Ini Lima Plot Pembunuhan Hitler Yang Gagal

liputan6com/indolinear.com
Jumat, 1 Desember 2017
loading...

Indolinear.com, Berlin – Seandainya ada mesin waktu, Jeb Bush bersedia kembali ke masa lalu, sekitar tahun 1889. Tujuannya, membunuh Adolf Hitler saat sang fuhrer saat masih bayi tanpa dosa.

“Hell yeah, I would,” kata Bush pada Huffington Post, saat ditanya apakah ia akan membunuh Hitler jika berkesempatan kembali ke masa lalu.

Alasannya, demi menyelamatkan dunia dari sejarah kelam yang diciptakan bayi mungil berpipi montok pada masa depan.

“Itu mungkin akan berakibat buruk bagi banyak hal. Namun aku akan tetap melakukannya — maksudku (membunuh) Hitler,” kata adik George W Bush, yang pernah mencalonkan diri dalam Pilpres Amerika Serikat 2016.

Jika pernyataan Jeb Bush fantasi belaka, sejumlah orang bahkan pernah mencobanya — termasuk mereka yang ada di lingkaran dekat Hitler.

Sejumlah pejabat Jerman di era Nazi bahkan berpendapat, Adolf Hitler harus mati.

Pembunuhan dianggap satu-satunya cara untuk menghentikan malapetaka yang membayangi Jerman. Setelah bos Nazi itu tewas, kudeta akan menyusul. Lalu, pemerintahan baru di Berlin bakal menyelamatkan negara dari kehancuran di tangan pihak Sekutu.

Namun, meski banyak orang telah mencobanya, plot pembunuhan selalu berujung kegagalan. Nyawa Hitler tumpas di tangannya sendiri, setelah menelan pil sianida dan menembakkan peluru ke bagian pelipis, jelang kekalahan Jerman di penghujung Perang Dunia II.

Seperti dilansir dari Liputan6.com (29/11/2017), berikut 7 plot pembunuhan Adolf Hitler yang gagal:

  1. Terlambat 13 Menit

Pada 8 November 1939, pemimpin Nazi Adolf Hitler dijadwalkan menyampaikan pidato tahunan di sebuah pub yang khusus menyajikan beer, beer hall, atau bierpalast di Munich. Di sana, sang fuehrer akan berpidato tentang perjuangan Nazi pada tahun 1920-an.

Hitler menggunakan momentum tersebut untuk mengejek musuh-musuhnya dan berkoar tentang keberhasilan Jerman memulai perang.

Namun, Hitler, para pejabat Nazi, juga loyalisnya tak menyadari, hanya beberapa meter dari podium, sebuah bom siap meledak.

Tak ada yang mendengar detak bom waktu tersebut, teredam riuh suara pengunjung, juga wadah dari gabus yang melapisinya.

Bahan peledak itu dirakit dan diam-diam diletakkan oleh Georg Elser, tukang kayu berusia 36 tahun.

Sejak setahun sebelumnya, ia merencanakan aksi itu. Pria itu merasa di bawah Hitler “perang bakal tak terhindarkan”.

Namun aksinya digagalkan oleh waktu 13 menit.

Biasanya, setiap tahun, Hitler menyampaikan pidato dengan durasi yang sama. Namun, kala itu, karena berniat segera kembali ke Berlin, ia menyelesaikan pidato lebih awal.

Tiga belas menit setelah Hitler meninggalkan lokasi, bom meledak, 8 orang tewas dan bangunan rusak parah. Langit-langit tepat di atas podium tempat Hitler berpidato runtuh.

Hitler selamat. Lalu, sampai 1945, ia memimpin Jerman dalam perang yang diwarnai genosida terhadap kaum Yahudi di Eropa.

Koran Nazi, Voelkischer Beobachter, kala itu menyebut peristiwa itu sebagai ‘keajaiban yang menyelamatkan Fuhrer’.

Rezim Nazi diragukan akan terus bertahan tanpa Hitler juga tokoh lainnya. Itu mengapa Elser berharap untuk membunuh bos Nazi itu. Sedikitnya itu solusi jangka pendek.

Sejarawan pun yakin, jika Hitler berhasil dihabisi pada 1939, niscaya perang akan dipersingkat, dan mengurangi penderitaan para korban Holocaust.

