Johanes Kurnia, WNI Di Balik Layar Film Star Wars

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Minggu, 9 Juni 2019

Indolinear.com, San Francisco – Di balik kesuksesan film Star Wars: The Last Jedi, ternyata ada tangan kreatif anak bangsa yang memiliki andil besar dalam proses penggarapannya.

Dia adalah Johanes Kurnia yang dalam empat tahun terakhir ini bekerja sebagai Generalist Supervisor di perusahaan Industrial Light & Magic yang didirikan oleh pencipta Star Wars, George Lucas, di San Francisco, California.

Sebagai Generalist Supervisor, Johanes mengemban tanggung jawab yang besar dalam menciptakan digital environment atau latar belakang sebuah objek dalam film yang diadaptasi dari lokasi yang nyata, setelah sebelumnya pengambilan gambar dilakukan dengan latar belakang layar hijau atau green screen.

“Kita banyak sekali menggunakan fotografi dari lokasi, karena tujuannya memang menciptakan sesuatu yang as real as possible,” papar Johanes Kurnia kepada VOA baru-baru ini seperti dikutip dari Liputan6.com (07/06/2019).

Bersama sekitar tujuh anak buahnya, Johanes dipercaya menggarap sequence atau rangkaian adegan yang sangat signifikan dalam film Star Wars: the Last Jedi yang terfokus di Planet Crait.

“Di sequence itu kita harus membuat beberapa lokasi digital. Yang pertama yaitu sebuah environment di mana terjadi peperangan antara pemberontak dan serdadu imperial, dan yang kedua kita harus membuat gua di mana tempat pemberontak itu bersembunyi,” jelas Johanes.

“Di environment yang ketiga, kita menciptakan terowongan kristal di mana kapal terbang imperial sedang mengejar Millennium Falcon, tempat Rey dan Chewbacca berada,” imbuh pria kelahiran tahun 1980 ini.

Proses penggarapan rangkaian adegan yang dikerjakan oleh Johanes dan tim ini memakan waktu yang cukup panjang, yaitu sekitar satu tahun lebih. Sutradara Star Wars, Rian Johnson, pun kerap berinteraksi langsung dengannya untuk memberikan masukan setiap dua atau tiga hari sekali.

“Dia suka ini, ini kurang ini, ini rasanya kurang menarik, ini rasanya kurang action, dia bisa langsung on the spot kasih note dan saya distribute ke timnya,” papar pria lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) jurusan fotografi dan sinematografi itu.

Hadapi Tantangan Berat

Sebagai penggemar film-film fantasi, Johanes merasa senang bisa ikut terlibat dalam penggarapan film Star Wars. Namun, ia sadar bahwa tantangannya amat berat, mengingat tingginya antusiasme para fans yang sudah tumbuh sejak film ini pertama kali dirilis pada 1977.

“Expectation-nya tinggi sekali dan semuanya merasakan pressure itu, bukan cuman saya. Tapi kayaknya tim kita bagus sekali dan semuanya saling membagi pressure itu dengan baik. Jadinya kita enggak merasa stres yang keterlaluan gitu,” tutur Johanes.

Untuk mendalami pekerjaannya kali ini, Johannes dan tim terlebih dahulu mempelajari film-film Star Wars dari berbagai zaman, juga beragam gambar yang pernah digarap oleh perusahaannya sendiri dan juga perusahaan lain.

“Jadinya kita lebih familiar sama dunia Star Wars,” kata Johanes yang sudah bermukim di Amerika sekitar sepuluh tahun.

Merupakan sebuah kepuasan tersendiri bagi Johanes ketika bisa melihat hasil karyanya di layar lebar, walaupun pada awalnya ia merasa hasilnya masih kurang sempurna.

“Tapi begitu lihat di bioskop rasanya lumayan puas. Rasanya, that’s pretty high quality,” katanya lega.

Jerih payah dan kerja keras seperti terbayarkan rasanya ketika mengetahui film yang digarapnya berhasil meraih empat nominasi Oscar di ajang Academy Awards 2018 dan nominasi di ajang Visual Effects Society Awards untuk kategori sinematografi virtual terbaik.

Tak pernah terbesit dalam benak Johanes dan tim bahwa mereka bisa meraih nominasi bergengsi ini. Bagi mereka kerja keras untuk menyelesaikan film ini adalah tujuan utama.

Menembus Industri Film di Amerika

Hingga kini, Johanes sudah pernah sedikitnya sembilan kali terlibat dalam penggarapan film Hollywood Blockbuster, di mana tiga di antaranya dilakukan setelah Johanes menjabat sebagai supervisor di Industrial Light and Magic — Star Wars: The Last Jedi, Deepwater Horizon, Warcraft.

Bagi Johanes, film Deepwater Horizon yang diangkat dari kisah nyata itu, meninggalkan kesan tersendiri dalam perjalanan karirnya. Bersama timnya ia dipercaya untuk mengerjakan bagian terpenting dalam film, yaitu menciptakan kembali kilang minyak yang menjadi fokus utama.

Sebelum menekuni profesi sebagai seorang Generalist, Johanes pernah menjadi Digital Artist dan juga pernah mengerjakan beragam efek visual untuk film-film Box Office seperti Captain America: the Winter Soldier, Noah, Percy Jackson: Sea of Monsters, Pacific Rim, The Lone Ranger, Star Trek: Into Darkness, dan the Girl with the Dragon Tattoo.

Tidak hanya mengerjakan film-film layar lebar, Johanes juga banyak terlibat dalam penggarapan film-film untuk wahana di taman hiburan.

Johanes mengaku mendapatkan ilmu di bidang film ini secara otodidak dengan belajar melalui pekerjaan yang ia tekuni selama berkarir. Terlebih lagi di era teknologi seperti sekarang ini, menurutnya telah mempermudah orang untuk mempelajari bidang yang ia tekuni secara otodidak secara online.

Bagi yang ingin mengikuti jejak karirnya, Johanes menganjurkan untuk mempersiapkan portfolio atau demoreel yang sesuai dengan gaya perusahaan yang dituju.

“Kalau mau masuk Pixar, demo reel-nya cobalah yang kartun, yang lucu-lucu, yang very bright, very happy. Kalau mau masuk ke WETA atau (Industrial Light & Magic), mungkin yang lebih realistis,” pesan Johanes.

Selain itu Johanes juga berpesan agar jangan cepat puas dengan portfolio yang dimiliki, mengingat betapa ketatnya persaingan di industri tersebut. Tidak lupa ia mengingatkan untuk selalu menikmati proses perjalanan karier yang diminati. (Uli)