Kantor Mobil Nasional Vietnam Mulai Beroperasi Di Amerika Utara Dan Eropa

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Senin, 19 Juli 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Pabrikan mobil Vinfast telah membuka kantornya di Amerika Utara dan Eropa. Produsen mobil nasional Vietnam ini akan bergabung dengan banyak pemain yang ingin merayu pelanggan dengan mobil listrik pintar, demikian dilansir Liputan6.com (17/07/2021).

Vinfast sendiri, merupakan unit dari konglomerat terbesar Vietnam Vingroup JSC, dan menjadi produsen mobil domestik pertama yang benar-benar matang di negara tersebut.

Bahkan, pabrikan ini mampu membangun model bertenaga mesin yang telah diluncurkan pada 2019.

VinFast telah mendirikan kantor perwakilan di lima pasar internasional, dan akan segera membuka showroom di California. “CEO VinFast USA telah pindah ke AS dari Vietnam baru-baru ini,” tulis perusahaan itu.

Dikatakan Ketua Vingroup Pham Nhat Vuong dalam pertemuan tahunan perusahaan pada Juni lalu, perusahaan telah menetapkan target penjualan 56.000 unit kendaraan listrik pada 2022, tetapi telah diturunkan menjadi 15.000 unit karena kekurangan chip global.

VinFast, yang mencapai penjualan tahunan sekitar 30.000 unit tahun lalu di Vietnam, belum menghasilkan keuntungan.

Dalam sebuah wawancara dengan Reuters pada April, CEO VinFast USA mengatakan bahwa mereka bertaruh pada skema penyewaan baterai dan berencana melakukan sebagian besar penjualannya di AS secara online, menghilangkan kebutuhan akan jaringan dealer yang mahal.

Mobil listrik

Perusahaan juga mengatakan dua model mobil listrik, VF e3sa5 dan VF e36, akan diluncurkan secara resmi pada Maret 2022.

Untuk mendukung pertumbuhannya, VinFast akan membutuhkan lebih banyak uang. Itu ditandai pada April lalu, bahwa akan mempertimbangkan penawaran umum perdana di Amerika Serikat atau merger dengan Perusahaan Akuisisi Tujuan Khusus.

Namun, sumber mengatakan kepada Reuters pada Mei 2021, penawaran VinFast yang dijadwalkan untuk kuartal kedua dan dapat membantu perusahaan mengumpulkan setidaknya US$2 miliar menghadapi penundaan. (Uli)