Kenali Penyakit Kista, Ciri-Ciri Dan Penyebabnya Yang Perlu diketahui Wanita

FOTO: liputan6.com/indolinar.com
Kamis, 7 Maret 2019

Indolinear.com, Jakarta – Bagi wanita, salah satu penyakit yang paling mengkhawatirkan tentu saja yang terkait dengan alat reproduksi. Menjaga kesehatan reproduksi bagi perempuan sangat penting.

Salah satu penyakit yang banyak menyerang perempuan adalah kista. Penyakit yang satu ini sering tidak disadari kehadirannya oleh si penderita dan bahkan menghilang sebelum dia mengetahui adanya kista tersebut.

Penyakit kista adalah struktur jaringan abnormal seperti kantung yang mengandung gas, zat cair, atau benda semi-padat, dan memiliki dinding luar berbentuk seperti kapsul. Ukuran kista beragam, ada yang kecil dan hanya bisa dilihat melalui mikroskop, ada juga yang berukuran sangat besar.

Penyakit kista dapat tumbuh di bagian tubuh manapun. Berikut penyakit kista, ciri-ciri dan penjelasannya yang dilansir dari Liputan6.com (06/03/2019).

Ciri-ciri Penyakit Kista

Mayoritas kondisi ini tidak memiliki gejala atau tanda-tanda. Malah kadang tidak menyebabkan rasa sakit.

  1. Ciri-ciri kista di payudara
  • Penyakit kista dapat ditemukan pada salah satu atau kedua payudara.
  • Benjolan yang lembut, mudah digerakkan, berbentuk bulat atau oval dengan tepi yang jelas.
  • Puting susu dapat terlihat bening, kuning atau cokelat tua.
  • Nyeri pada area benjolan.
  • Bertambahnya ukuran benjolan dan nyeri sebelum periode menstruasi.
  • Penurunan ukuran benjolan dan resolusi gejala lain setelah periode menstruasi.
  1. Ciri-ciri di kulit

Penyakit kista kulit adalah benjolan berisi cairan yang berada di bawah kulit. Berikut merupakan ciri-ciri kista kulit:

  • Benjolan kecil dan bulat di bawah kulit, biasanya pada wajah, tubuh atau leher.
  • Komedo yang menyumbat pembukaan pada benjolan.
  • Zat kental, kuning, berbau busuk yang kadang keluar dari benjolan.
  • Kemerahan, pembengkakan dan nyeri pada area, jika meradang atau terinfeksi.
  1. Ciri-ciri kista ovarium

Setiap wanita memiliki dua ovarium yang setiap bulannya akan melepaskan sel telur secara bergantian. Terkadang benjolan bisa berkembang di salah satu ovarium. Mungkin kamu pernah mengalaminya tanpa kamu ketahui.

Banyak wanita memiliki kista setidaknya satu kali selama hidupnya. Namun, umumnya ini tidak menyakitkan dan tidak berbahaya. Bahkan, penyakit kista ovarium ini bisa hilang dengan sendirinya tanpa perlu pengobatan.

Namun, yang perlu diwaspadai adalah ketika benjolan ini tidak hilang, malah makin membesar, dan pecah. Benjolan inilah yang biasanya dapat menimbulkan gejala penyakit kista ovarium dan membuat kamu tidak nyaman. Ada dua jenis penyakit kista ovarium yang perlu kamu ketahui, yaitu:

  • Penyakit kista ovarium fungsional. Benjolan ini bisa berkembang karena bagian dari siklus menstruasi. Jenis kista ini tidak berbahaya dan mudah untuk hilang dengan sendirinya. Ini merupakan jenis kista yang paling umum.
  • Penyakit kista ovarium patologis. Benjolan ini berkembang karena pertumbuhan sel yang tidak normal. Biasanya kondisi ini menimbulkan gejala dan perlu perawatan khusus untuk menanganinya. Kista jenis ini bisa jinak atau ganas (kanker).

