Kampung Bekelir Yang Kini Layak Jadi Latar Foto

liputan6com/indolinear.com
Senin, 8 Oktober 2018

Indolinear.com, Kota Tangerang – Dahulu kampung yang berada bantaran Sungai Cisadane, Tangerang, tepatnya di lingkungan RW 01 Kelurahan Babakan, Kecamatan Tangerang, diklasifikan Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Kesehatan RI masuk dalam kategori kumuh.

Ironis memang. Pasalnya, wilayah kampung tersebut berada di jantung Kota Tangerang. Namun kini, pemandangan jauh berbeda ditemukan di kampung tersebut.

Ratusan rumah penduduk sekitar dicat penuh warna. Dari atap rumah, pagar, hingga tembok dihias dengan mural dan graffiti tematik yang bercerita tentang sejarah dan kearifan lokal.

Dinding rumah di masing-masing lorong mengusung tema tak sama. Jadilah ratusan mural dan graffiti yang indah dipandang mata di kampung yang kini dinamakan Kampung Bekelir.

“Konsep gambar yang ada di Kampung Bekelir mengangkat kearifan lokal. Makanya gambar-gambar yang ada, seperti tari legang Cisadane, perahu cacing, ada laksa, ada bandara Soekarno Hatta, dan banyak lagi,” kata Lurah Babakan Abu Sofiyan di Tangerang, dilansir dari Liputan6.com (07/10/2018).

Lingkungan di kampung ini jauh lebih bersih dan ditata dengan baik dengan berbagai aksesori yang juga penuh warna. Maka tak mengherankan, kampung seluas kurang lebih 4 hektare yang dihuni 375 kepala keluarga itu sekarang menjadi objek wisata yang menarik wisatawan.

“Pencanangannya 17 September 2017 sama Pak Wali Kota dalam rangka menata kampung yang dulu disebut kampung kumuh. Nama programnya PHBS, yaitu Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Berangkat dari situ, alhamdulillah warga kompak mau mengubah,” kata Abu Sofiyan.

Untuk mengubah kampung yang dahulunya kumuh tersebut, dikatakan Abu Sofiyan, menelan biaya sekitar Rp 1 miliar. Dana tersebut bukan diambil dari dana APBD, melainkan dari dana corporate social responsibility (CSR) sebuah perusahaan yang ada di Kota Tangerang.

Baca Juga :  Di Tangerang Live Warga Kota Tangerang Dapat Mencek Arus Lalu Lintas

“Untuk mengubah kampung ini jadi bekelir dibutuhkan 10 ribu liter cat, seribu pilok, seribu kuas, dan ada puluhan seniman yang ikut membantu menggambar,” kata Abu Sofiyan.

Adapun pengagas ide kampung bekelir adalah Ibnu Jandi, seorang konseptor dan pemerhati masalah kebijakan publik. Dia mengadopsi konsep sebuah kampung di Malaka yang daerahnya nyaris serupa dengan di kawasan Kampung Bekelir.

“Dia (Ibnu Jandi) pergi ke Malaka dan di sana ada juga kampung yang mirip dengan di sini yang ada di bantaran sungai. Nah, akhirnya, Pak Ibnu Jandi merealisasikannya di Kampung Bekelir,” ujar Abu Sofiyan.

Semenjak diresmikan November 2017, Kampung Bekelir, menurut Abu Sofiyan, mampu meningkatkan taraf perekonomian warga yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai pedagang.

“Kalau sore ini di sepanjang jalan warga berjualan, dan yang berjualan tidak boleh warga lain. Alhamdulillah, sekarang perekonomian warga Kampung Bekelir meningkat 300 persen,” katanya.

Wisatawan bisa hanya berfoto-foto di kampung itu. Namun bila ada yang ingin mengetahui lebih jauh sejarah Kampung Bekelir, ia dan perangkat desa lainnya siap untuk menjadi pemandu.

“Kalau tidak ada saya, ada Ketua RW, Ketua RT yang siap menemani dan menjelaskan,” ujarnya.

Ke depan, ia berencana menambahkan sejumlah fasilitas di Kampung Bekelir, yakni wisata kuliner, wisata air, flying fox, dan flying deck. (Uli)

%d blogger menyukai ini: