Jalan Panjang Eric Yuan Temukan Zoom hingga Menjadi Miliarder Dadakan

FOTO: detik.com/indolinear.com
Jumat, 22 Oktober 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Dalam setiap krisis pasti ada peluang, demikian kutipan terkenal dari seorang ilmuan, Albert Einstein. Hal itu ternyata benar-benar terjadi di kehidupan kita. Salah satunya dialami oleh CEO dan pendiri Zoom Eric Yuan.

Selama pandemi, jutaan orang begitu bergantung pada konferensi atau pertemuan virtual. Aplikasi Zoom pun jadi salah satu yang paling banyak dipakai. Berkat pandemi COVID-19, Zoom berhasil menarik hampir 105.000 pelanggan baru pada kuartal II-2020 lalu. Jumlahnya mungkin terlihat kecil, tetapi hal itu menghasilkan 81% dari pertumbuhan pendapatan perusahaan teknologi tersebut.

Saham Zoom Video Communication meroket ke level tertinggi baru sepanjang masa pada awal September 2020 lalu. Menurut perkiraan Wall Street, pendapatan Zoom saat itu mencapai US$ 500,5 juta. Akan tetapi, menurut laporan Zoom, pada periode itu pendapatan perusahaan sudah naik 355% year on year (YoY) setara US$ 663,5 juta. Perusahaan melaporkan EPS (laba per saham) sebesar US$ 0,92, jauh di atas perkiraan Wall Street yang hanya US$ 0,45. Itu berarti Zoom telah berkinerja lebih dari 100% lebih baik dari ekspektasi analis pasar saham.

Hal ini tentu secara tidak langsung menguntungkan sang pendiri aplikasi tersebut. Pada periode perdagangan awal September 2020 lalu, Eric Yuan tercatat mampu menghasilkan kekayaan hingga US$ 6,6 miliar setara Rp 92,4 triliun ketika harga saham perusahaannya melonjak hingga 41% pada Selasa (2/9/2020), saat saham Zoom ditutup di level US$ 457,69, dilansir dari Detik.com (20/10/2021).

Mengenal Sosok Eric Yuan

Eric Yuan, lahir pada 1970 di Tai’an, Provinsi Shandong, China. Kekayaan bersih Eric Yuan sekarang sekitar US$ 23 miliar setara Rp 322 triliun. Uang segitu cukup uang untuk membeli 500 juta barel minyak mentah.

Awal tahun 2020 lalu, Zoom hanya memiliki kapitalisasi pasar sebesar US$ 19 miliar. Saat ini, nilai pasarnya mencapai US$ 129 miliar.

Orang tua Yuan adalah insinyur pertambangan dan dia biasa mengumpulkan sisa-sisa konstruksi untuk mendaur ulang tembaga menjadi uang tunai ketika dia di kelas 4. Sebagai putra insinyur geologi, ia memiliki gelar master di bidang teknik geologi dari Universitas Pertambangan dan Teknologi China di Beijing. Dia juga memiliki gelar di bidang matematika terapan dari Universitas Sains dan Teknologi Shandong.

Setelah bekerja selama 4 bulan di Jepang, Eric Yuan memutuskan untuk pindah ke Silicon Valley, California pada 1997. Rupanya, dia terinspirasi oleh pidato dari CEO Microsoft saat itu Bill Gates tentang masa depan Internet.

Pidato Gates menghidupkan kembali idenya pada tahun 1987 untuk mengembangkan perangkat lunak video conference agar bisa bertemu pacarnya, yang tinggal jauh sekitar 10 jam perjalanan dengan kereta.

Pengalaman itu membuat Eric Yuan berharap ada cara yang lebih baik untuk bisa bersama pacarnya tanpa perlu menempuh perjalanan yang begitu panjang dan menyedihkan.

Dalam sebuah wawancara, Yuan mengungkapkan betapa banyak waktunya terbuang dengan melamun selama menempuh perjalanan untuk bertemu pacarnya.

