Kerja Sama Bank Asing Dengan FSA Jepang Akan Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Rabu, 28 April 2021
loading...

Indolinear.com, Tokyo – Untuk mendekatkan diri dan memperlancar bisnis bank di Jepang termasuk bank asing yang ada di Jepang, sangat diharapkan konsultasi dan laporan perbankan yang ada di Jepang kepada lembaga finansial Jepang (FSA), semacam OJK di Indonesia.

“Untuk bank asing memang tidak ada keharusan, tetapi sangat bagus kalau membuat laporan dan konsultasi dengan kami mengenai pelanggan bank di Jepang,” papar sumber FSA dilansir dari Tribunnews.com (27/04/2021).

FSA sempat mengumumkan “Prinsip Operasi Bisnis Berorientasi Pelanggan” beberapa waktu lalu dengan tujuan untuk mewujudkan pembentukan aset yang stabil bagi masyarakat.

Selain itu, dari perspektif memvisualisasikan upaya perusahaan keuangan untuk operasi bisnis yang berorientasi pada pelanggan, serta mewujudkan mekanisme bagi perusahaan keuangan, prinsip yang sama diadopsi dan kebijakan upaya diumumkan.

“Namun kali ini pihak FSA untuk pertama kali akan mengungkapkan lewat situsnya kepada masyarakat lembaga keuangan yang memang sudah melaporkan upaya internalnya kepada pelanggan (masyarakat umum), sehingga dengan demikian masyarakat pun diharapkan dapat semakin percaya dengan bank atau lembaga finansial tersebut,” jelasnya.

FSA telah menyusun daftar perusahaan keuangan yang melakukan kegiatan usaha dan mempublikasikannya pada situs web Badan Jasa Keuangan.

Hingga akhir Desember 2020, terdapat 2.098 perusahaan keuangan yang telah mengadopsi prinsip ini dan mengumumkan kebijakannya.

Pada tanggal 15 Januari 2021, berdasarkan “Laporan Kelompok Kerja Pasar Dewan Keuangan-Menuju Kemajuan Operasi Bisnis Berorientasi Pelanggan (diterbitkan pada tanggal 5 Agustus 2020), Prinsip Operasi Bisnis Berorientasi Pelanggan” (selanjutnya disebut sebagai “Prinsip”) telah direvisi.

Pelaku usaha keuangan yang mengadopsi prinsip ini harus menetapkan kebijakan untuk setiap konten yang ditunjukkan dalam Prinsip 2 sd 7 (termasuk catatan) yang dilampirkan pada mereka dalam kebijakan pendekatan mereka, jika mereka menerapkannya.

Jika tidak diterapkan, diperlukan untuk memasukkan alasan dan tindakan alternatif dalam ekspresi yang mudah dipahami dan dengan jelas menunjukkan status upaya dengan cara yang sesuai.

Selain itu, dalam laporan yang sama, pada saat mempublikasikan daftar usaha yang telah mengadopsi prinsip ini kepada Lembaga Jasa Keuangan, akan dimungkinkan untuk membandingkan kebijakan masing-masing pelaku usaha keuangan dan status upayanya untuk masing-masing item.

Selain itu terhadap fakta bahwa hal itu tepat, maka perlu membandingkan dan menganalisa kasus baik dan kasus buruk yang dilakukan oleh perusahaan keuangan dan secara aktif memanfaatkan website untuk menyebarkan informasi yang mudah dipahami oleh nasabah.

“Jadi sebetulnya banyak memanfaatkan dengan masuknya laporan bank kepada kami lalu kami umumkan di situs, dapat semakin meningkatkan kepercayaan masyarakat Jepang kepada bank tersebut. Apalagi bank asing yang mungkin banyak yang belum dikenal atau belum diketahui masyarakat luas. Dengan kerja sama yang baik, masyarakat pun semakin percaya kepada bank asing tersebut,” tambahnya. (Uli)