Kelapa Sawit Bukan Hanya Minyak Goreng, Milenial Wajib Tahu Manfaatnya

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Selasa, 1 September 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Kelapa sawit dianggap sebagai biang keladi kerusakan lingkungan. Belum lagi belakangan ini banyak isu negatif termasuk mengalami diskriminasi di Uni Eropa.

Yang jadi pertanyaan, benarkah tuduhan tersebut?

Melalui kegiatan Digitalk Sawit, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) berusaha menjawab hal itu.

Kegiatan Digitalk tersebut juga sekaligus mengajak milenial untuk mengenal manfaat Sawit dalam kehidupan sehari-hari.

Manfaatnya bukan hanya untuk produksi minyak goreng. Tapi lebih daripada itu.

Menurut Wulan Suling, Head of Corcomm Sinarmas Agribusiness & Food, produk yang dihasilkan kelapa sawit sebetulnya jauh lebih banyak dari yang selama ini dibayangkan.

Misalnya, shampo, sabun, rinso, makanan, kosmetik dan banyak lagi lainnya.

“Yang jelas saat ini sawit itu sudah menjadi kebutuhan (needs) buat manusia. Makanya kenapa kita gencar melakukan kampanye ke masyarakat yang lebih dewasa seperti pekerja di perusahaan-perusahaan. Meski tak dipungkiri, jika mengacu hasil survei, remaja paling banyak terkena kampanye negatif dari sawit,” jelas Wulan, dilansir dari Tribunnews.com (31/08/2020).

“Padahal perlu diingat bahwa perkebunan dan industri sawit Indonesia saat ini telah dikelola dengan prinsip-prinsip sustainability yang memperhatikan aspek lingkungan dan sosial. Dari hasil sawit ini kemudian kita bisa memproduksi banyak kebutuhan hidup manusia seperti minyak goreng, shampo, sabun, rinso, makanan, kosmetik dan banyak lagi lainnya. Semua produk ini dapat ditelusuri sumbernya berasal dari sawit yang ditanam tanpa merusak lingkungan” ujar Wulan.

Sementara itu Djono Albar sebagai pekebun sawit milenial sekaligus menjadi pembicara dalam Digitalk Sawit menyampaikan, generasi milenial harus paham tentang sawit yang memiliki banyak manfaat dan punya dampak ekonomi atas hajat hidup orang banyak.

Ia berharap acara literasi dengan digitalk ini mampu membuka mata generasi milenial, mahasiswa, pengusaha pemula, dan lainnya untuk mengenal lebih dalam soal sawit dan produk-produk turunannya, serta peluang-peluang yang bisa diciptakan dari kelapa sawit.

Bahkan, Djono juga pernah mencatat, bah

wa pada tahun 2017 kemarin industri ini menyumbang devisa sebesar US$23 miliar atau setara Rp300 triliun, dan saat ini juga tetap menjadi penyumbang devisa ekspor terbesar bagi Indonesia.

Selain produk kebutuhan rumah tangga, Djono menyebutkan bahwa sawit juga bisa menjadi alternatif sumber energi terbarukan yang jauh lebih ramah lingkungan. Biodiesel sawit yang secara emisi sangat ramah lingkungan bisa menggantikan ketergantungan masyarakat selama ini terhadap energi minyak bumi.

Dalam kesempatan yang sama selebgram Agatha Priscilla yang dalam acara tersebut hadir sebagai penghibur mengaku sangat exited sekali mengikuti jalannya diskusi Digitalk Sawit dengan hashtag #GueGenerasiSawit.

Banyak hal yang semula sama sekali tidak diketahuinya terkait sawit jadi bertambah wawasannya.

Karena itu, banyak hal ke depannya yang akan disampaikan dirinya terkait sawit kepada followernya di sosial media yang sudah berjumlah lebih dari satu juta itu.

“Aku cuma tahu kalau sawit itu hanya bisa digunakan sebagai bahan dasar dari minyak goreng. Kosmetika juga pernah dengar tapi hanya sekilas aja. Padahal kenyataannya hampir sebagian besar kebutuhan manusia itu, bahan dasarnya adalah dari sawit,” ucap Agatha.

Seperti diketahui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) mencatat bahwa hingga saat ini sedikitnya 4,2 juta tenaga kerja langsung dan 12 juta tenaga kerja tidak langsung telah menggantungkan hidupnya pada operasional bisnis sawit di Indonesia.

Ada sekitar 2,4 juta petani swadaya yang terlibat dan secara total 4,6 juta pekerja lain yang masuk dalam ekosistem industri sawit nasional. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: