Kementerian PUPR Selesaikan 65 Bendungan Di Seluruh Indonesia

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Jumat, 4 Oktober 2019

Indolinear.com, Makassar – Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI, menarget 65 pembangunan bendungan selesai di tahun 2024. Hal tersebut diungkapkan oleh Dirjen Sumber Daya Air, Hari Suprayogi, di acara Seminar Nasional Bendungan Besar, yang berlangsung di Hotel Claro, Jl AP Pettarani, Kota Makassar, Kamis (3/10/2019) malam.

Menurut Dirjen SDA, 65 bendungan ini bila sudah mulai beroperasi nanti akan mengairi lebih dari 1 juta hektar areal persawahan yang tersebar di seluruh Indonesia. Ia menjelaskan, dengan ketersediaan air untuk irigasi, akan menghasilkan produksi padi yang melimpah. “Program pemerintah pusat, kita terus menghadirkan bendungan-bendungan, agar produksi pangan di Indonesia semakin baik dan terjamin,” katanya, dilansar dari Tribunnews.com (03/10/2019).

Dari 65 ini, empat didalamnya terdaapat di Sulsel, diantaranya Bendungan Karaloe, Pamukkulu, Passellorang, dan Jenelata (belum dikontrak).

Pada acara yang sama, Gubernur Sulsel M Nurdin Abdullah yang didapuk membuka acara mendukung ucapan Dirjen SDA dengan mengapresiasi banyaknya pembangunan bendungan di Sulsel. Hal ini dikarenakan Provinsi Sulsel memang dikenal sebagai lumbung padi dan membutuhkan dukungan ketersediaan air untuk tetap mewujudkan julukan tersebut.

Gubernur mengatakan bahwa hadirnya bendungan, waduk dan pengelolaan air sangat penting, karena berhubungan dengan kepentingan orang banyak.

“Seminar ini sangat penting sekali. Hari ini kita bicara soal sumber daya air di Sulawesi Selatan, tentu menjadi tanggung jawab kita semua karena dalam sejarah Sulawesi Selatan memang dari dulu menjadi penyangga pangan nasional,” kata Nurdin.

Di Sulsel telah hadir Bendungan Bili-bili mendukung pertanian yang ada di Sulsel termasuk serta mengendalikan banjir.

Demikian juga dengan potensi pembangunan bendungan yang ada. Seperti Bendungan Karalloe dan Pamukkulu.

“Potensi pembangunan bendungan di Sulsel sangat besar. Karalloe dan Pamukkulu saya kira kalau selesai, Kabupaten Jeneponto dan Takalar akan unggul dengan cepat, lahannya luas tetapi persoalannya air,” sebutnya.

Sehingga Ia berharap bisa selesai tepat waktu dan manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat.

Demikian juga dengan Bendungan Sungai Rongkoh yang memiliki sumber air yang besar di Luwu Utara dan bendungan lainnya.

Nurdin menyampaikan soal koordinasi berjalan dengam baik untuk pembangunan atau jika ada masalah timbul. “Di Sulsel kompak, selalu berkoordinasi jika ada masalah. Sekarang kalau ada masalah semua ribut semua untuk bergerak untuk menyelesaikan masalah,” ujarnya

Sedangkan masalah yang dihadapi ke depan. Adalah alih fungsi lahan dan erosi. Ia menegaskan berkoordinasi dengan pihak Polda Sulsel dan Kejati Sulsel jika ada yang melanggar untuk ditindak  tegas.

Diakhir sambutan, menyampaikan terima kasih kepada Jokowi melalui Menteri PUPR dengan mengantisipasi kelangkaan air untuk sektor pertanian di Sulsel dengan melakukan pembangunan bendungan.

Ia juga memaparkan bahwa di Sulsel pertanian non waduk jumlahnya masih sangat tinggi. Dengan waduk itu masih 11 persen.

“Semoga setelah jadi dan semakin baik. Dan Sulsel siap menjadi penyangga Ibu Kota baru yang ada di Kalimantan Timur,” pungkasnya.

Diacara yang bertajuk ‘Tantangan Penyelesaian Pembangunan dan Pengelolaan 65 Bendungan serta Keberlanjutan Program di Masa Mendatang’ ini juga diluncurkan buku berjudul Manajemen Pelaksanaan B Menurutnya endungan Tipe Urugan. (Uli)