Jakarta dan Seluruh Keunikan Janjinya (1)

Senin, 27 April 2015

BICARA Jakarta, pasti kita akan dengan cepat mengingat ikon yang ada padanya. Apapun itu, baik dari sisi kesebalan yang terjadi akibat rutinitas, maupun kebanggaan atau ketakjuban dan tokoh-tokoh yang pernah ada dan berbuat di Jakarta.

Macet! Banjir! Penat! Sampah! Pasti ini yang bersentuhan dengan sebagian warga Jakarta. Bisa juga, Monas! Taman Mini! Ancol! Saat anda mengingat sebagian kemegahan yang tersaji di ibukota negara ini. Ali Sadikin! Sutiyoso! Fauzi Bowo! Ahok! Tokoh yang pernah jadi DKI Satu dihiasi dengan karakter kepemimpinannya. Bang Ali dengan keberanian melegalkan judi, Sutiyoso dengan rencana bus way nya, Foke dengab kanal barat dan kanal timurnya dan Ahok dengan e-budgeting yang katanya akan meminimalisir anggaran siluman.

Semua tahu, sebagai Ibukota, banyak mimpi yang dijanjikan di Jakarta yang dulu bernama Batavia ini. Apalagi era 80-an, saat sistem pemerintahan bersifat sentralistik, jong moeda, dari Sabang sampai Merauke berebut dan mencoba mengadu nasib di Jakarta. Itu juga yang mungkin membuat beberapa wilayah akrab dengan sebutan Kampung Ambon, Kampung Jawa, Kampung Makassar dengan Kawasan Menteng yang jadi ikon kemegahan dan kehidupan cosmopolitan kala itu.

Tidak salah memang, Jakarta hingga saat ini masih diibaratkan sebagai seonggok gula yang direbutkan ribuan semut. Jakarta masih menjanjikan. Ini tidak terlepas dari nama besar Jakarta diantara daerah lain! Contoh kecil, saat muda-mudi berbincang mengenai alamat tinggal. Satu mengaku tinggal di Pondok Indah satu lainnya mengaku tinggal di kawasan BSD, Serpong Tangsel. Anda semua pasti tahu tempat tinggal mana yang lebih prestisius dari perbincangan itu. Atau saya memilih menjawab dari benak saya. Pasti kawasan Pondok Indah! Meskipun – apabila anda sengaja berkeliling – Pondok Indah dan BSD sudah hampir tidak ada perbedaan dari sisi fasilitas, utilitas hingga kenyamanan wilayah. Perbedaannya mungkin hanya terletak pada nilai lahan yang lebih mahal di kawasan Pondok Indah. Meskipun, kawasan BSD lebih menjanjikan dari sisi kenyamanan berkendara alias jauh dari kata macet!!!

Kenapa ini terjadi? Kenapa Jakarta tetap jadi kawasan rebutan untuk mencari nafkah? Apa yang salah? Atau ini memang sengaja ada pembiaran! Pada posisi ini, kita hanya bisa menganalisa dan mengkaji. Ibarat pengamat, kita hanya bisa berbicara lantang dengan berbagai teori. Tidak bisa memutuskan karena itu kewenangan pemangku kebijakan. Namun rasanya itupun setidaknya cukup. Dari landasan teori maupun argumen yang kita keliarkan, setidaknya bakal memperluas hasanah dan mungkin bisa membuat kita langsung hijrah dari Jakarta demi menyelamatkan Ibukota dari kemacetam dan beragam kepenatan lain.

Saat sistem desentralisasi dan otonomi daerah diterapkan, salah satu mimpi yang ingin direalisasikan adalah meningkatkan kesejahteraan di daerah, luar ibukota Jakarta. Dengan begitu, seonggok gula yang semua terkumpul di Jakarta dapat terbagi ke daerah lain. Berjalan lurus dengan berkurangnya urbanisasi yang mengerubungi Jakarta. Masyarakat di daerah diharap dapat berdikari dan menjadi raja maupun putri di tanah kelahirannya.

Beragam konsep dan program pernah digulirkan. Sempat tersiar rencana megadahsyat di era 90-an. Seruan untuk memindahkan ibu kota negara dikumandangkan. Mulai dari pemindahan ke kawasan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Makassar, Sumatera hingga ke Yogyakarta. Namun hingga saat ini realisasi itu tak pernah terwujud.

Lebih miris, rencana itu ibarat mimpi di siang bolong. Banyak perdebatan, banyak kekhawatiran dan akhirnya tidak ada jalan keluar.

Makin aneh, saat rencana besar itu digelar ke publik. Aneh, setidaknya menurut saya, tidak ada satupun rencana besar yang mengarah ke sana. Malah, pembangunan gedung-gedung bertingkat makin merajalela, pembangunan transportasi massal pun dikembangkan mengelilingi Jakarta. Halim Perdana Kusuma, bandara yang awalnya terbatas di ubah melayani publik yang jelas memancing keramaian kembali di Jakarta. (bersambung)

INDOLINEAR.TV