Kekasih Tewas Di Titanic Wanita Ini Melajang Seumur Hidup

liputan6com/indolinear.com
Senin, 6 November 2017
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Tenggelamnya RMS Titanic merupakan kisah tragis. Apalagi, kapal itu disebut-sebut sebagai kapal termegah pada zaman itu yang konon ‘tak bisa tenggelam’.

Namun, takdir berkata lain, Titanic harus karam pada pelayaran perdananya, setelah menabrak gunung es raksasa di Samudera Atlantik, dini hari 15 April 1912.

Lebih dari 1.500 orang kehilangan nyawa pada malam itu, dan sekitar 2.200 penumpang beserta awak kapal terpaksa terjun menyelamatkan diri ke perairan Atlantik yang beku.

Sudah lebih dari satu abad sejak RMS Titanic mengisi halaman depan surat kabar di seluruh dunia. Dan hingga kini, kisah tragis seputar kapal megah itu terus menjadi buah bibir sejumlah kalangan, serta menjadi contoh tentang ‘peringatan atas kesombongan manusia’.

Salah satu kisah yang menggugah hati tentang tenggelamnya Titanic adalah pengalaman pribadi orang-orang yang selamat dari peristiwa nahas itu. Misalnya, kisah pengalaman Jennie Louise Hansen yang harus dirawat di rumah sakit di New York selepas terombang-ambing di perairan Atlantik.

Bagi Hansen, peristiwa tenggelamnya Titanic sangat membekas hingga ke urat-sarafnya. Dia benar-benar tidak mampu meneteskan air mata, serta kerap menderita mimpi buruk yang mengerikan.

Ada juga pengalaman menyentuh soal korban Titanic lainnya. Ia seorang perempuan, namanya Berthe Antonine Mayne.

Lahir di Ixelles, Brussels, pada tahun 1887, Mayne meniti karier sebagai penyanyi kabaret terkenal. Seperti dikutip dari Liputan6.com (04/11/2017), sebuah surat kabar Belgia bernama ‘Het Laatste Nieuws‘ sempat mewartakan kiprah cemerlangnya di dunia tarik suara, serta terkenal di kalangan borjuis Belgia.

Pada 1911, Mayne bertemu seorang pemain hoki es muda kelahiran Montreal, Kanada, bernama Quigg Edmond Baxter. Mereka berdua pun dengan cepat menjadi sepasang kekasih.

Sebelum bertemu dengan Mayne, Baxter termasuk peselancar hoki es yang telah berstatus bintang. Namun, karier cemerlangnya harus kandas setelah mengalami cedera akibat pukulan stik hoki yang menyasar ke matanya pada sebuah pertandingan.

Pensiun dini dari dunia hoki es, pemuda asal Montreal itu pergi melancong ke Eropa bersama ibu dan adik perempuannya.

Hingga pada suatu ketika, semasa ia di Eropa, Baxter bertemu dengan Mayne yang sedang menjadi penari di sebuah kafe di Brussels.

Jatuh hati dengan karisma Mayne, Baxter bersikeras mengajak sang diva Brussels untuk pulang bersama ke Montreal Kanada agar mampu meminangnya.

Mayne, Baxter, beserta ibu dan adik perempuannya pun membeli tiket pulang kelas satu menggunakan RMS Titanic. Mereka berlayar menaiki Titanic dari Cherbourg Prancis, selepas dari titik tolak keberangkatan awal sang kapal megah di Southampton Inggris.

Bagi Mayne, berlayar bersama Titanic merupakan pengalaman terindah yang pernah ia rasakan seumur hidupnya. Apalagi ia pergi bersama seorang pria yang sangat mencintainya. Kebahagiaan serupa turut dirasakan oleh Baxter yang tak sabar membangun mahligai rumah tangga bersama sang diva Brussels.

Nahasnya, seperti yang sudah terekam jelas dalam rekam sejarah, kebahagiaan Mayne, Baxter, beserta ribuan penumpang Titanic lain tak berlangsung lama.

Pada malam 15 April 1912, –saat Titanic tengah berlayar di Samudera Atlantik– Baxter yang tengah tidur pulas di ruang tidurnya dibangunkan oleh sang Ibunda yang penasaran mengapa kapal berhenti tiba-tiba di tengah perjalanan.

Baxter yang dibangunkan oleh sang ibu pun melangkah keluar dari kamarnya untuk mencari tahu situasi yang tengah terjadi. Mantan atlet hoki es itu menyaksikan kapten kapal Edward Smith tengah berbicara dengan pejabat maskapai White Star –perusahaan pengelola Titanic– yang bernama Bruce Ismay, salah satu pria yang juga menjadi penyintas.

Melihat Baxter yang kebingungan, Kapten Smith berkata, “Ada kecelakaan Baxter, tapi semuanya tidak apa-apa”. Namun, selepas Smith beranjak pergi, Ismay mengimbau kepada Baxter agar segera membawa keluarganya menuju sekoci penyelamat.

Mendengar imbauan tersebut, Baxter, ibu dan adik perempuannya, serta Mayne segera beranjak ke sekoci yang tersedia saat itu, yakni sekoci nomor 6.

Namun, karena hanya perempuan dan anak-anak yang diprioritaskan untuk naik ke sekoci, Baxter tidak dapat ikut. Melihat pria yang dicintainya tak dapat ikut, Mayne menolak untuk naik ke atas sekoci.

Akan tetapi sang diva Brussels berhasil diyakinkan untuk naik ke atas sekoci nomor 6, tanpa Baxter di sisinya.

Selepas orang-orang terkasihnya mulai pergi menggunakan sekoci nomor 6, Baxter melambaikan tangan mengucapkan selamat tinggal. Sisanya tinggal kenangan, sang atlet hoki es itu ikut tenggelam bersama RMS Titanic dan jasadnya tak berhasil diselamatkan.

Setelah tenggelam, Mayne sempat tinggal bersama keluarga Baxter di Montreal selama beberapa bulan. Merasa hampa tanpa kehadiran Quigg Baxter –pria yang dicintainya– di sisinya, Mayne memutuskan untuk menata hidup baru, kembali ke Eropa untuk tinggal di Paris, dan melanjutkan kariernya di dunia tarik suara.

Dan sejak itu, tak pernah ada laki-laki lain yang mampu mengisi relung hati sang diva, selain Quigg Baxter. Mayne pun memutuskan untuk tidak menikah, hingga di penghujung hayatnya pada 1962, di usia 75 tahun.

Pengalaman Mayne di Titanic sempat diceritakan kepada seorang handai-taulan, dan dikonfirmasi lewat sejumlah barang-barang pribadi –seperti dokumen dan foto– yang disimpan di sebuah kotak sepatu.

Kini, barang-barang itu jadi saksi bisu, kisah diva Brussels di kapal Titanic yang pilu. (Uli)