Sementara, Georg Elser ditangkap sesaat setelah bom meledak. Ia dibekuk saat berusaha menyeberangi perbatasan ke Swiss.

Alih-alih langsung dihukum mati, Elser ditahan di sebuah kamp konsentrasi selama perang dan akhirnya dieksekusi pada 1945.

Meski gagal, nama Georg Elser tercatat dalam sejarah sebagai, “orang yang nyaris membunuh Hitler”.

  1. Ragu-Ragu Menembak

Maurice Bavaud adalah seorang mahasiswa teologi dari Kota Neuchatel, Swiss.

Ia membenci Hiller. Pemimpin Nazi itu dia anggap berbahaya bagi Swiss, kekristenan, juga bagi seluruh manusia. Bavaud merasa adalah tugasnya untuk menghabisi sang Fuhrer.

Dengan mengantongi pistol, ia pergi ke Jerman. Gagal bertemu dengan pembunuh bayaran, Bavaud bergabung dengan kerumunan pendukung Nazi yang ingin menyaksikan parade Hilter di jalanan Munich pada 9 November 1938.

Saat Hitler melintas di depannya, Bavaud berniat mengeksekusi diktator itu. Namun, ia terhalang tangan orang-orang yang memberikan salut.

Dalam hitungan detik, Bavaud berpikir keras, apakah ia tetap akan menembakkan pistolnya, biar Tuhan yang bertindak untuk mengarahkan peluru itu melewati kerumunan dan menembus targetnya.

Di sisi lain, ia takut tembakannya secara tak sengaja mengenai orang tak berdosa. Bavaud memutuskan tak jadi menembak dan kabur.

Tak lama kemudian, saat naik kereta menuju Prancis, ia kedapatan menggunakan tiket palsu.

Saat petugas merazia barang miliknya, mereka menemukan sepucuk pistol dan peta rumah peristirahatan Hitler.

Bavaud kemudian ditangkap dan dieksekusi penggal menggunakan guillotine pada Mei 1941 di Penjara Plotzensee, Berlin.

“Aku ingin menangis, tapi tak bisa,” demikian cuplikan isi surat kepada orangtuanya, sehari sebelum eksekusi. “Jantungku serasa mau meledak.”

Swiss, yang punya kebijakan netral terhadap Jerman, sebelum maupun selama Perang Dunia II gagal menghentikan eksekusi itu.

Penyesalan sempat diucapkan Presiden Swiss, Pascal Couchepin pada 2008.

“Ia telah memprediksi malapetaka yang akan dibawa Hitler pada seisi dunia,” ungkap Couchepin dalam pernyataannya. “Karena itulah Bavaud berhak dikenang dan mendapatkan penghormatan.”

  1. Ilmu Hitam Vodoo

William Seabrook adalah penulis asal Amerika Serikat. Ia juga membenci Adolf Hitler dan berniat menghabisinya.

Namun, Seabrook tak menggunakan bahan peledak atau pistol untuk menyudahi hidup suami Eva Braun itu. Ia memilih cara lain, dengan ilmu hitam alias guna-guna.

Pada 22 Januari 1941, mengumpulkan sekelompok temannya di sebuah pondok di Maryland.

Awalnya, mereka menenggak rum. Jelang fajar, Seabrook dan kawan-kawannya menggebuk drum, mencoba memanggil dewa- dewa pagan.

Kemudian, mereka mengepung sebuah boneka yang dipakaikan seragam Nazi. “Kau adalah Hitler, dan Hitler adalah kamu,” kata mereka menunjuk ke tiruan diktator Jerman itu.

Seabrook memimpin pengikutnya itu untuk memanggil dewa-dewa pagan untuk menyalurkan siksaan yang dialami boneka itu langsung ke Hitler.

“Kami mengutukmu,” teriak Seabrook. Diiringi suara drum, para pengikut sekte yang dalam kondisi mabuk itu memakukan paku ke jantung boneka.

Seabrook kemudian memenggal kepala boneka dengan kapak dan menguburnya di tengah hutan. Berhasilkah cara itu? Tidak.

  1. Bom dalam Botol Brandy

Tak semua orang Jerman senang saat Hitler jadi penguasa. Ketika Nazi mulai menghabisi lawan-lawan politiknya dan membantai kaum Yahudi, Jenderal Henning von Tresckow bersumpah untuk menghentikannya.

