, dua jenazah disandingkan.

Jenazah Pak Kiai ditutup dengan batik merah marun dan Alquran di bagian dada.

Sedangkan janazah istrinya dibungkus dengan batuk motif cokelat.

Jenazah pasangan suami istri ini dibawa ke Bantaeng, usai salat subuh.

Jaelani menceritakan, almarhum sejak sepeninggal istri pertamanya, Hj Sitti Djawiah, 6 tahun lalu, Kiai Idris memilih bermukim di Makassar.

Saat Pak Kiai menikah, usia Sanibah sudah 68 tahun.

Dia ditemani St Sanibah Binti Haruna, yang juga masih kerabat mendiang isri pertamanya.

Dari istri pertama, Pak Kiai dikaruniai lima anak; tiga pria dua wanita.

Sedangkan dari mendiang istri terakhirnya, Pak Kiai tak dikaruniai anak.

“Pak Kiai menikah enam tahun lalu, agar ada teman ngobrol, teman ngaji, bangunkan sahur,” kata Jaelani, yang juga Kabag Tata Usaha Kantor Kemenag Bantaeng.

Almarhum menjabat Ketua Pengurus Cabang (PC) Nahdlatul Ulama (NU) Bantaeng periode 1995-2005.

Almarhum adalah guru madrasah dengan jabatan terakhir Kepala Kantor Departemen Agama (Kakandepag) Bantaeng tahun 1989 sampai tahun 2000.

Kiai Haji Idrus Makkawaru dilahirkan di Bantaeng, 8 Juli 1944, atau setahun sebelum Kemerdekaan RI.

Pak Kiai menamatkan sekolah Guru Agama di PGA Makassar tahun 1951.

Lalu meraih gelar sarjana muda tahun 1956 dan strata satu tujuh tahun kemudian di IAIN Alauddin Makassar.

Pak Kiai merintis karier sebagai guru agama di madrasah Bantaeng tahun 1961. Tahun 1980 hingga 1989 diamanatkan sebagai Kasubag TU Kandepag Bantaeng.

Saat itu, Pak Kiai masih aktif mengajar di madrasah, berdakwah di pelosok Bantaeng, Bulukumba, dan Jeneponto.

Tahun 1989 hingga 2000, Pak Kiai juga menjabat Kakandepag Bantaeng.

Almarhum meninggalkan lima anak, Dr H Achamd Mujahid MAg, putra kedua Dr Achmad Musyahid MAg, dosen di Fakultas Syariah UIN Alauddin Makassar.

Putri ketiga dan keempat Pak Kiai adalah Muwahidah Idri SAg, Nurabidah Idrus Mpd, dan si bungsu Akhmad Mujaddin Idrus S.Si.

Semua anak almarhum adalah alumnus pesantren di Sulsel. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: