Kasus Risma, Kapolri Akui Ini yang Jadi Penyebabnya

Selasa, 27 Oktober 2015
Jakarta | Uploader Arif
loading...

JAKARTA – Pihak kepolisian akhirnya mengakui bahwa penetapan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharani sebagai tersangka kasus Pasar Turi akibat dari kelalaian aparat

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, mengatakan pihaknya terlambat mengirim Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) ke Kejaksaan.

“Dari hasil gelar perkara diputuskan bahwa perkara tersebut memang tidak memenuhi unsur tindak pidana,” kata Bandrodin di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK-PTIK), Jakarta, Senin (26/10/2015).

Badrodin mencoba merunutkan ihwal penetapan tersangka tersebut. Ia mengatakan, penanganan kasus tersebut sudah dilakukan sejak Mei lalu. Kemudian dilakukan pemeriksaan kepada pelapor dan saksi-saksi. Pada 25 September, diadakan gelar perkara dan memang tidak ditemukannya unsur pidana. Setelah itu, disimpulkan perlu dibuat surat perintah penghentian perkara (SP3).

Tapi, untuk menerbitkan SP3 kepolisian harus terlebih dahulu membuat Surat Perintah Dimulainya Penyelidikan (SPDP). Sedangkan surat tersebut baru dikirim ke Kejaksaan pada tanggal 29 September lalu.

“Sayangnya, surat penghentian yang kami buat belum dikirim ke kejaksaan,” kata Badrodin. Menurut dia, dalam penerbitan SP3, Direktorat Kriminal Umum (Dikrimum) saat itu sudah dimutasi pada tanggal 22 September, sedangkan penggantinya sedang melaksanakan ibadah haji.

Namun apa yang dilakukan oleh anak buahnya kata Badrodin sudah benar. Di dalam SPDP kata dia, juga disebutkan bahwa Risma bukan sebagai tersangka, melainkan ‘diduga dilakukan oleh Tri Rismaharini’. “SPDP tidak disebutkan sebagai tersangka. Kenapa? Karena kalau disebut tersangka nanti bisa dipraperadilankan,” kata Badrodin.

Seperti diberitakan sebelumnya, Tri Rismaharini diduga menjadi tersangka dalam perkara penyalahgunaan wewenang terhadap pemindahan kios sementara pedagang Pasar Turi Surabaya. Risma dijerat dengan Pasal 421 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang penyalahgunaan kekuasaan, memaksa seseorang untuk melakukan, tidak melakukan, atau membiarkan sesuatu.

(ril)

Sumber : pojoksatu.id