Jejak Pemujaan Dan Permukiman Di Lampung Barat Masa Prasejarah

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Jumat, 24 April 2020
loading...

Indolinear.com, Lampung – Lampung Barat merupakan salah satu bagian dari Provinsi Lampung yang terkenal akan wisata alamnya yang indah.

Tak hanya Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, tapi juga terdapat peninggalan purbakala berupa situs zaman prasejarah yang banyak tersebar di Kabupaten Lampung Barat.

Satu diantaranya adalah situs megalitik Batu Berak.

Situs ini dapat dicapai dengan perjalanan darat yakni memakai kendaraan roda dua dan empat.

Situs Purbakala Batu Berak secara administratif berada di Pekon Purajaya, Kecamatan Kebon Tebu, Kabupaten Lampung Barat, Provinsi Lampung.

Situs purbakala ini pertama kali ditemukan pada tahun 1951 oleh rombongan transmigrasi biro rekonstruksi nasional (BRN).

Selang beberapa tahun setelah ditemukan, pada tahun 1980, penelitian pertama dimulai oleh Profesor Dr Aris Sukendar, seorang arkeolog dari Jakarta, dilansir dari Tribunnews.com (23/04/2020).

Kompleks situs purbakala batu berak ini berada di bawah naungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung yang bekerjasama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten.

Peninggalan arkeologis yang ada di situs Baru Berak terdapat beberapa yaitu: Batu Jagur, Tameng, Telaga Mukmin, Batu Jaya dan lain sebagainya,”

Riwayat penelitian sebelumnya pernah dicatat oleh seorang arkeolog dari Belanda, bernama Van Der Hoop. Di dalam disertasi yang diterbitkan pada 1832, disebutkan tentang batu berak di daerah Lampung ini.

Kemudian pada tahun 1951, muncul gerakan Badan/Biro Rekonstruksi Nasional, yang membuka lahan itu untuk transmigrasi.

Berkat itulah kemudian muncul penemuan-penemuan seperti batu-batu yang bersebaran yang ternyata adalah Menhir ataupun Dolmen.

Situs Batu Berak telah melalui pemugaran selama empat tahap yang dimulai pada 1984 hingga 1989.

Pada tahun 1989, kompleks situs megalitik Batu Berak mulai dibuka untuk umum baik untuk wisata maupun untuk keperluan penelitian.

Situs Batu Berak dikelilingi oleh bukit-bukit dan gunung, sebelah utaranya Bukit Abung, di sebelah selatan Bukit Asahan, di sebelah barat Bukit Rigis, dan di sebelah timur itu bukit Betung.

Selain itu terdapat juga situs Batu Jagur. Batu ini berada di bukit dengan permukaan yang rata.

Kemudian juga Batu Tameng yang juga terletak di bukit. Batu ini merupakan Dolmen dan Menhir. Konon katanya, dulu di situ terdapat satu meja dari batu yang di atasnya ada batu bulat, seperti tameng. Sehingga diberi nama Batu Tameng.

Di situs tersebut juga ditemukan fragmen tembikar, keramik, dan Batu Umpak.

Kemudian Telaga Mukmin, sebuah peninggalan dari Dolmen besar dan ada juga yang kecil dan terletak di lerang Bukit Asahan.

Lebih jauh lagi, terdapat juga telaga jernih, suatu sumber air, yang kemudian disebut Telaga Mukmin.

Kemudian juga ada Situs Batu Jaya, ini merupakankompleks megalitik yang besar sekali, ukurannya sampai 220 x 180 x 75 cm dengan besar hampir 3 meter. Ukuran umpaknya juga besar, sekitar 85×75 centimeter.

Umpak-umpak ini juga membuktikan bahwa kemungkinan situs ini digunakan sebagai tempat tiang yang menunjukkan ada suatu tiang-tiang pemukiman.

Terdapat juga situs yang menggambarkan satu tatanan yang banyak dari Dolmen dan sebaran-sebaran Menhir yang ada di sana.

Letak peninggalan megalitik yang berada di Gunung dan Bukit ini berkaitan dengan latar belakang religi yang mereka masyarakat saat itu anut.

Daerah gunung ini adalah daerah yang suci. Apabila ada orang yang mati, masyarakat percaya bahwa roh akan pergi bersemayam ke puncak-puncak bukit itu, yang oleh masyarakat tempat tersebut dijadikan sebagai penghormatan terhadap leluhur.

Dengan mereka bertempat tinggal di situ, itu menunjukkan bahwa mereka memilih tempat yang suci untuk tinggal.

