Kabul Jatuh ke Tangan Taliban, Awali Rezim Baru Di Afghanistan

FOTO liputan6.com/indolinear.com
Selasa, 27 Oktober 2020
loading...

Indolinear.com, Kabul – Ibukota Afghanistan jatuh ke tangan milisi oposisi setelah tiga hari pertempuran sengit. Pasukan Taliban, pada 27 September 1996, memperkuat cengkeraman mereka di Kabul setelah menyerbu istana presiden –simbol pusat pemerintahan negara itu– 24 jam sebelumnya.

Presiden yang terguling, Burhanuddin Rabbani, perdana menteri dan panglima militernya lantas diburu oleh kelompok Islam radikal yang mencap mereka sebagai “penjahat nasional”.

Mantan presiden, Mohammed Najibullah, dan saudaranya telah lebih dulu dibunuh oleh para militan Taliban.

Pemimpin oposisi bermata satu Mullah Mohammed Omah dan pejuang mahasiswanya telah diusir dari kota Kabul dua kali sebelumnya, tetapi kali ini tampaknya pasukan pemerintah kehilangan keinginan untuk berperang, dilansir dari Liputan6.com (25/10/2020).

Panik

Ratusan tewas dan banyak yang melarikan diri untuk melindungi pangkalan Jabal-us-Seraj di utara Kabul pada saat itu.

Mereka meninggalkan kota yang hancur dan dilanda perang, ditinggalkan oleh hampir semua lembaga bantuan yang bekerja di sana sampai beberapa hari sebelumnya.

“Ada begitu banyak kepanikan di kota, begitu banyak ketegangan, sehingga setiap orang yang bisa melarikan diri,” kata Azad Singh Toor, seorang diplomat India, menggambarkan peristiwa di Afghanistan 24 tahun lalu.

Di sisi lain, ada banyak warga di Kabul yang justru menunggu untuk melihat apakah Taliban dapat mempersatukan negara di bawah satu faksi setelah konflik internal selama beberapa dekade –sebuah harapan yang tak pernah menjadi kenyataan jika dilihat dari sudut pandang waktu saat ini.

Dan pembunuhan penguasa komunis terakhir Afghanistan, mantan presiden Najibullah, merupakan peringatan yang suram bagi siapa saja yang ingin menentang pemerintahan Islam versi mereka.

Eksekusi Presiden Mohammad Najibullah

Pada hari sebelumnya, atau pada 26 September 1992, Taliban juga menangkap eks Presiden Mohammad Najibullah, yang mereka juluki sebagai “Boneka Soviet” dan tokoh pembenci Taliban. Ia diseret keluar dari kompleks PBB tempat dia mengungsi sejak 1992 dan dipukuli, ditembak, dan digantung di depan istana presiden.

Taliban ingin menjadikan Afghanistan negara Islam paling murni di dunia. Eksekusi dan amputasi diperkenalkan sebagai hukuman dan perempuan sama sekali dikecualikan dari kehidupan publik.

Pakistan dan Arab Saudi mengakui kelompok ekstremis itu sebagai penguasa sah Afghanistan pada tahun 1997, tetapi sebagian besar negara lain tetap menganggap Presiden Burhanddin Rabbani yang digulingkan sebagai kepala negara.

Cengkeraman Mullah Omar di negara itu berakhir setelah serangan 11 September di Amerika Serikat yang dilakukan oleh salah satu tamunya –Osama Bin Laden.

Oposisi Aliansi Utara –yang memanfaatkan peluang dukungan AS– berbaris untuk merebut kembali ibu kota Kabul pada November 2001. Namun sejak itu, kata damai telah menjadi konsep yang asing di Afghanistan. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: