Joko Murtanto, Difabel Pendiri PAUD untuk Kalangan Miskin

FOTO: detik.com/indolinear.com
Minggu, 15 November 2020
loading...

Indolinear.com, Sragen – Keterbatasan kondisi fisik bukan penghalang bagi seseorang untuk berkarya dan bermanfaat bagi orang lain. Salah satunya adalah Joko Murtanto di Sragen, Jateng. Prihatin terhadap banyaknya anak-anak yang tidak mengenyam pendidikan usia dini, dia memutuskan mendirikan pendidikan anak usia dini (PAUD)

Joko Murtanto berasal dari Dusun Gunungsono, Desa Gilirejo, Miri, Sragen. Dia menderita kelainan fisik sejak lahir pada 1 Agustus 1980. Kecelakaan yang dialami sang ibu saat Joko masih di dalam kandungan membuatnya lahir prematur pada usia kandungan 7 bulan dengan berat 8 ons.

Joko mengalami kondisi arthrogryposis, yang membuat kedua tangannya tumbuh tidak normal dan sulit digerakkan. Tak hanya itu, kelainan juga terjadi pada kedua lututnya, yang tidak bisa ditekuk.

“Telapak kaki juga mengalami kelainan karena menghadap ke samping. Saya baru bisa berjalan setelah menjalani operasi kaki pada usia 9 tahun,” ujarnya yang dilansir dari Detik.com (13/11/2020).

Menempuh pendidikan formal sampai tingkat menengah di Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC) Solo, kemudian melanjutkan di SMA Muhammadiyah 6 Solo, Joko sempat bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah perusahaan.

Namun, karena merasa tak cocok, Joko keluar bekerja dan memilih sektor nonformal dengan mendalami seni kaligrafi serta karikatur, yang dipelajarinya secara otodidak sejak umur 7 tahun. Bermodal pemasaran melalui media sosial, melalui usaha kaligrafi dan karikatur inilah Joko mampu menghidupi istrinya, Wahyu (28), serta kedua anaknya Kayisah (12) dan Hafidz (5).

Tak main-main, beberapa tokoh terkenal juga sempat memesan untuk dibuatkan karikatur karya Joko. Beberapa di antaranya Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, serta beberapa figur terkenal lain seperti budayawan, mendiang Arswendo Atmowiloto serta mendiang Bondan Winarno.

“Tapi mayoritas pemesan karya saya dari instansi dan perusahaan. Saya jual paling murah Rp 250 ribu per foto, paling mahal Rp 1,5 juta. Yang membedakan harga adalah di kualitas media yang digunakan untuk mencetak,” terang Joko.

Menjalani kehidupan yang terbilang aman secara finansial tak membuat Joko berpuas diri. Dia mengaku merasakan keresahan melihat kenyataan sosial di desanya. Joko melihat ada banyak anak-anak yang tidak mengenyam bangku pendidikan usia dini, karena minimnya fasilitas pendidikan. PAUD maupun TK terdekat dari Dusun Gunungsono berjarak sekitar 4 kilometer.

“Karena jaraknya cukup jauh, warga enggan menyekolahkan anaknya. Pasalnya, tak semua warga memiliki sepeda motor. Selain itu, transportasi umum juga minim. Kebanyakan warga baru mengirim anaknya untuk sekolah setelah si anak bisa mandiri dan berangkat sekolah sendiri,” kata Joko.

Joko akhirnya memutuskan mendirikan sendiri PAUD Yasmine pada 3 Januari 2019. Waktu itu, hanya ada lima anak yang mau bersekolah di PAUD tersebut. Karena tidak memiliki gedung, kegiatan belajar-mengajar digelar dengan menumpang di ruang tamu di rumah milik kakak Joko.

“Mungkin awalnya warga belum yakin untuk menyekolahkan anaknya di sini. Tapi beberapa waktu setelah itu, justru warga yang meminta agar saya sekalian membuka TK. Akhirnya TK saya buka pada awal tahun ajaran baru kemarin,” terang Joko.

Kini total siswa di PAUD dan TK Yasmine mencapai 23 anak. Banyaknya tambahan siswa membuat ruang tamu di rumah milik kakak Joko tak memungkinkan lagi untuk menampungnya. Joko pun terpaksa merelakan rumah pribadinya dijadikan gedung sekolah.

“Waktu itu kondisinya (rumah) baru setengah jadi. Rencana saya gunakan untuk tempat tinggal. Tapi karena kondisinya mepet, sementara untuk gedung sekolah saja. Yang penting anak-anak bisa nyaman belajar. Sempat nabrak-nabrak cari donatur untuk bikin atap karena waktu itu belum ada atapnya. Alhamdulillah ada beberapa donatur yang membantu,” ujarnya.

