Kalah Reformasi Konstitusi, Veteran Perang Pensiun jadi Presiden Prancis

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Kamis, 28 Mei 2020
KONTEN MILIK PIHAK KETIGA. BERISI PRODUK BARANG, KESEHATAN DAN BERAGAM OBAT KECANTIKAN. MARI JADI PENGGUNA INTERNET SEHAT DAN CERDAS DENGAN MEMILAH INFORMASI SESUAI KATEGORI, USIA DAN KEPERLUAN.
loading...

Indolinear.com, Jakarta- Pada 28 April 1969, Presiden Prancis, Charles de Gaulle, pensiun untuk selamanya sebagai presiden di usia 79 tahun.

Usai pensiun, Charles de Gaulle tutup usia di tahun berikutnya, seperti dikutip dari Liputan6.com (26/05/2020).

Mantan presiden Prancis itu mengundurkan diri sebagai presiden, menyusul dengan kekalahan usulannya untuk reformasi konstitusi dalam referendum nasional.

Pada tahun 1968, demonstrasi mahasiswa dan pemogokan buruh mengikis dukungan rakyatnya, dan usulannya untuk reformasi konstitusi lebih lanjut pada tahun 1969 dikalahkan dalam pemungutan suara nasional.

Charles de Gaulle, yang juga merupakan seorang veteran Perang Dunia 1, tidak berhasil mengajukan petisi kepada negaranya untuk memodernisasi pasukan bersenjatanya di antara perang.

Charles de Gaulle melarikan diri ke London, di mana ia mengatur pasukan Prancis Merdeka dan mengumpulkan koloni-koloni Prancis untuk tujuan Sekutu, setelah Henri Petain dan para pemimpin Prancis lainnya menandatangani gencatan senjata dengan Nazi Jerman pada bulan Juni 1940.

Di Afrika Utara, pasukan Charles de Gaulle bertempur dengan sukses, dan ia diangkat sebagai kepala pemerintahan Prancis di pengasingan pada Juni 1944.

Hingga setelah invasi Sekutu ke Prancis pada 26 Agustus, Charles de Gaulle memasuki Paris dengan kemenangan. Tiga bulan kemudian, Dengan suara bulat, ia terpilih sebagai presiden sementara Prancis.

Sejarah Kemunduran yang Terjadi Sebelumnya

Pada Januari 1946, Charles de Gaulle mengundurkan diri, namun, mengklaim bahwa dia tidak memiliki kekuatan pemerintahan yang memadai. Ia lalu membentuk partai politik baru yang hanya memiliki keberhasilan pemilihan moderat, dan ia pensiun pada tahun 1953.

Namun, pemberontakan militer dan sipil di Aljazair menciptakan krisis politik di Prancis lima tahun kemudian, dan Charles de Gaulle menerima panggilan untuk memimpin bangsa. Sebuah konstitusi baru disahkan, dan dia terpilih sebagai presiden Fifth Republic pada akhir Desember.

Charles de Gaulle memberikan kemerdekaan kepada Aljazair dan berusaha untuk mengembalikan Prancis ke status internasionalnya selama dekade berikutnya, dengan menarik diri dari aliansi NATO yang didominasi AS dan mempromosikan pengembangan senjata atom Prancis. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: