Ismail Sabri Calon Kuat PM Malaysia, Anaknya Seorang Penyanyi Terkenal

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Sabtu, 21 Agustus 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Dato’ Sri Ismail Sabri bin Yaakob yang akrab disebut Ismail Sabri disebut-sebut calon kuat Perdana Menteri (PM) Malaysia menggantikan Muhyiddin Yasin yang mengundurkan diri.

Lahir 18 Januari 1960 silam, Ismail Sabri dikenal sebagai seorang politikus senior di Malaysia.

Awal karirnya dia dikenal sebagai pengacara di tahun 80-an.

Ismail mulai masuk ke politik di tahun 90-an dan dipercaya jadi Anggota Dewan Kota Temerloh pada tahun 1996.

Sebelumnya pada tahun 1993, dia dipromosikan menjadi Ketua Bidang Gerakan Pemuda, Wakil Ketua Bidang (2001) dan menjadi Kepala Bidang Temerloh UMNO pada tahun 2004.

Meski tidak setenar Anwar Ibrahim di Indonesia namun Ismail Sabri sangat tenar di Malaysia.

Dia malang melintang di jabatan eksekutif dan juga di parlemen Malaysia.

Saat ini dia masih menjabat sebagai Menteri Senior Keamanan dan Menteri Pertahanan sejak Maret 2020 setelah runtuhnya pemerintahan Pakatan Harapan.

Ia juga menjabat sebagai Pemimpin Oposisi sejak Maret 2019 hingga Februari 2029 dan Anggota Parlemen (MP) Bera sejak 2004.

Dikenal sebagai pejabat tinggi di partai politik terbesar di Malaysia UMNO sebagai Wakil Presiden dan anggota UMNO.

Pada 20 Desember 2018, ia diangkat untuk menjalankan tugasnya sebagai Wakil Presiden UMNO yang baru setelah incumbentnya terpilih sebagai Presiden (de facto) sejak 18 Desember 2018.

Ia diangkat sebagai Pemimpin Oposisi di DPR sejak 2019.

Tahun 2015 silam, Ismail Sabri memicu pro dan kontra di Malaysia.

Penyebabnya postingan dia di Facebook memicu protes karena meminta konsumen Melayu untuk memboikot bisnis China karena memonopoli dan mengambil untung di Malaysia.

Polisi kala itu berniat mengusut pernyataan bernada menghasut tersebut namun hingga kini kasusnya belum muncul ke public, dilansir dari Tribunnews.com(19/08/2021).

Anaknya Penyanyi

Ismail Sabri menikah dengan Datin Muhaini Zainal Abidin pada tahun 1986. Dia memiliki putra bernama Gadaffi Ismail Sabri yang akrab disapa Dafi Sabri. Anak muda ini terkenal di Malaysia karena dia seorang penyanyi.

Kakaknya yakni Nani Sabri seorang sosialita ternama di Malaysia. Di Indonesia nama Dafi juga banyak dikenal publik. Dia pernah duet dengan beberapa penyanyi Indonesia.

Dafi pernah berduet dengan penyanyi Indonesia Gita Gutawa tepatnya tahun 2008. Keduanya merilis lagu berjudul ‘Dua Hati Menjadi Satu’.

Lagu ciptaan Yovie Widianto itu bisa dibilang sangat populer tak lama setelah dirilis.

Ahmad Dhani juga pernah menggaet Dafi bergabung dalam manajemen Republik Cinta (RCM) miliknya.

Peluang Ismail Sabri

Identitas siapa yang akan menjadi perdana menteri baru Malaysia pengganti Muhyiddin Yassin mulai terkuak.

Ismail Sabri Yaakob, menurut laporan sejumlah media Malaysia, favorit kuat menjadi orang nomor satu “Negeri Jiran”

Sejumlah sumber menyebutkan, mantan wakil perdana menteri Malaysia itu telah mengamankan dukungan mayoritas parlemen yang diperlukannya.

Ismail diberitakan telah mengantongi 115 dukungan parlementarian yang berasal dari komponen partai pendukung koalisi Perikatan Nasional dan Barisan Nasional.

Angka ini sama dengan jumlah dukungan terhadap Muhyiddin Yassin sebelum pemerintahannya kolaps awal pekan ini.

Diperlukan minimal 111 kursi untuk mencapai mayoritas di Dewan Rakyat dari total 220 politisi yang menghuninya.

Seluruh anggota Dewan Rakyat harus mengirimkan calon PM dukungannya melalui email, faks, atau WhatsApp kepada Raja Malaysia Sultan Abdullah paling lambat Rabu (19/8/2021) pukul 16.00 waktu setempat.

UMNO bersatu dukung Ismail

Awalnya, Ismail tidak kunjung mendapatkan restu, ironisnya dari Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), partai tempat dia menjabat sebagai salah satu petinggi senior, yakni wakil presiden.

Sudah menjadi rahasia terbuka kalau UMNO saat ini sedang mengalami perpecahan internal antara blok yang mendukung Muhyiddin dan yang menentangnya.

Walau sama-sama rekan separtai, Ismail kesulitan mengamankan dukungan dari faksi yang dipimpin presiden partai Zahid Hamidi dan mantan perdana menteri Najib Razak.

Peluang kecil Anwar Ibrahim

Pesaing terberat Ismail adalah pemimpin oposisi Malaysia dari Partai Keadilan Rakyat, Anwar Ibrahim.

Anwar diberitakan sudah berhasil mengamankan dukungan untuk menjadi PM dari blok oposisi di luar Pakatan Harapan yang dipimpinnya.

Pakatan yang mengantongi 88 kursi terdiri dari Partai Keadilan Rakyat (PKR) pimpinan Anwar, Partai Aksi Demokrat (DAP), dan Partai Amanah.

Salah satu dukungan krusial yang diperoleh Anwar berasal dari musuh politik bebuyutannya, eks PM Malaysia Mahathir Mohamad.

Putra Mahathir yang juga Presiden Partai Pejuang Mukhriz Mahathir menyampaikan partainya akan memprioritaskan dukungan terhadap Anwar dan mantan Menteri Besar Sabah Shafie Apdal.

“Sepanjang Anwar berhasil mengamankan angka yang diperlukan, kita akan mendukung dia.” tutur Mukhriz.

Dukungan mengejutkan Mahathir diikuti oleh partai regional Warisan pimpinan Shafie dan sejumlah partai kecil dan politisi independen yang loyal terhadap Mahathir.

Presiden PKR itu dilaporkan menjanjikan kursi orang nomor dua terhadap Shafie jika dia berhasil menjadi penghuni Seri Perdana.

Anwar masih berpeluang untuk mewujudkan mimpi 23 tahunnya menjadi PM walau sangat terjal.

Harapannya blok Zahid tidak solid dan mengubah keputusan mereka di menit-menit terakhir untuk memilih Ismail. Anwar dan Zahid adalah teman lama dan sampai saat ini masih berhubungan baik.

Namun Zahid telah menyatakan pada kongres tahunan UMNO awal tahun ini bahwa partai pimpinannya tidak akan pernah berkoalisi politik dengan Anwar dan DAP, partai yang kerap dilabeli sebagai partai Tionghoa Malaysia.

UMNO dan DAP adalah rival politik bebuyutan sejak kemerdekaan Malaysia. DAP kerap mengkritik UMNO sebagai partai korup dan rasis.

DAP sendiri telah menyatakan keberatan untuk bekerjasama dengan Zahid dan Najib yang saat ini menghadapi persidangan puluhan kasus korupsi.

Anwar juga mendekati kingmaker Gabungan Partai Sarawak (GPS) yang memegang 18 kursi krusial.

Jika GPS memutuskan berpaling dari Ismail, politisi berusia 74 tahun itu akan mendapatkan angka mayoritas tanpa harus mengandalkan dukungan UMNO. (Uli)