“Suatu hari, jika saya dapat memiliki perangkat pintar dan hanya dengan satu klik saya dapat berbicara dengan Anda (pacarnya), dapat melihat Anda. Kira-kira begitulah lamunan saya dan setiap hari saya memikirkannya,” ungkap Eric.

Sebelum ia menginjakkan kakinya di Amerika untuk mewujudkan mimpinya, dia sudah diuji dengan tidak hanya satu, dua kali penolakan, akan tetapi delapan penolakan dari Amerika Serikat atas permohonan visanya.

“Saya terus mengajukan permohonan lagi dan lagi selama dua tahun dan akhirnya menerima visa saya pada percobaan kesembilan,” ujar Eric.

Dia berusia 27 tahun, tepatnya pada Agustus 1997, dan akhirnya ia diizinkan tinggal di California. Bagaimana kehidupannya di AS hingga akhirnya berhasil menemukan Zoom? Klik halaman selanjutnya.

Sesampainya di Amerika, Eric tak bisa pilih-pilih kerja, karena bahasa Inggrisnya juga tidak lancar-lancar amat saat itu, belum lagi aksen China nya masih begitu kental. Kelebihannya ada pada penulisan kode komputer.

Oleh karena itu, dia akhirnya menjadi teknisi di WebEx, sebuah startup konferensi web, yang akan dijual ke Cisco 10 tahun kemudian pada tahun 2007. Sebagai salah satu dari 20 karyawan pertama, dia adalah angkatan perintis.

“Saya tidak bisa bergabung dengan tim pemasaran atau tim penjualan. Saya harus kembali menulis kode. Saya tahu dua hal dari ayah saya: terus bekerja keras, tetap rendah hati, dan suatu hari nanti Anda akan baik-baik saja,” katanya.

Benar saja, dia tetap setia dengan WebEx. Saat WebEx diakuisi Cisco senilai US$ 3,2 miliar, ia akhirnya menuai hasil. Dia menjadi sangat kaya. Namun, tidak seperti beberapa staf lainnya, yang setelah menikmati keuntungan itu lalu pergi, Yuan tetap bertahan dengan perusahaan itu.

“Dia belum siap untuk pergi. Dia memiliki banyak loyalitas,” kata David Knight, Wakil Presiden di WebEx pada saat akuisisi.

Yuan begitu terikat dengan perusahaan Amerika pertamanya sehingga dia menyebut WebEx sebagai bayinya.

“Dia tulus, hampir naif karena dia selalu peduli dengan pelanggan WebEx dan bahwa mereka tidak dilayani,” ujar Subrah Iyar, salah satu pendiri WebEx.

Ketika WebEx merayakan IPO-nya di NASDAQ pada tahun 2000, Eric Yuan ada di sana bersama mentornya Subrah Iyar. Setelah dibeli oleh Cisco, Yuan naik pangkat menjadi Wakil Presiden bidang teknik Cisco. Gajinya melejit sangat tinggi mencapai 6 digit. Tapi entah mengapa dia tidak bahagia.

“Setiap hari, ketika saya bangun, saya tidak terlalu bahagia. Saya bahkan tidak ingin pergi ke kantor untuk bekerja,” ungkap Eric Yuan.

Dia tidak melihat satu pun pelanggannya puas dengan produk video conference yang telah dia bantu kembangkan selama bertahun-tahun. Jadi pada tahun 2011, Yuan menawarkan sistem video conference yang ramah dengan smartphone untuk manajemen Cisco.

Sayangnya, ide itu ditolak oleh bos barunya. Bos barunya masih betah menggunakan kode buggy yang sama dengan yang dia tulis untuk WebEx kira-kira 20 tahun yang lalu.

Eric pun meninggalkan Cisco untuk mendirikan perusahaannya sendiri yaitu Zoom Video Communications.

“Cisco lebih fokus pada jejaring sosial, mencoba membuat perusahaan Facebook. Cisco membuat kesalahan. Tiga tahun setelah saya pergi, mereka menyadari apa yang saya katakan itu benar,” katanya.

Namun, bukan berarti setelah keluar dari Cisco dan mendirikan Zoom, urusannya langsung mulus, langsung cuan. Di awal mengembangkan Zoom, dia kesulitan meyakinkan investor untuk mendukung usaha barunya tersebut. Akhirnya ia terpaksa meminjam uang dari teman dan keluarga.

Kesulitan-kesulitan itu membuat istrinya ragu dengan keputusan Eric keluar dari Cisco dan memilih mendirikan Zoom. Namun, dengan sabar ia meyakinkan istrinya bahwa pilihannya itu sudah tepat.

“Saya tahu ini perjalanan yang panjang dan sangat sulit, tetapi jika saya tidak mencobanya, saya akan menyesalinya,” kata Yuan.

Tak lama, lebih dari 40 rekan insinyur WebEx mengikutinya mengembangkan Zoom. Namun, perjalanannya mengembangkan Zoom tetap tak mulus begitu saja. Zoom sempat dituduh tak jujur oleh salah satu pelanggannya. Akhirnya, Eric mampu meyakinkan pelanggannya tersebut bahwa tuduhan itu tidak benar. Perlahan, Zoom mulai berkembang pesat.

“Saat saya memulai Zoom, saya mulai menghubungkan titik-titiknya. Rasanya seperti wow, saya pernah memikirkan itu sebelumnya, tapi teknologinya belum siap, tapi idenya ada di sana,” imbuhnya.

Akhirnya, dia berhasil mengumpulkan dana awal sebesar US$ 3 juta, dan yang mengejutkan adalah, salah satu investor Zoom adalah mantan bosnya sendiri yang sekaligus pendiri WebEx yaitu Subrah Iyar yang sekarang menjadi penasihat Zoom.

Tapi Subrah bukanlah investor pertama yang memberinya modal, melainkan ada Dan Scheinman, mantan kepala pengembangan perusahaan Cisco. Tanpa ragu, Scheinman telah menyiapkan cek senilai US$ 250.000 untuk Eric.

Scheinman bukan hanya investor pertama yang memberi uang pada Yuan, tetapi juga yang memperkenalkannya kepada sepupunya, Jim Scheinman, mitra pendiri Maven Ventures.

Selanjutnya, Jim tidak hanya menjadi investor dan penasihat, tetapi dia benar-benar membantu Eric Yuan menemukan nama untuk perusahaan. Saat itu, Jim menawarkan 4 nama yaitu Zippo, Hangtime, Poppy, dan Zoom. Akhirnya nama Zoom yang dipilih.

Ketika versi pertama Zoom diperkenalkan ke pasar pada tahun 2013, aplikasi itu berhasil menarik 3.500 perusahaan dalam waktu 5 bulan sejak peluncurannya. Dua tahun kemudian jumlahnya bertambah menjadi sekitar 65.000 perusahaan dengan lebih dari 40 juta peserta, sebagian karena ditawarkan sebagai produk gratis dan sebagian besar karena luluh kepada Yuan yang mau memahami masalah para pelanggannya.

Zoom sempat mengalami kendala keamanan atau privacy para penggunanya di bulan Juli 2020 lalu. Dengan cepat para pendiri dan timnya memperbaiki masalah tersebut dengan tambalan keamanan kecil.

Ketika Zoom terdaftar pada April 2019, perusahaan itu langsung menawarkan 9,9 juta saham Kelas-A dalam IPO-nya untuk mengumpulkan dana segar hingga US$ 346,9 juta. Di hari pertama perdagangannya, saham Zoom naik 72% menjadi US$ 62.

Eric Yuan pun menjadi miliarder instan pada usia 49 tahun, di mana ia memiliki 20% saham perusahaan itu yang bernilai sekitar US$ 2,9 miliar.

Pada April 2020, Eric Yuan langsung menduduki peringkat No. 192 di daftar 500 orang terkaya versi Bloomberg. Hampir 5 bulan kemudian, dia menjadi orang terkaya No. 50 di dunia. (Uli)