Kangkung, Umum Dikonsumsi Di Asia Namun Ilegal Di Amerika Serikat

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Minggu, 12 Januari 2020

Indolinear.com, Jakarta – Kita warga Indonesia, dan negara-negara di Asia mengenal satu senis sayuran bernama Kangkung.

Kangkung adalah sayuran yang memiliki batang yang panjang dan berongga.

Biasanya disajikan sebagai lauk, dimasak bersama irisan bawang putih, air, sedikit garam, dan sedikit perasa umami dari MSG.

Di Asia Tenggara, kangkung juga bisa diolah dengan ditambah cabai, terasi, serta dibumbui dengan kecap.

Di belahan bumi barat, kangkung bisa disebut dengan chinese water spinach alias bayam air China.

Namun sebenarnya, kangkung bukan termasuk dalam keluarga tanaman bayam.

Tentang kangkung

Dilansir dari Tribunnews.com (11/01/2020), kangkung memiliki nama ilmiah ipomoea Aquatica merupakan tanaman dari genus morning glory.

Hal tersebut lantaran kangkung memiliki bunga berbentuk terompet yang mekar penuh ketika pagi hari.

Hal yang paling menarik dari sayuran ini adalah memiliki batang yang tebal dan berongga.

Kondisi yang demikian membuat kangkung dapat menyerap rasa dari bumbu-bumbu yang diberikan dalam pengolahan masakan.

Selain itu, kangkung juga bisa dimasak dengan dua tekstur yang berbeda.

Baik renyah maupun lembut, kangkung masih bisa diikonsumsi tanpa mengurangi kelezatannya.

Berdasarkan catatan sejarah, pada Dinasti Ming (1368-1644) mengatakan kangkung datang ke China dari Asia Tenggara.

Pada saat itu kangkung dikenal dengan nama kangkong atau kubis rawa.

Dinamakan kubis rawa karena kangkung bisa hidup baik di darat maupun di perairan.

Beberapa petani menanam kangkung langsung di tanah basah.

Sedangkan beberapa lainnya membiarkan kangkung hidup liar di atas kolam penuh humus.

Seperti di sawah, atau rawa.

Dalam Bahasa Kanton, kangkung disebut dengan ong choy yang berasal dari metode penanaman sayuran tersebut.

Ong mengacu pada teknik penanaman kangung yang bisa dilakukan dengan menanam batang ke tanah yang lembab atau stek.

Sedangkan berdasarkan laporan ilmiah dari Eropa, kangkung dituliskan telah ada sejak abad ke-16.

Dan dalam laporan tersebut juga dijelaskan jika kangsung memiliki pertumbuhan yang cepat.

Dalam kondisi lingkungan yang paling optimal, kangkung bisa tumbuh dan dipanen sebanyak 78 ton per hektar dalam sembilan bulan.

Dari angka tersebut juga diketahui kangkung memiliki angka pertumbuhan sekitar 10 cm per harinya.

Hal tersebut bagus untuk kalian yang memerlukan banyak stok makanan.

Namun akan memgganggu jika kalian ingin tanah lingkungan kalian terlihat bersih.

Illegal di Florida

Pada 1973, negara bagian AS, Florida melarang penanaman kangkung.

Hal tersebut lantaran pertumbuhan kangkung yang cepat mengakibatkan kolam atau danau menjadi ‘tercemar’.

Lama kelamaan, kangkung akan mulai menyumbat saluran air dan menghalangi laju perahu yang melintas di atasnya.

Regulator federal Florida kemudian mengklasifikasi kangkung sebagai gulma berbahaya.

Beberapa negara lainnya masih melarang penjualan kangkung.

Sisanya, kangkung diperbolehkan ditanam bagi petani yang memiliki izin resmi dari pemerintahan atau otoritas setempat.

Pada tahun 2003, wilayah di California bagian utara mulai menanam kangkung secara komersial sebanyak 90 persen.

Meskipun dilarang, keberadaan kangkung di toko Asia di Amerika Serikat masih tak tergantikan.

Bahkan ada beberapa kasus yang mengharuskan mereka menjadi ‘penyelundup’ hanya untuk menikmati olahan sayur kangkung yang lezat ala kampung halaman.

Meskipun dianggap sebagai gulma, biar bagaimanapun di mata orang-orang Asia, kangkung adalah sayuran ‘sejuta umat’. (Uli)

INDOLINEAR.TV