Ini Tiga Mitos Burung Perkutut, Salah Satunya Jelmaan Pangeran

FOTO: pikiran-rakyat.com/indolinear.com
Senin, 4 Juli 2022

Indolinear.com, Jakarta – Tanah Jawa nyatanya masih menyimpan legenda dan mitos terkait burung perkutut.

Terdapat 3 mitos burung perkutut yang paling melegenda di tanah Jawa.

Dari 3 mitos itu, salah satu mitos yang paling melegenda adalah adanya pangeran yang menjelma menjadi burung perkutut.

Lantas apa saja 3 mitos burung perkutut yang paling melegenda di tanah Jawa?

Seperti dikutip Pikiran-rakyat.com (03/07/2022), berikut ini 3 mitos burung perkutut yang paling melegenda di tanah Jawa.

  1. Mitos Perkutut Jadi Ular

Mitos ini mungkin sudah tidak asing lagi untuk pemilik perkutut lokal.

Konon katanya ada burung perkutut yang memiliki kemiripan corak bulunya dengan sisik ular.

Kemungkinan warna pada bulu burung perkutut itu memang diperuntukan untuk pertahanan dari ancaman atau bahaya.

Jadi sebenarnya perkutut yang berubah menjadi ular benar-benar tidak berubah menjadi ular.

Tapi hanya mengelabui pandangan mata manusia dengan kemampuannya berkamuflase sehingga terlihat seperti ular.

  1. Mitos Burung perkutut Jelmaan

Kisah ini berawal dari kisah legenda kerajaan majapahit namun keberadaannya masih menjadi mitos di tanah Jawa.

Berawal dari cerita masyarakat tentang adanya burung jelmaan seorang pangeran.

Burung itu memiliki bulu yang indah dan memancarkan aura wajah.

Namun nyatanya memang ada beberapa burung perkutut yang memiliki aura yang kuat misalnya katuranggan Rojo Dino yang berarti rajanya hari.

  1. Mitos pesugihan burung perkutut

Pesugihan yang dimaksud adalah pesugihan perkutut Putut Manggung.

Mitos ini muncul karena adanya cerita bahwa burung perkutut disebut burung yang bisa hidup di 2 alam.

Kemudian banyak yang menggunakan burung ini sebagai perantara menghubungkan ke dimensi-dimensi lain untuk kebutuhan tertentu.

Salah satunya untuk sarana pesugihan, terutama dalam urusan memperkaya diri sendiri.

Itulah 3 mitos burung perkutut yang paling melegenda di tanah Jawa.

Selama ini tidak bisa dipungkiri semua itu menjadi suatu mitos yang tak lekang oleh waktu. (Uli)

loading...