Kapal Pengawal MSDF Jepang Bakal Diproduksi Di Indonesia

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Jumat, 14 Mei 2021
loading...

Indolinear.com, Tokyo – Akhir  bulan Maret, pemerintah Jepang dan Indonesia mengadakan Pertemuan Tingkat Menteri Luar Negeri dan Pertahanan (2 plus 2) di Tokyo dan menandatangani perjanjian relokasi.

Perjanjian tersebut menetapkan bahwa peralatan yang akan ditransfer harus dikelola dengan baik, dan merupakan kerangka hukum yang sangat diperlukan untuk transfer peralatan.

“Sebenarnya di awal kita proses penyesuaian dengan mengundang Menteri Pertahanan Prabowo untuk merundingkan relokasi kapal, dan 2 plus 2 adalah retrofit. Akibatnya, pihak Jepang menyelesaikan prosedur internal pemerintah mengenai perjanjian tersebut dengan kecepatan yang tidak biasa dalam pada saat meeting 2 tambah 2, dan pembicaraan dengan Indonesia dipercepat,” ungkap sumber yang dilansir dari Tribunnews.com (13/05/2021).

Dalam produksi bersama perlengkapan militer tersebut, akan terlebih dahulu membangun beberapa kapal yang memenuhi kebutuhan TNI AL berdasarkan kapal pengawal Jepang MSDF (Marine Self Defense Force), kemudian memindahkan pangkalan ke galangan kapal Indonesia sambil mentransfer teknologi untuk membangun beberapa kapal.

“Pertimbangkan rencana tersebut. Skala bisnisnya diperkirakan mencapai beberapa ratus miliar yen,” tambahnya.

Seorang pejabat tinggi pemerintah Jepang mengungkapkan, “Prabowo melihat Jepang sebagai favoritnya. Namun, pemerintah Indonesia bukanlah monolit, dan ada banyak pandangan bahwa Jepang dan Italia dipertimbangkan dan peluang menang adalah lima puluh lima puluh.”

Seorang pejabat senior lainnya menganalisa bahwa, “Indonesia sedang melihat ke tiga arah.” Ketiga arah itu adalah Jepang, Italia, dan China.

Indonesia memiliki jumlah impor dan ekspor terbesar dari China, dan vaksin corona baru dipasok dengan vaksin buatan China.

Italia berpartisipasi dalam inisiatif zona ekonomi raksasa China “One Belt, One Road”.

Ada resiko China akan menyelinap masuk ke relokasi kapal dari Jepang, Indonesia juga akan melihat corak China, dan akan terbang ke  Itali, tambahnya menganalisa kemungkinan yang ada.

Produksi bersama dan ekspor yang dapat dikenali di bawah tiga prinsip alutsista adalah kasus-kasus yang memiliki “signifikansi positif” dalam kaitannya dengan keamanan Jepang, dan wilayah laut di mana Indonesia terancam oleh China merupakan titik kunci jalur laut Jepang.

Produksi bersama akan meningkatkan kemampuan koping dan teknologi Indonesia, berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas kawasan, dan berkontribusi pada kepentingan nasional Jepang.

Memperkuat hubungan dengan Indonesia, yang merupakan wiraswasta pemimpin ASEAN (Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara), memiliki arti yang berlapis-lapis, dan pemerintah perlu bekerja sama dengan baik untuk menerima pesanan. (Uli)