Gejala Kista Ovarium

  • Nyeri ringan yang menyebar ke punggung bawah dan paha bisa menjadi salah satu ciri- ciri kista ovarium. Nyeri sebelum periode menstruasi mulai, sebelum berakhir atau saat berhubungan intim (dyspareunia).
  • Nyeri saat buang air besar atau tekanan pada usus.
  • Mual, muntah atau nyeri pada payudara yang terasa selama kehamilan.
  • Terasa penuh atau berat pada perut.
  • Tekanan pada kemih yang membuat kamu sering buang air kecil atau kesulitan mengosongkan kemih secara sempurna.

Penyebab Penyakit kista

Berikut ini hal-hal yang dapat memicu atau memperparah kondisi:

  • Kondisi genetik
  • Tumor
  • Infeksi
  • Kelainan pada perkembangan embrio
  • Cacat pada sel
  • Kondisi inflamasi kronis
  • Penyumbatan pada saluran pada tubuh
  • Parasit
  • Cedera

Faktor-faktor yang Meningkatkan Penyakit Kista

  1. Usia

Menurut U.S National Library of Medicine (NLM), wanita yang berusia di antara usia pubertas sampai menopause menempati risiko paling tinggi untuk terkena di bagian ovarium, karena pada masa ini wanita masih mengalami periode menstruasi. Pada saat wanita mengalami menstruasi, munculnya benjolan cairan di ovarium bisa saja terbentuk. Ini bukan menjadi masalah selama benjolan di ovarium bisa hilang dengan sendirinya, tidak membesar, dan tidak menyebabkan gejala.

Kondisi penyebab kista ovarium jarang terjadi pada wanita setelah menopause. Namun, wanita yang sudah menopause dan mempunyai benjolan berisi cairan di ovarium mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk terkena kanker ovarium.

  1. Kemoterapi dengan tamoxifen

Wanita penderita kanker payudara yang pernah menjalankan kemoterapi dengan tamoxifen, memiliki risiko adanya benjolan di ovarium yang lebih tinggi. Tamoxifen dapat menyebabkan terbentuknya benjolan di ovarium. Namun, benjolan berisi cairan ini dapat hilang setelah pengobatan selesai.

  1. Sindrom ovarium polikistik (PCOS)

Wanita yang memiliki sindrom ovarium polikistik mempunyai risiko benjolan di ovarium yang lebih tinggi. Sindrom ovarium polikistik terjadi ketika tubuh tidak memproduksi cukup hormon bagi folikel dalam ovarium untuk melepaskan sel telur.

Akibatnya, terbentuklah benjolan folikel. Sindrom ovarium polikistik juga dapat mengganggu produksi hormon pada wanita, sehingga banyak masalah yang dapat terjadi karena hal ini.

  1. Endometriosis

Endometriosis terjadi saat bagian dari jaringan yang melapisi rahim (endometrium) terbentuk di bagian luar rahim, seperti pada tuba falopi, ovarium, kandung kemih, usus besar, vagina, atau rektum. Terkadang, kantung berisi darah (benjolan/fibroid) terbentuk pada jaringan ini.

Benjolan berisi yang terbentuk karena endometriosis ini disebut dengan endometrioma. Benjolan ini dapat menyebabkan kamu merasa sakit saat berhubungan seksual dan selama periode menstruasi.

  1. Obat penyubur kandungan

Obat penyubur kandungan biasanya dipakai untuk membantu kamu ovulasi (melepaskan sel telur). Seperti gonadotropin, clomiphene citrate, atau letrozole. Hal ini tentu dapat memengaruhi keseimbangan hormon dalam tubuh kamu. Sehingga, penggunaan obat penyubur kandungan juga dapat meningkatkan risiko adanya benjolan di ovarium, seringnya dalam jenis kista fungsional.

Penggunaan obat ini dapat menyebabkan terbentuknya kista dalam jumlah banyak dan dalam ukuran besar pada ovarium. Kondisi ini disebut dengan sindrom hiperstimulasi ovarium (ovarian hyperstimulation syndrome). (Uli)