Intip Sejarah Dan Makna Kue Keranjang, Sajian Lambang Kemakmuran

FOTO: grid.id/indolinear.com
Selasa, 28 Desember 2021

Indolinear.com, Jakarta – Sebentar lagi, jutaan orang di seluruh dunia akan merayakan Hari Raya Imlek 2021.

Perayaan Imlek 2021 akan berlangsung pada Jumat (12/2/2021) mendatang.

Beberapa hari menjelang perayaan Imlek 2021, masyarakat dunia pun sudah mulai sibuk mempersiapkan acara terpenting dalam kalender China ini.

Salah satu kebutuhan yang biasanya dipersiapkan untuk perayaan Imlek adalah kue keranjang.

Kue keranjang adalah sajian khas yang selalu dihidangkan pada saat perayaan Imlek.

Kue keranjang dalam bahasa Mandarin disebut dengan Nian Gao yang berarti kue puding lengket dengan harapan tinggi.

Sesuai dengan namanya, Nian Gao sering disusun tinggi bertingkat dengan penyusunan dari bawah hingga atas semakin kecil.

Mengutip dari Grid.id (27/12/2021), kue manis ini memiliki menyimpan berbagai makna dan harapan.

Bagi orang tua, nian gao mengungkapkan keinginan panjang umur. Untuk kaum muda, kue tersebut mengutarakan keinginan untuk mendapatkan jabatan dan penghasilan tinggi.

Sedangkan bagi anak-anak, ini mengekspresikan keinginan untuk tumbuh dewasa.

Dilihat dari warnanya, nian gao juga dinilai sebagai makanan keberuntungan dan menyampaikan harapan baik untuk tahun yang lebih baik.

Warna utama nian gao adalah kuning dan putih.

Dalam budaya Cina, warna kue tersebut melambangkan Dewa Kekayaan.

Mitos di Balik Kue Keranjang

Ada berbagai mitos dalam sejarah kelahiran kue keranjang.

Satu di antaranya tentang ada seekor raksasa yang bernama Nian dan tinggal di sebuah gua di gunung.

Raksasa itu hanya akan keluar dari gua ketika lapar.

Ia akan memakan semua persediaan makanan penduduk desa.

Banyak masyarakat desa takut dengan Nian selama puluhan tahun.

Sampai akhirnya, ada seorang warga desa bernama Gao yang memiliki ide untuk membuat beberapa kue sederhana.

Kue tersebut terbuat dari tepung ketan dan gula yang dicampur.

Kemudian, kue itu diletakkan di depan pintu untuk diberikan kepada Nian.

Ketika Nian berburu makanan, ia melihat kue keranjang di setiap rumah dan memakannya hingga kenyang.

Nian pun kembali ke gua meninggal desa. Sejak saat itu, penduduk desa membuat kue keranjang setiap musim dingin untuk mencegah Nian makan manusia.

Selain raksasa nian, ada juga mitos soal Dewa Dapur yang mengawasi setiap rumah.

Setiap tahun, ia akan melapor kepada Kaisar Langit soal apakah keluarga itu melakukan hal baik atau buruk.

Nah, salah satu cara untuk membungkam Dewa Dapur adalah dengan mengisi mulutnya dengan kue beras ketan.

Dengan begitu, ia tidak bisa menjelek-jelekkan si pemilik rumah. (Uli)