Kematian Henry VII, Raja Tudor Pertama Di Inggris

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Jumat, 22 Mei 2020

Indolinear.com, Jakarta – Para pecinta sejarah atau serial TV Inggris pasti mengenal nama Tudor. Nama itu adalah pemersatu Perang Mawar di Inggris yang berkecamuk selama abad ke-15.

Kekuasaan Tudor di Inggris dimulai oleh Henry Tudor atau yang dikenal sebagai Henry VII. Mungkin tidak ada yang menyangka bahwa Tudor akan menjadi penguasa di Inggris, sebab Perang Mawar terjadi antara keluarga Lancaster dan York.

Perang Mawar adalah konflik yang terjadi karena tiadanya sosok kuat di takhta Inggris setelah wafatnya Raja Henry V yang terkenal kuat pada 31 Agustus 1422.

Ketika Henry V wafat, putranya yakni Henry VI masih bayi, sehingga secara teknis urusan kerajaan jatuh ke tangan orang kepercayaan Henry V.

Sang raja meninggalkan istri muda bernama Catherine dari Valois. Ternyata, Catherine memadu asmara dengan pria bernama Owen Tudor dan melahirkan dua orang putra.

Waktu berlalu dan Henry VI mulai dewasa. Berbeda seperti pendahulunya, Henry VI dikenal sebagai sosok raja yang lemah.

Menurut buku The Wars of the Roses tulisan Dan Jones, di era yang rapuh ini muncul sosok Richard, Adipati York, bermanuver untuk mendapat porsi lebih banyak mengurus Kerajaan Inggris. Tentunya, sikap Adipati York mendapat sambutan dingin dari kubu Henry VI yang disebut Lancaster.

Konflik York dan Lancaster dikenal sebagai Perang Mawar karena lambang York adalah mawar putih dan lambang Lancaster adalah mewar merah.

Raja Henry VI kurang berdaya melawan tekad Adipati York. Namun, Henry VI disokong banyak pihak, termasuk istrinya, Ratu Margaret dari Anjou, yang ikut turun tangan mengendalikan Inggris dan melawan kubu York.

Perang antara kedua faksi ini sangat berdarah dan penuh plot twist. Tak heran penyair seperti William Shakespeare hingga sutradara modern sering menulis mengenai Perang Mawar.

Kubu York tampak sudah hampir memenangkan Perang Mawar setelah berhasil menangkap Henry VI, menghabisi putranya, dan mengalahkan Ratu Margaret.

Menjelang penutup, sosok Henry Tudor tampil sebagai pemersatu, dilansir dari Liputan6.com (20/05/2020).

Mawar Merah dan Mawar Putih

Kubu York unggul di Perang Mawar berkat kepemimpinan yang kuat dari Edward, putra dari adipati Richard.

Edward berhasil menyingkirkan Henry VI, dan ia dikenal sebagai Edward IV. Ia pun berhasil menumpas perlawanan terakhir dari Margaret of Anjou di Pertempuran Wakefield (1460).

Kejayaan Edward tak terlepas dari dukungan kedua adiknya: George dan Richard.

Sayangnya, tragedi muncul di keluarga mawar putih.

George dieksekusi Edward karena memberontak terhadap kakaknya. Setelahnya, Edward dan Richard bersama-sama membangun Inggris.

Raja Edward IV mangkat pada 9 April 1483 dan meninggalkan dua orang putra: Edward dan Richard.

Tak disangka, Edward dan Richard malah hilang di Menara London. Diduga, mereka dibunuh Richard yang merupakan paman mereka sendiri. Tragedi ini membuat kedua pangeran muda itu dijuluki Pangeran di Menara (Princes in the Tower).

Kecurigaan Richard sebagai pembunuh bukanlah tanpa alasan, sebab kematian dua pangeran itu membuat Richard naik takhta menjadi Raja Inggris. Nama Richard dikenal sejarah sebagai Raja Richard III.

Manuver Richard membuat geger keluarga kerajaan Inggris, terutama loyalis Edward IV. Bab baru dalam sejarah tertulis: loyalis Edward IV memutuskan bekerja sama dengan sisa kubu Lancaster karena tak terima dengan manuver Richard III.

Henry Tudor yang keturunan Owen Tudor dan masih satu ibu dengan raja kubu Lancaster, merupakan tokoh sentral di penghujung konflik ini.

Henry Tudor lantas berjanji menikahi Elizabeth of York, putri dari Raja Edward IV. Ini dilakukan untuk mendukung klaimnya sebagai raja jika menang melawan Raja Richard III.

Pertempuran terakhir antara koalisi Tudor dan Richard III terjadi pada 1485.

Mawar Tudor

Pada 22 Agustus 1485, pasukan Tudor dan Richard III bertemu di Leicestershire yang terletak pada jantung wilayah Inggris.

Pasukan Raja Richard III sejatinya jauh lebih banyak. Dan lagi-lagi muncul kejutan di tengah peperangan. Pasukan Tudor mendapatkan bala bantuan dari keluarga Stanley, dan Richard III tewas di peperangan ini.

Kematian Richard III membuka jalan bagi Henry Tudor untuk mempersatukan Inggris dari konflik York dan Lanchaster yang berjalan hampir satu abad.

Henry Tudor menepati janjinya untuk menikahi Elizabeth, putri dari Raja Edward IV yang berasal dari kubu York.

Tidak ada lagi mawar putih dan mawar merah. Yang ada hanya mawar tudor, yakni kombinasi dari dua mawar tersebut.

Raja Henry VII memerintah selama hampir 25 tahun dan ekonomi Inggris menguat berkatnya. Ia tutup usia pada 21 April 1509 di Richmond Palace, London.

Kisah keluarga Tudor tidak berakhir di sini.

Penerus dari Henry VII adalah Henry VIII, seorang sosok yang sangat kontroversial dalam sejarah. Henry VIII menikahi banyak istri, mulai dari Catherine of Aragon, Anne Boleyn, dan Jane Seymour.

Melalui pernikahan dengan Catherine, Henry memiliki seorang putri bernama Mary yang kemudian dikenal sebagai Bloody Mary.

Dan melalui pernikahan dengan Anne Boleyn, Henry memiliki putri lain yang bernama Elizabeth I yang menorehkan reputasi besar dalam sejarah dunia. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT:

Berita Menarik Lainnya