Kemenperin Menggandeng Ribuan IKM Guna Proyek Mobil Pedesaan

liputan6com/indolinear.com
Rabu, 15 November 2017
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Sebagai proyek yang dipercaya mampu menumbuhkan gairah industri otomotif nasional, kendaraan pedesaan terus didorong untuk secepatnya berjalan di pasar otomotif Tanah Air.

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian perindustrian (Kemenperin) terus berusaha mengembangkan mobil karya anak bangsa ini. Bahkan, progres pengembangan prototipe kendaraan pedesaan yang dilakukan Kemenperin, di antaranya proses pengujian, seperti teknis, laik jalan di Kementerian Perhubungan, emisi di Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT), dan durability (umur pakai) sampai 100 ribu km.

Kemenperin sendiri juga telah memfasilitasi pendalaman struktur industri kendaraan pedesaan melalui pembinaan terhadap industri komponen, seperti kepada anggota Perkumpulan Industri Kecil dan Menengah Komponen Otomotif (PIKKO).

“Sehingga sudah ada calon-calon pemasok komponen kendaraan pedesaan dari industri dalam negeri,” tutur Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, ketika mengunjungi Bengkel Kiat Motor di Klaten, Jawa Tengah, seperti disitat di laman resmi Kemenperin.

Sementara itu, menurut Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, I Gusti Putu Suryawirawan, kendaraan pedesaan didesain dengan memaksimalkan kemampuan industri dalam negeri melalui penggunaan komponen yang dibuat oleh industri kecil dan menengah (IKM).

“Jadi, spare part mudah didapat di pasaran dan pemilihan teknologi sesuai dengan kondisi demografi di Indonesia,” jelasnya.

Implementasi

Untuk implementasinya, Kemenperin bakal menggandeng sentra-sentra IKM komponen otomotif yang ada di Tegal (50 IKM), Klaten (10 IKM), Purbalingga (138 IKM), Sidoarjo (134 IKM), Juwana (30 IKM), Pasuruan (49 IKM), Sukabumi (20 IKM) dan Bandung (15 IKM). Selain itu, Kemenperin menggandeng 123 IKM yang tergabung dalam PIKKO.

Selanjutnya, Kemenperin juga bakal menggandeng 250 IKM karoseri yang ada di Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Lampung dan Sumatera Utara. Selain itu, diajak juga 600 IKM alat dan mesin pertanian di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur. (Uli)