Invasi Teluk Babi untuk Menggulingkan Fidel Castro Dimulai

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Jumat, 12 Juli 2019

Indolinear.com, Washington DC – 17 April 1961, 57 tahun yang lalu, Amerika Serikat memulai invasi ke Teluk Babi di Kuba demi menggulingkan pemerintahan Fidel Castro. Peristiwa itu menandai klimaks dari kebijakan luar negeri AS yang anti-Kuba semasa Perang Dingin.

Invasi Teluk Babi dimulai ketika sekelompok pengungsi Kuba yang didanai dan dilatih oleh Badan Intelijen AS (CIA) mendarat di negara tanah kelahiran mereka.

Para pengungsi itu didanai dan dilatih untuk satu tujuan utama, menggulingkan pemerintahan komunis Fidel Castro di Kuba. Demikian seperti dikutip dari Liputan6.com (10/07/2019).

Fidel Castro telah menjadi perhatian utama AS sejak ia berhasil merengkuh kekuasaan di Negeri Cerutu usai mendalangi sebuah revolusi pada Januari 1959.

Saat berkuasa, Castro menerapkan kebijakan dan retorika anti-AS — yang ia anggap sebagai sebuaah negara kapitalis anti-komunis.

Hubungan Havana dan Washington semakin memanas setelah Kuba mendekatkan diri kepada poros komunis dunia dan musuh utama AS pada saat itu, Uni Soviet.

Moskow pun menerima Kuba bak gayung bersambut — menganggap Havana sebagai negara yang memiliki keuntungan strategis dan ideologis bagi Soviet dalam Perang Dingin melawan AS.

Gedung Putih pun memanas. Mereka kemudian menyimpulkan bahwa Kuba — yang hanya berjarak 780 km dari Negara Bagian Florida — adalah ancaman nyata bagi Negeri Paman Sam

Pada Maret 1960, Presiden AS Dwight D Eisenhower memerintahkan CIA untuk melatih dan mempersenjatai ribuan pengungsi serta oposisi Castro yang terbuang dari Kuba ke AS untuk melakukan serangan bersenjata ke tanah kelahiran mereka sendiri.

Usai masa jabatan Eisenhower habis, Presiden John F Kennedy pun mewarisi program invasi ke Teluk Babi tersebut pada 1961.

Presiden JFK pun kemudian memberi lampu hijau atas rencana invasi ke Kuba itu, meski, banyak penasihat militernya mengimbau bahwa taraf kesuksesan misi tersebut cenderung kecil.

Invasi Gagal dengan Imbas Besar

Pada 17 April 1961, sekitar 1.200 orang buangan Kuba yang dipersenjatai dengan senjata AS menyeberang menuju Teluk Babi di Kuba, menggunakan alutsista pendarat AS pula.

Para perencana militer AS berharap, ribuan orang itu bisa menjadi ujung tombak dan penyulut gerakan kudeta di Kuba yang berkeinginan untuk menggulingkan Fidel Castro.

Sayangnya, rencana dan harapan itu meleset besar. Ribuan pasukan oposisi yang mendarat di Teluk Babi usai berlayar dari AS justru disambut dengan serangan balik yang tiba-tiba dan cepat dari militer Castro.

Pasukan udara Kuba pro-Castro juga berhasil menenggelamkan sebagian besar kapal-kapal pendukung operasi kelompok oposisi. Sementara itu, Amerika Serikat justru menahan diri dari memberikan dukungan udara yang diperlukan dalam upaya pemberontakan yang diperkirakan tidak pernah terjadi. Lebih dari 100 pasukan oposisi terbunuh, dan 1.100 lainnya ditangkap oleh pasukan Castro.

Kegagalan invasi Teluk Babi sangat merugikan Amerika Serikat.

Castro kemudian menggunakan serangan itu untuk semakin memperkuat kekuasaannya di Kuba dan mempererat kerja sama militer dengan Uni Soviet.

Moskow menanggapi dengan memberikan bantuan tentara dan rudal. Hal itu kemudian memicu Krisis Misil Kuba pada Oktober 1962, ketika Amerika Serikat dan Uni Soviet di ambang saling menembak satu sama lain dengan rudal nuklir di Kuba.

Lebih lanjut, di banyak wilayah Amerika Latin, Amerika Serikat diremehkan karena penggunaan kekuatan bersenjata dalam upaya untuk menggeser Castro, seorang pria yang dianggap sebagai pahlawan bagi banyak orang karena pendiriannya terhadap campur tangan dan imperialisme AS.

Presiden Kennedy mencoba untuk menebus konsekuensi kegagalan invasi Teluk Babi itu dengan secara terbuka menerima kesalahan atas serangan tersebut. Terlepas dari langkah itu, kegagalan invasi Teluk Kuba menimbulkan noktah tersendiri bagi Presiden JFK, yang menjadi ragu terhadap kebijakan luar negerinya semasa Perang Dingin. (Uli)