KH Hasyim Wahid Atau Gus Im Wafat Dikarenakan Gangguan Ginjal

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Minggu, 2 Agustus 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – KH Hasyim Wahid yang akrab disapa Gus Im, adik bungsu Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meninggal dunia, Sabtu (1/8), pukul 04.18 WIB. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di RS Mayapada, Jakarta.

Kabar duka kepergian Gus Im diumumkan keponakannya, Irwan Wahid, putra KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah), dalam cuitannya di akun twitternya @ipangwahid. Jenazah KH Hasyim Wahid disemayamkan di rumah duka di Ciganjur, Jakarta Selatan dan selanjutnya dimakamkan di Pondok Pesantren Denanyar, Jombang, Jawa Timur.

KH Hasyim Wahid merupakan putra bungsu pasangan pahlawan nasional KH Abdul Wahid Hasyim dan Nyai Solichah. Sosok yang akrab disapa Gus Im itu dikenal dekat bahkan menjadi mentor para aktivis, terutama dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU).

Gus Im wafat setelah mengalami gangguan pada ginjal. Ia sempat menerima perawatan intensif selama dua minggu di RS Mayapada. “Ada gangguan pada ginjal. Sudah dua minggu lebih (dirawat, red) di RS,” ucap keponakan Gus Im, Irfan Asy’ari Sudirman Wahid (Ipang Wahid) saat dihubungi awak media, Sabtu (1/8).

Sebelum dikuburkan di Denanyar, jenazah Gus Im disemayamkan sejenak di Gus Yai yang hanya berjarak sekira 50 meter dari Masjid Jami Al Munawwaroh Ginanjar, Jakarta Selatan.

Diiringi Takbir Pelayat

Masjid Jami Al Munawaroh menjadi lokasi salat jenazah Gus Im. Para pelayat berdatangan sejak sekira pukul 10:00 WIB.

Baca: Berita Duka: KH Hasyim Wahid, Adik Gus Dur dan Gus Sholah Meninggal Dunia

Mereka memadati halaman Masjid Jami Al Munawaroh, menyampaikan duka cita yang mendalam atas kepergian cucu pendiri NU tersebut kepada keluarga.

Pelayat yang hadir diantaranya istri Gus Dur Sinta Nuriyah Wahid, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj, Menko PMK Muhadjir Effendy hingga Wakil Ketua DPR RI Muhaimin Iskandar (Cak Imin).

Hadir pula ratusan pelayat dari keluarga besar NU. Salat jenazah Gus Im digelar sebanyak dua kloter untuk mengantisipasi penumpukan jemaah yang mengikuti prosesi salat jenazah.

Jenazah Gus Im diberangkatkan menuju Pondok Pesantren Denanyar lewat jalur darat Sabtu siang sekira pukul 11:11 WIB. Almarhum dibawa menuju Denanyar menggunakan mobil jenazah bernomor polisi B 1377 TYC usai disalatkan di Masjid Jami Al Munawaroh.

Kepergian jenazah Gus Im menuju Jombang diiringi takbir para pelayat yang datang. Pelayat melantunkan takbir ketika jenazah dibawa masuk mobil jenazah, hingga pintu mobil ditutup, dan berangkat menuju Denanyar, Jombang, dilansir dari Tibunnews.com (01/08/2020).

Gus Im, Negarawan yang Peduli Wong Cilik

Partai PDI Perjuangan turut menyampaikan duka cita yang mendalam atas kepergian Gus Im. Nama Gus Im tak asing bagi para kader Banteng Merah.

Tokoh besar NU itu tercatat pernah menjabat salah satu ketua DPP PDI-P pada tahun 1998-2000. Berita kepergian Gus Im telah sampai ke telinga Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. Hal itu disampaikan langsung oleh Sekertaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto.

Hasto mengenang Gus Im sebagai sosok negarawan yang sangat peduli dengan wong cilik. “PDI Perjuangan menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya salah satu tokoh bangsa, sosok negarawan, dan pembela hak-hak wong cilik, KH. Hasyim Wahid, yang akrab dipanggil Gus Im,” ucap Hasto Kristiyanto dalam keterangannya, Sabtu (1/8).

Gus Im, lanjut Hasto, dikenal sebagai sosok yang sangat gigih menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi milenial. Kalangan Muslim pun mempunyai komitmen yang kokoh terhadap Pancasila atas apa yang diperbuat Gus Im. Gus Im, jelas Hasto, juga berhasil meyakinkan para ulama bahwa Pancasila adalah final.

“Apa yang dilakukan Gus Im sebenarnya melanjutkan visi para pendiri bangsa, khususnya kakeknya, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dan ayahnya, KH. Wahid Hasyim, dan kakaknya KH. Abdurrahman Wahid. PDI Perjuangan meneladani seluruh pemikiran pendiri bangsa, termasuk khasanah pemikiran Islam Nusantara yang dihayati okeh keluarga besar NU,” tutur Hasto.

Hasto menceritakan, Adik Kandung Gus Dur itu senantiasa mengajarkan kepada kaum muda agar paham peta geopolitik dan cengkraman kapitalisme global yang semakin menggurita masuk dalam relung-relung negeri kita.

Kesadaran geopolitik yang dibangun Gus Im kepada kalangan milenial menjadi penting agar kita menjadi bangsa yang berdaulat secara politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Hasto menegaskan, warisan pemikiran Gus Im tersebut akan selalu dikenang oleh negeri ini. “Saat ini betul-betul membutuhkan visi kebangsaan yang kokoh dan kesadaran pada geopolitik, sehingga kita dapat memahami bahaya kapitalisme global. Mari kita mendoakan almarhum semoga damai di sisi Tuhan dan seluruh amal baiknya diterima Tuhan Yang Maha Kuasa,” kata Hasto.

“Selamat Jalan Gus Im, doa seluruh keluarga besar PDI Perjuangan terus kami panjatkan kehadapan Ilahi,” tutup Hasto. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: