Kakak Beradik Difabel Di Semarang Ini Mandiri Berkat Lukisan

FOTO: detik.com/indolinear.com
Kamis, 2 Juni 2022

Indolinear.com, Semarang – Kakak beradik di Semarang, Rizqi Puput Isnaini (27) dan Ahmad Zulfikar Fauzi (25) patut diapresiasi. Meski menyandang disabilitas, keduanya tak mau berpangku tangan dan mandiri berkat melukis.

Kakak beradik anak pasangan Ansori (53) dan Sukimah (50) ini tinggal di Jalan Widuri 3, Genuk, Semarang. Puput dan Zulfikar diketahui mengalami muscular dystrophy atau penurunan fungsi dan hilangnya massa otot secara progresif sehigga terjadi kelumpuhan yang dimulai dari bagian bawah tubuh. Bakat melukis pun sudah terlihat sejak sang kakak, Puput duduk di TK.

“Sudah sejak kecil suka gambar. Terus tahun 2015 kita patungan buat beli alat yang agak bagus. Sebelumnya pakai pensil warna dan cat air biasa. Setelah beli itu beda banget rasanya dan hasilnya,” kata Puput saat ditemui detikcom di rumahnya, dilansir dari Detik.com (31/05/2022).

Tak hanya menggunakan cat air, kakak beradik ini juga belajar digital art melalui ponsel pintar mereka. Kini keduanya sudah menghasilkan banyak karya yang juga dipesan untuk diberikan ke beberapa pejabat, salah satunya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

“Ke Pak Ganjar sudah dua kali, yang bikin saya sama adik. Kita juga pernah gambarin David Noah sama Ariel Noah, itu inisiatif kita dan bisa kasih langsung pas konser,” ujar Puput.

Zulfikar menambahkan beberapa waktu lalu dia melukis KSAD Jenderal TNI Andika Perkasa dan mempostingnya ke instastory. Hal tidak terduga terjadi.

“Jadi saya pas HUT TNI melukis pak KSAD, iseng saya posting di story Instagram saya. Sehari setelah itu, malamnya, saya didatangi orang Kodim,” ujar Zulfikar.

Kedatangan anggota Kodim itu ternyata membawa kabar gembira. Karya buatan Zulfikar mendapat respons Andika.

“Malamnya itu orang kodim ke rumah. Minggunya, Bu KSAD ke rumah,” katanya.

Lukisan wajah Andika itu pun lalu diserahkan ke istrinya. Keduanya juga langsung menjawab harapannya menggelar pameran ketika ditanya.

“Lukisannya sudah dibawa, kemarin ditanya harapannya apa. Kita bilang ingin membuka pameran karya kita,” ucap Zulfikar.

Tangan terampil keduanya telah menghasilkan karya lukisan maupun desain kaos. Dari hasil tersebut, kakak beradik ini mampu mandiri dan membantu kedua orang tuanya.

“Ya alhamdulillah bisa untuk biaya hidup, kita berusaha mandiri dan bisa bantu sedikit-sedikit orang tua, ” katanya.

Lumpuh sejak SD

Di lokasi yang sama, sang ayah mengaku bangga dan mendukung bakat anaknya. Ansori menyebut kedua anaknya itu mulai mengalami lumpuh saat SD.

“Jadi ada penurunan fungsi otot. Waktu itu kakaknya kelas 5 SD dan adiknya kelas 3 SD, waktunya bersamaan,” ujar Ansori.

Semenjak tidak bisa berjalan, sang kakak sempat tidak meneruskan sekolahnya, kemudian pernah melanjutkan pendidikan di RC Solo. Sementara itu, Zulfikar digendong ayahnya ke sekolah sampai lulus SMP.

“Sebagai orang tua kami terus mendorong mereka. Harapannya bisa mandiri secara finansial dan juga jadi pelukis besar,” ujar pria yang sehari-hari bekerja sebagai sopir ojek online itu.

Kakak beradik difabel di Semarang ini mandiri berkat melukis Foto: dok. pribadi Puput-Zulfikar

Kisah Puput dan Zulfikar itu pun memantik komunitas sepatu roda di Semarang, Skate Connect untuk menggalang dana. Donasi itu digunakan untuk memperbaiki rumah sekaligus memberikan fasilitas untuk melukis.

Mantan atlet sepatu roda Jawa Tengah, Harry Xiao mengaku pihaknya tergerak membantu Puput dan Zulfikar dengan menggelar donasi lewat Skate for Good. Kegiatan itu sudah dimulai sejak hari Minggu (12/9) lalu di Jalan Pemuda.

“Konsep kegiatannya yaitu komitmen. Misal saya bersepatu roda 42 km, kita masing-masing anggota cari donatur. Jadi saya sepatu roda 42 km, mau sumbang dana berapa,” ujar Harry.

“Untuk renovasi rumah, supaya tidak banjir dan accesible. Ada mebel yang sudah disesuaikan, sesuai mereka, ada meja gambar. Nanti secara bertahap dana digunakan untuk wujudkan itu,” imbuhnya.

Puput dan Zulfikar sangat senang dengan bantuan itu karena selama ini mereka melukis dan menggambar dengan meja lipat kecil biasa.

“Senang sekali, ini sudah mulai mengosongi ruangan yang mau direnov,” kata Puput. (Uli)

loading...