Jimly, Misbakhun, Dan Bursah Sebut Sabam Adalah Tokoh Panutan Bersama

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Minggu, 3 Oktober 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Bukan hanya keluarga yang kehilangan Sabam Sirait, melainkan bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia kehilangan sosok pejuang demokratis yang menyemai benih-benih reformasi.

Itulah pandangan banyak tokoh dari lintas batas terhadap sosok Sabam Sirait, politisi senior, yang berpulang, Jumat (01/10/2021).

Bagaimana tidak, saat rezim Orde Baru berkuasa penuh dan mengendalikan kekuatan di Parlemen, Sabam Sirait berani bersuara dan melakukan interupsi.

Saat itu, melakukan interupsi di parlemen sama saja melawan Orde Baru secara terbuka dan siap-siap mengambil resiko.

“Kita semua kehilangan Pak Sabam. Mari doakan yang terbaik,” kata rekan Sabam sesama anggota DPD RI yang juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Jimly Asshiddiqie.

Sebagai junior, Jimly menjadikan Sabam Sirait sebagai panutan.

Dan sidang paripurna perdana MPR periode 2019-2024 sangat bersejarah sebab dipimpin Sabam Sirait.

“Beliau memimpin sidang dan itu sangat bersejarah bagi kita semua dan bagi beliau,” ungkap Jimly yang juga tokoh cendekiawan muslim Indonesia, dilansir dari Tribunnews.com (02/10/2021).

Jimly mengatakan bahwa banyak inspirasi yang bisa dipetik dari perjalanan hidup Sabam Sirait.

Perjuangan Sabam pun harus diteruskan oleh generasi muda setelahnya.

“Pak Sabam itu sosok yang sangat toleran dan pluralis. Kita sama-sama memerangi anti-toleransi di Indonesia,” ungkap Jimly.

Hal yang sama disampaikan politikus Partai Golkar, Mukhammad Misbakhun. Bagi Misbakhun, Sabam adalah soosk panutan dan menjadi suri tauladan baginya.

Misbakun banyak mendapatkan cerita tentang Sabam Sirait sebagai tokoh pergerakan dan sebagai tokoh partai politik yang sangat mewarnai perjalanan politik Indonesia dan perjalanan partai besar sekelas PDI Perjuangan.

“Mulai dari awal menghadapi tekanan, menghadapi situasi-situasi sulit. Gejolak besar politik di Republik ini beliau selalu ikut,” kata Misbakhun yang merupakan Sekjen Depinas SOKSI ini.

Misbakhun memastikan, apa yang telah dilakukan Sabam Sirait akan menjadi warisan bagi generasi muda, yang akan selalu menangkap semangat perjuangannya.

Anak-anak muda pasti bisa mengambil intisari kebaikan kehidupan yang pernah Sabam jalankan.

“Dan ini kehilangan salah satu tokoh politik yang lahir dari rakyat, inklusif, membangun kegotong-royongan dan kebersamaan. Dan sekarang kita menyaksikan beliau dipanggil Tuhan yang Maha Esa. Mudah-mudahan beliau mendapatkan tempat yang terbaik dan kita akan menjadi generasi pewaris yang akan selalu menjalankan teladannya,” ungkap Misbakhun.

Bagi aktivis pergerakan Bursah Zarnubi, Sabam adalah sosok yang sangat pemberani.

Di zaman Orde Baru, ketika banyak anggota DPR ikut pemerintah, Sabam mengambil posisi melawan demi tegaknya demokrasi.

“Dulu, zaman Orba, gak ada anggota DPR yang mau datang ke Humanika. Satu-satunya yang mau datang ya Pak Sabam. Diskusi lesehan bersama aktivis. Sangat merakyat dan sederhana,” ungkap Bursah.

Bursah juga menilai Sabam sebagai sosok negarawan yang tak kenal batas-batas sosial dan latarbelakang.

Kepada siapapun, Sabam sangat terbuka dan ramah.

“Keberpihakan Pak Sabam pada rakyat sangat jelas dan nyata. Sejak zaman Orde Baru hingga kini,” ungkap Bursah. (Uli)