Jejak Radiasi Mengerikan Di Tulang Rahang Korban Bom Atom Hiroshima

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Selasa, 20 Agustus 2019

Indolinear.com, Sao Paulo – Pagi yang cerah dan berawan di Hiroshima, Jepang, seketika berubah jadi malapetaka pada 6 Agustus 1945. Untuk kali pertamanya dalam sejarah dunia, bom atom dijatuhkan dari jet bomber B-29 milik Amerika Serikat.

Bom dengan berat lebih dari 4.000 kilogram tersebut meledak sekitar 580 meter di atas permukaan tanah. Panas akibat ledakan dahsyat uranium-235 yang terkandung dalam Fat Boy langsung menewaskan 60 ribu hingga 80 ribu manusia.

Ribuan orang lainnya tewas akibat kebakaran hebat yang menghanguskan kota. Belum termasuk mereka yang kemudian tewas akibat efek radiasi, misalnya lantaran kanker darah atau leukemia. Tiga hari kemudian, giliran Nagasaki merasakan nestapa yang sama.

Kini, untuk kali pertamanya, para ilmuwan berhasil menguak seberapa besar persisnya radiasi yang diderita korban bom atom Hiroshima, menggunakan jaringan dari tulang rahang salah satu jasad korban.

Seperti dikutip dari Liputan6.com (18/08/2019), para ahli menggunakan teknik yang didesain untuk menentukan penanggalan fosil dan artefak arkeologi.

Studi tersebut mengandalkan teknik yang disebut spin resonance spectroscopy — yang secara ilmiah dikenal sebagai retrospective dosimetry, untuk mengukur secara retrospektif dosis radiasi yang diterima para korban bom atom Hiroshima pada 73 tahun yang lalu.

Menurut para peneliti, ini adalah kali pertamanya sampel jaringan korban bom atom dianalisis untuk tujuan tersebut.

Pengukuran yang dilakukan para ilmuwan menguak dosis tinggi radiasi dalam fragmen tulang rahang korban bom atom Hiroshima, yakni sekitar 9,46 grays (Gy).

“Setengah dari dosis tersebut, atau 5 Gy, sudah berakibat fatal bagi tubuh manusia yang terpapar,” kata Oswaldo Baffa, Full Professor di Ribeirao Preto School of Philosophy, Science & Letters di University of Sao Paulo (FFCLRP-USP), yang mengawasi studi.

Studi teranyar sejatinya bukan hal baru, dibangun berdasarkan penelitian yang dimulai pada 1980-an, yang dipimpin fisikawan Sérgio Mascarenhas.

Kala itu, Mascarenhas menemukan bahwa sinar-X dan iradiasi sinar gama menginduksi suatu fenomena yang dikenal sebagai paramegnetisme dalam tulang manusia — yang berarti secara magnetis menjadi lebih lemah.

Proses ini menyebabkan sampel kehilangan elektron, yang kemudian mengungkap seberapa besar radiasi yang diterima suatu materi.

Setelah menggunakan teknik tersebut untuk melakukan penanggalan terhadap penanggalan arkeologi, termasuk kerangka hewan prasejarah dan peralatan kuno, Mascarenhas mengujinya pada sampel tulang yang terdapat di Universitas Hiroshima dalam upaya mengukur radiasi.

Eksperimen-eksperimen tersebut membuktikan bahwa metode itu berguna. Dan, beberapa dekade kemudian, seiring dengan kemajuan teknologi, teknik tersebut kian tepat — yang memungkinkan para peneliti saat ini untuk membedakan antara radiasi dari sebuah serangan nuklir dan background signal — yang dihasilkan berbagai hal yang berbeda dan tidak memiliki tanda khusus.

Penelitian terbaru menggunakan potongan-potongan kecil, berukuran milimeter, dari tulang rahang yang sama, yang dianalisis Sérgio Mascarenhas.

Menurut para peneliti, pengukuran yang diperoleh dalam studi sejalan dengan perkiraan yang dibuat sebelumnya, yang menggunakan sampel non-biologis, termasuk fragmen bata dan genteng dari lokasi ledakan bom atom di Hiroshima, dan teknik biologis berdasarkan DNA korban selamat.

“Sempat ada keraguan tentang kelayakan studi ini, yang bertujuan menentukan dosis radiasi yang terkandung dalam sejumlah sampel,” kata Angela Kinoshita, pengajar Universidade do Sagrado Coracao di Bauru, Sao Paulo yang ikut dalam studi.

“Hasil studi tersebut mengonfirmasi kelayakan teknik tersebut dan membuka berbagai kemungkinan untuk digunakan dalam penelitian masa depan dalam rangka memperjelas rincian dampak serangan nuklir.”

Teknik tersebut makin punya arti penting seiring meningkatnya risiko serangan teroris saat ini.

Misalnya dalam kasus serangan teroris, pelaku biasa menanam bom biasa dengan sejumlah kecil bahan radioaktif dalam bahan peledak.

Dengan menggunakan teknik tersebut, pihak berwenang dapat mengidentifikasi siapa yang terkena dampak radioaktif dan yang membutuhkan penanganan medis segera.

Kesaksian Bomber Hiroshima

Theodore Van Kirk tak sekadar saksi hidup dari malapetaka yang menimpa Kota Hiroshima, Jepang, di penghujung Perang Dunia II. Hari itu, 6 Agustus 1945 pukul 08.15, atas perintah Presiden Amerika Serikat kala itu, Harry S Truman, bom nuklir “Little Boy” berdaya ledak tinggi dijatuhkan dari pesawat pengebom Enola Gay.

Pagi yang cerah itu berubah menjadi sengsara. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya bara api dan asap. Bangunan gosong dan meleleh, tubuh-tubuh bergelimpangan dengan kondisi mengenaskan, termasuk 2.000 murid dan 200 guru yang pagi itu baru memulai kegiatan belajar.

Setidaknya 140.000 orang tewas, sementara mereka yang selamat dihantui penyakit akibat radiasi. Setelah bom atom kedua dijatuhkan di Nagasaki, Jepang menyerah kalah.

Kala itu, Van Kirk adalah navigator dari Enola Gay, pesawat B-29 Superfortress yang menjatuhkan bom atom pertama di dunia. Ia berusia 24 tahun saat itu.

Saat diwawancara pada 2005, Van Kirk mengatakan, berdasarkan pengalamannya selama Perang Dunia II, perang apalagi penggunaan bom atom sama sekali tak menyelesaikan masalah. Ia ingin senjata semacam itu dimusnahkan. (Uli)