Ia kemudian membantu gerakan perlawanan dan berjanji untuk mengalahkan Adolf Hitler.

Kesempatan itu ia dapatkan pada 13 Maret 1943. Kala itu, Hitler terbang dari Vinnitsa, Uni Soviet menuju Jerman. Kapal terbang tersebut singgah di Smolensk.

Kepada perwira yang ikut terbang bersama Hitler, Tresckow menyerahkan dua botol Brandy mahal. Alasannya, minuman itu adalah hadiah untuk pejabat Nazi di Berlin.

Padahal, di dalam botol itu Tresckow menyembunyikan sebuah bom yang diset meledak dalam waktu 30 menit.

Sang perwira yang percaya begitu saja, meletakkan botol itu di dalam pesawat.

Lalu, Tresckow melihat kapal terbang itu lepas landas, menanti saat-saat Hitler meledak di udara.

Namun, apa yang ditunggu tak kunjung tiba. Bom itu gagal meledak. Diduga akibat kompartemen bagasi, tempat botol brandy disimpan, suhunya terlalu dingin.

Bukan main terkejutnya dia saat mendengar pesawat Sang Fuhrer berhasil mendarat di Berlin.

“Kami tercengang, tak kuasa membayangkan penyebab kegagalan itu,” kata Fabian von Schlabrendorff, kolaborator plot tersebut seperti dikutip situs History.

“Yang lebih buruk jika bom itu ditemukan, bakal mengarah deteksi dan pembunuhan lingkaran kolaborator.”

Hitler pun berhasil pulang dengan selamat, tidak sadar bahwa nyawanya terancam.

Sementara, Tresckow yang panik menelepon staf Hilter, mengaku ada kesalahan dalam pengiriman Brandi. Schlabrendorff lalu datang ke markas bos Nazis dan menukar dua botol itu dengan brandy mahal sungguhan.

  1. Misi Bunuh Diri Sang Jenderal

Gagal dengan bom pesawat, Tresckow tak menyerah. Ia merancang plot lain untuk membunuh Hitler. Kali ini, seseorang harus rela mengorbankan nyawanya.

Jenderal Rudolf-Christoph Freiherr von Gersdorff menawarkan diri. Ia siap mati, asalkan Hitler tumpas dari muka bumi.

Kala itu, Hitler dijadwalkan membuka pameran senjata Rusia hasil rampasan di Berlin pada 15 Maret 1943.

Dua orang dekat Hitler, Hermann Wilhelm Goring dan Heinrich Himmler ikut menyertai.

Jika misi Gerstorff berhasil, maka ia akan menghabisi tiga orang terkuat di Partai Nazi dalam satu ledakan.

Misi bunuh diri jadi pilihan dengan mempertimbangkan ketatnya pengamanan di lokasi. Tak mungkin menanam bahan peledak di sana.

“Pada satu titik menjadi jelas bagiku, serangan hanya mungkin dilakukan jika aku membawa bahan peledak itu sendiri,” tulis dia seperti dikutip dari History. “Dan, meledakkan diriku sedekat mungkin dengan Hitler.”

Gerstorff mengisi saku mantelnya dengan bahan peledak yang dirancang akan meledak 10 menit setelah ia menyalakan sekeringnya.

Ia pun pergi ke pameran, berjuang untuk terlihat tetap tenang saat menanti targetnya datang.

Hitler datang telat, sampai berjam-jam lamanya. Saat sang Fuhrer tiba, pembawa acara mengumumkan, ia hanya punya waktu delapan menit untuk tur.

Itu berarti, jika Gerstorff mengaktifkan bomnya, ledakan tak akan terjadi hingga Hitler meninggalkan lokasi acara.

Hitler akan melenggang bebas sementara tubuhnya tercabik oleh ledakan. Orang-orang yang ada di sana pun berpotensi jadi korban.

Gerstorff pun akhirnya memilih tetap berdiri, senyum terus tersungging di bibirnya, dan mendampingi Adolf Hitler melakukan tur singkat. Ia lalu pergi meninggalkan lokasi sebelum ada seorang pun sadar, ada bom di saku mantelnya. (Uli)

loading...