Jokowi Dijadwalkan Bertemu Dengan Ribuan Penerima Manfaat Kartu Prakerja

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Sabtu, 18 Juni 2022

Indolinear.com, Jakarta – Presiden Joko Widodo akan bertemu dengan perwakilan penerima manfaat dari kabupaten/kota se-Indonesia, serta ribuan lain dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Acara bertajuk ‘Temu Raya #KitaPrakerja’ ini akan berlangsung pada Jumat, 17 Juni 2022 di Sentul International Convention Center, pukul 14.00 WIB – selesai.

Sebagaimana diketahui, Presiden Joko Widodo lah yang telah mencanangkan Program Kartu Prakerja pada bulan Februari 2019 silam.

Menurut Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yang juga Ketua Komite Cipta Kerja, program peningkatan kualitas sumber daya manusia ini terus berjalan dengan baik didukung oleh kerja sama lintas kementerian dan berbagai mitra ekosistem.

“Keberhasilan Program Kartu Prakerja telah mendapat pengakuan oleh lembaga nasional maupun internasional karena secara ilmiah mampu untuk mendorong adult learning, pemberdayaan perempuan, inklusi keuangan, pengurangan ketimpangan, pengangguran dan kemitraan multi-pihak yang merupakan pilar-pilar SDG,” kata Airlangga dalam keterangannya, dilansir dari Tribunnews.com (17/06/2022)

Selain bertatap muka langsung dengan ribuan alumni, Presiden Jokowi juga akan mendengarkan kisah dan masukan dari para penerima, sekaligus memberikan nasihat dan semangat.

Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja menambahkan, pada event ini juga digelar ‘job fair’ sebagai sarana bagi penerima Kartu Prakerja mendapatkan pekerjaan yang diimpikannya setelah mengikuti pelatihan Prakerja.

“Untuk terselenggaranya acara ini, kami menggandeng berbagai mitra dalam ekosistem Prakerja, baik platform digital, lembaga pelatihan, mitra pembayaran, job platform, perguruan tinggi dan pemangku kepentingan lainnya,” kata Denni.

Sementara itu, Studi Bank Dunia, program Kartu Prakerja yang diluncurkan sejak April 2020 tidak hanya menawarkan skill development sebagai fondasi untuk meraih kesempatan kerja lebih luas, namun juga menjadi sarana transfer dana dari pemerintah ke masyarakat.

Kebijakan ‘physical distancing’ selama pandemi COVID-19 yang menuntut pembatasan interaksi sosial mendorong masyarakat beralih kepada sistem pembayaran digital.

Namun, sistem penyaluran insentif Prakerja dengan menggunakan digital end-to-end serta melalui mekanisme pembayaran Government-to-Person (G2P) langsung kepada penerima membuat masyarakat non-urban ikut mengalami peningkatan literasi dan inklusi keuangan, karena semakin melatih penggunaan  sistem pembayaran elektronik.

Fakta ini terungkap dalam diskusi pemaparan hasil studi Bank Dunia dan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) bertajuk “Kartu Prakerja: Indonesia’s Digital Transformation and Financial Inclusion Breakthrough” secara daring.

Airlangga Hartarto mengatakan, Kartu Prakerja merupakan kisah sukses Pemerintah Indonesia dalam mentransformasi layanan publik, baik teknologi digital maupun cara-cara yang biasa dilakukan startups ada di Prakerja.

“Pak Jokowi mencanangkan ‘tol langit’. Penggunaan telepon seluler jadi makin luas, dan industri berbasis teknologi informasi tumbuh pesat. Prakerja memanfatkan semua ini. Ekosistem belajar berbasis kemitraan dengan ratusan pelaku pun dibangun,” kata Airlangga.

Dikatakannya, ratusan pelaku bergabung di ekosistem Prakerja, dengan lebih dari 12 juta penerima Kartu Prakerja dari 514 kabupaten/kota bisa mendaftar, berlatih, menerima sertifikat, melihat lowongan kerja, dan mendaftar kerja secara online, tanpa dibatasi ruang dan waktu.

“Kartu Prakerja adalah pioneer dari pembayaran G2P melalui financial technology dan ini adalah satu peranan yang diterapkan oleh Kartu Prakerja untuk mengakselerasi inklusi keuangan di tanah air,” katanya.

Penelitian tentang Kartu Prakerja ini menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Survei telepon dilakukan oleh SurveyMETER pada 6-25 Oktober 2021 kepada 1.000 penerima Kartu Prakerja di 50 kecamatan yang tersebar di 50 kabupaten dan 25 provinsi.

Penerima manfaat ini terdaftar ke dalam program Prakerja untuk Gelombang 7-11 (atau terdaftar pada bulan September-November 2020).

Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Program Kartu Prakerja Denni Puspa Purbasari mengatakan, sebagai seorang ekonom, ia menggarisbawahi prinsip makin banyak pilihan makin bagus.

“Hal itulah yang menjadi nafas program Prakerja, termasuk dalam memberikan kebebasan pesertanya memilih rekening yang digunakan untuk pencairan insentif. Ada pilihan bank, ada pula uang elektronik,” katanya.

Merujuk berbagai literatur terkait inklusi keuangan, ternyata untuk menjadi nasabah bank memiliki tantangan tersendiri yakni banyaknya regulasi yang diperlukan serta dibutuhkannya kehadiran fisik dalam proses pembukaan rekening.

Pujian terhadap Prakerja juga datang dari Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste Satu Kahkonen.

“Kartu Prakerja merupakan kebijakan pasar tenaga kerja aktif dan program bantuan sosial di Indonesia yang pertama kali mengimplementasikan mekanisme pembayaran G2P yang berorientasi pada penerima. Ini merupakan hal yang sangat inovatif,” ungkapnya.

Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia, Yose Rizal Damuri menunjuk fakta menarik dari kajian ini adalah bagaimana mayoritas penerima Kartu Prakerja awalnya tidak memiliki akun uang elektronik atau dompet digital.

Hampir 50 persen baru kali pertama menggunakan rekening uang elektronik dan juga hampir 9 persen dari mereka kali pertama memiliki rekening bank.

“Dari temuan ini kita dapat melihat bagaimana inklusi keuangan telah menunjukkan kemajuan dan pengenalan Kartu Prakerja, terutama inisiatifnya dalam menggunakan mekanisme pembayaran digital G2P banyak membantu dalam aspek inklusi keuangan,” kata Yose.

Wakil Ketua II Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) Aldi Haryopratomo menyoroti bahwa apa yang dilakukan sistem Prakerja sebenarnya memungkinkan untuk menjadi sarana kolaborasi dari seluruh industri membidik target inklusi keuangan yang sulit yaitu rumah tangga yang berpendapatan rendah.

“Menurut hasil studi Bank Dunia, 44 persen dari jumlah penerima Prakerja termasuk dalam 40 persen rumah tangga termiskin.

Ini memberikan landasan nyata bagi pemain uang elektronik dan perusahaan teknologi keuangan lain untuk tumbuh, dan mengadopsi serta menargetkan pengguna berpendapatan rendah ini.” Terangnya.

Di akhir diskusi, Director of Information and Communications Technology and Disaster Risk Reduction Division, UN ESCAP Tiziana Bonapace,  mengucapkan selamat atas terobosan yang telah dicapai oleh program ini.

“Dengan menjangkau lebih dari 11 juta penerima, program ini merupakan bukti konkrit pemerataan ‘on the ground’ yang ditawarkan oleh digitalisasi,” pungkasnya. (Uli)