Dimungkinkan pada awalnya, penduduk yang mendiami bukit ini membuat sistem pemilihan seorang kepala suku. Mereka memilih yang terbaik dari masyarakat di situ. Siapa yang paling kuatlah dia yang dipercaya bisa memimpin masyarakat.

Jika pemimpin ini meninggal, maka juga akan dibuatkan Menhir lagi di situ.

Tata cara penghormatan masyarakat berkaitan langsung dengan leluhurnya. Kebudayaan itu terus berkembang hingga penerusnya.

Nah, pembuatan Dolmen untuk leluhur ini juga dimungkinkan sebagai meja saji.

Di dalam penelitian dari arkeolog Belanda tersebut dijelaskan bahwa lokasi situs megalitik ini ternyata juga dikelilingi oleh parit yang dalam.

Bahkan penggalian parit ini memotong dari bentangan lahan yang ada di sekitar.

Jadi terbukti bahwa situs megalitik tadi itu adalah tempat yang dilindungi oleh masyarakat pada zamannya.

Apabila situs tersebut dulunya merupakan tempat tinggal suatu komunitas masyarakat tertentu, maka penempatan situs tersebut dilakukan secara berjajar dan diatur sedemikian rupa di mana ada batas-batasnya, termasuk parit tersebut.

Itulah cara mereka membatasi diri dengan yang lainnya (kelompok lain). Mungkin juga untuk perlindungan dari binatang buas.

Belum ada tanggal yang pasti secara absolut perihal kapan pastinya terbentuk situs megalitik tersebut.

Tetapi, dalam kerangka prasejarah, bangunan megalitikum berada di antara abad 2500 sampai 500 sebelum masehi.

Menurut penelitian dari Belanda, gelombang masuknya kebudayaan megalitikum di Nusantara ini dibawa oleh orang-orang Austronesia.

Salah satu tanda ada kebudayaan megalitikum di Indonesia adalah adanya bangunan besar yang ada di Lampung Barat ini, yaitu Menhir dan Dolmen.

Gelombang kebudayaan berikutnya ditandai dengan adanya pembuatan bangunan bilik-bilik batu dan peti batu.

Bangunan-bangunan ini semuanya difungsikan sebagai pemujaan, atau peringatan upacara terhadap leluhurnya, dan juga upacara agar hasil panen melimpah, tidak terjadi bencana, dan agar tanahnya subur.

Selain itu tadi, terdapat juga situs batu bergores, yang berfungsi untuk mengasah benda tajam, seperti tombak dan mata panah.

Pada tahun 1980 dilakukan penelitian secara intensif oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional yang menyimpulkan bahwa Situs Batu Berak adalah tempat pemujaan.

Pada tahun 2004, Situs Batu Berak ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata.

Setelah dilihat dari penelitian geologi dan geomorfologi, Situs Batu Berak adalah hasil singkapan batuan yang memang sudah terjajar di mana memang ada batuan yang kekar tiang dan slide-stone yang lebar-lebar di tempat itu. Di sanalah masyarakat saat itu membangun situs ini.

Mengapa mereka membangun situs di situ? Karena bahan-bahannya tersedia di situ.

Balai Pelestarian Cagar Budaya juga melakukan pemeliharaan secara periodik menempatkan 6 juru pelihara dan juga melakukan penataan kembali terhadap peninggalan yang ada di Situs Batu Berak.

Diharapkan dengan ditempatkannya 6 juru pelihara ini, Situs Batu Berak dapat terpelihara dengan baik.

Situs Megalitik Batu Berak, sekarang ini mulai dikenal. Jumlah kunjungan mulai meningkat, secara bertahap rata-rata 2000 – 2500 orang perbulan.

Kesan pengunjung begitu bagus, artinya mereka begitu kagum di situs ini baik dari jenis peninggalan dan lingkungan yang terawat.

Pemerintah Kab. Lampung Barat melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Barat dalam rangka turut melakukan pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan Situs Batu Berak, bekerjasama dengan komunitas yang peduli dengan cagar budaya melakukan pentas budaya di situs ini.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Barat merekomendasikan kepada seluruh insan pendidikan di seluruh Lampung Barat khususnya guru dan murid untuk melakukan lawatan cagar budaya di situs ini, agar mereka ke depan merasa memiliki kepedulian terhadap situs megalitik Batu Berak yang ada di Lampung Barat ini.

Situs Batu Berak merupakan salah satu jejak sejarah peradaban dan budaya.

Pada masa sekarang, baik situs Batu Berak atupun situs megalitik lainnya di Indonesia dapat berfungsi sebagai sumber kreativitas, semangat, dan inspirasi yang memiliki manfaat untuk kesejahteraan masyarakat. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: