Jumlah PHK Minim, Perusahaan di Tangsel Masih Aman

Senin, 15 Februari 2016
loading...

Indolinear.com, Tangsel – Banyak perusahan besar Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terjadi dibanyak daerah, salah satunya di Tangsel. Namun Tangsel dibanding daerah lain jauh lebih sedikit, sehingga belum mengkhawatirkan.

Kepala Dinas Sosial Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Tangsel, Purnama Wijaya mengatakan saat ini data yang dimiliki ada 42 orang terkena PHK dari 24 perusahaan. PHK itu disebabkan karena banyak faktor, misalkan persoalan dalam menjalankan tugas, dampak juga karena krisis dan lain-lain.

“Memang benar bahwa terjadi PHK besar-besaran dibanyak daerah, termasuk Tangsel. Namun Tangsel sendiri masih terbilang aman belum khawatir seperti Kabupaten dan Kota Tangerang sampai ratusan orang,”¬Ě katanya.

Ia menyebut dari 42 karyawan yang terkena PHK, ada beberapa orang asal Tangsel. Selebihnya dari daerah. Hal ini menjadi prihatian serius dalam pergolakan perekonomian nasional yang terus berangsur banyak perusahaan besar gulung tikar.

“Walau bagimanapun juga meski bukan semua orang Tangsel tapi mereka bekerja di kawasan Tangsel. ini menjadi perhatian serius oleh Pemkot,” paparnya.

Ia memprediksi di Tangsel akan berjalan kondusif dan tidak mengalami lonjakan besar. Tentunya pemerintah juga memiliki tanggung jawab supaya suasana para pekerja tetap kondusif dalam suasana seperti ini.

“Kami terus melakukan komunikasi dengan serikat pekerja juga pelaku usaha, agar tetap berjalan seiring sehingga tetap kondusif,” paparnya.

Ketua Dewan Penasehat Cabang (DPC) Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) 1992, Agus Karyanto pun menyatakan hal senada bahwa Tangsel jauh lebih lebih sedikit jumlah PHK ketimbang dari kabupaten atau kota Tangerang di Banten. Tentunya ini menandakan bahwa perusahaan di Tangsel masih berjalan aman. Selain itu memang di Tangsel jumlah perusahaan besar tidak banyak.

“Meski kami tidak memiliki data lengkap namun jumlahnya masih sedikit jika dibandingakan dengan Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang. Mereka jumlahnya jauh lebih banyak,” paparnya.

Ia berharap kepada pemerintah supaya kebijakan yang dibuat lebih pro kerakyat. Bukan hanya kepada perusahaan dengan mempersulit para buruh. Tentunya tuntutan buruh selama ini diharapkan dapat didengarkan oleh pemerintah.

“Hapus tenaga outsourching yang selama ini menghantui, serta berikan kebijakan yang mendukung kepada para buruh. Lindungi pekerja lokal disaat nanti pekerja asing akan semakin banyak datang ke Indonesia,” bebernya.(sophie)