Kemenristekdikti Tak Pandang Bulu Tindak Perguruan Tinggi

Jumat, 30 Oktober 2015
Berita Utama | Uploader Arif
loading...

JAKARTA – Salah satu pekerjaan rumah Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dalam satu tahun terakhir, yakni mengusut perguruan tinggi yang melakukan pelanggaran.

Menristekdikti, Mohamad Nasir mengungkapkan, tidak pandang bulu dalam menindak kampus-kampus bermasalah dengan memberikan berbagai sanksi.

“Kalau kampus yang nonaktif itu diberi pembinaan. Mereka tidak boleh menerima mahasiswa baru dulu. Kalau mau wisuda harus lapor kepada Kemenristekdikti melalui Kopertis,” ujarnya di Gedung BPPT, Jakarta, Jumat (30/10/2015).

Saat ini, ucap Nasir, sudah ada tiga perguruan tinggi yang kasusnya dibawa ke kepolisian lantaran tidak punya izin dan terlibat penyaluran ijazah palsu.

“Ada tiga kampus, yaitu di Jakarta, NTT, dan satu lagi di Sumatera. Penyebabnya kalau yang di NTT memberikan gelar yang tidak sesuai. Yang di Jakarta dan Sumatera tidak ada izin. Saat ini, ada juga yang sedang dalam proses, yakni di Bali dan Sulawesi,” imbuhnya.

Nasir menjelaskan, jumlah pelanggaran pada perguruan tinggi relatif berkurang. Terutama bagi yang menyebarkan ijazah palsu sudah tidak ada lagi karena langsung ditutup. Menurutnya, saat ini pelanggaran yang terjadi tinggal di ranah akademis saja.

“Kalau yang kurang rasio dosen pembinaannya melalui NIDK. Kemudian memanggil rektor PTN yang prodinya mengalami masalah rasio dosen. Semuanya akan dicek disesuaikan dengan pangkalan data. Seperti tidak boleh buka kelas jauh, kecuali memang ditunjuk langsung dengan Kemenristekdikti,” terangnya.

Mantan Rektor Universitas Dipenogoro (Undip) ini menegaskan, pelanggaran yang dilakukan oleh kampus tidak boleh merugikan mahasiswa. “Kalau kampus nonaktif proses perkuliahan masih bisa berjalan,” tutupnya. (afr/ful)

Sumber : okezone.com

loading...