Meski begitu, kondisi ‘gedung sekolah’ milik Joko tersebut masih terbilang jauh dari standar. Belum memiliki meja dan kursi, kegiatan belajar-mengajar hanya beralaskan MMT bekas. Selain itu, seluruh ruangan belum ada pintunya. Joko hanya menggunakan terpal bekas sebagai penutup di waktu malam. Di bangunan berukuran 10×6 meter itu jugalah Joko tinggal bersama keluarganya.

“Ruang tamu untuk TK, satu ruang untuk PAUD, satu lagi untuk kantor. Nah, satu ruangan di pojok untuk saya dan keluarga,” terang Joko.

Kondisi masyarakat sekitar yang mayoritas bekerja sebagai petani dan buruh keramba di Waduk Kedung Ombo (WKO) membuat Joko tak pasang tarif tinggi untuk anak yang bersekolah di PAUD dan TK Yasmine. Setiap bulannya, para siswa hanya ditarik SPP sebesar Rp 25 ribu. Itu pun, bagi warga yang keberatan, Joko dengan senang hati akan memberikan keringanan.

“Memang sengaja tidak digratiskan, karena tipikal masyarakat banyak yang menggampangkan sesuatu yang gratis. Kalau ada yang keberatan, cukup bilang saya pasti nanti bisa dibicarakan. Tapi sejauh ini tidak ada warga yang merasa keberatan,” ujarnya.

Dengan kondisi ini, Joko harus memutar otak untuk menutup kekurangan biaya operasional sekolah. Ditambah lagi, Joko harus menggaji dua pemudi asal Desa Gilirejo yang dimintanya membantu menjadi guru di PAUD dan TK Yasmine. Tak jarang Joko merogoh kocek pribadinya untuk menutup biaya operasional sekolah.

“Dari usaha kaligrafi dan karikatur, memang saya selalu menyisihkan dana untuk kebutuhan mendadak PAUD dan TK, karena tidak bisa juga kami terus mengandalkan donatur,” kata Joko.

Harus menutup biaya operasional, belum juga untuk biaya hidup keluarga sendiri, Joko mengaku tidak khawatir mengalami kekurangan. Baginya, pertolongan Tuhan akan selalu ada bagi umat-Nya yang ingin berbuat baik bagi sesama.

“Sudah saya niatkan, saya yakin Gusti Allah tidak akan membiarkan saya dan keluarga saya kelaparan. Ketika kita mau berbuat baik, segala sesuatunya pasti sudah disiapkan Tuhan. Harapan saya agar anak-anak sejak dini sudah ada pemahaman, terutama tentang lingkungan. Apa yang terjadi di lingkungannya, dan tahu apa yang harus dilakukan. Selama ini fenomenanya mayoritas warga merantau sejak menginjak dewasa, dan baru pulang setelah pensiun. Membuat kondisi desa cenderung stagnan dari tahun ke tahun,” urainya.

Banyak tantangan dialami Joko semenjak merintis PAUD dan TK Yasmine. Banyak masyarakat yang skeptis, bahkan mencibir, karena selain menyandang disabilitas, pendidikan formal Joko hanya tamatan SMA. Namun dirinya yakin pandangan ini akan bergeser jika dirinya mampu memberi pembuktian.

“Semua teman difabel pasti pernah merasakan skeptisme masyarakat. Hanya tinggal bagaimana kita bisa menunjukkan (kepada masyarakat). Karena dari awal niat saya hanya sederhana. Bagaimana anak-anak di desa ini bisa mengenyam pendidikan usia dini, yang tak hanya melulu soal akademis, tapi juga tentang pembangunan karakter. Selanjutnya masyarakat yang akan menilai,” kata Joko.

Joko sendiri berharap langkah yang ditempuhnya bisa menjadi inspirasi terutama bagi kaum difabel. Menurutnya, saat ini sudah banyak peluang bagi penyandang disabilitas. Tinggal membutuhkan motivasi dan tekad yang kuat agar penyandang disabilitas mampu hidup mandiri, bahkan berguna bagi orang lain.

“Saya sekira sekarang sudah bukan waktunya teman-teman difabel berbicara tentang survival. Pemerintah sudah membuka keran selebar-lebarnya bagi penyandang disabilitas untuk berkarier baik di jalur formal maupun nonformal. Difabel yang selama ini identik harus mendapatkan bantuan kenapa tidak kita ubah. Difabel juga bisa lakukan sesuatu untuk orang lain. Yang biasanya dibantu sekarang bisa membantu,” pungkas Joko. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: