Ini Lima Fakta Sejarah Yang Dilupakan Orang

liputan6com/indolinear.com
Minggu, 12 November 2017
loading...

Indolinear.com , Jakarta – Secara alamiah, otak manusia memang terbatas, sehingga informasi menarik dan penting sering terlewatkan. Oleh sebab itu, tak jarang kenangan dari masa lampu, semisal sejarah, kerap luput dari ingatan.

Keterbatasan memori pada otak juga kerap membuat bagian-bagian informasi dalam suatu kejadian menghilang. Alhasil, kisah yang diceritakan kembali menjadi berbeda dengan yang sebenarnya.

Sebagai contoh, mungkin pada masa kini sudah jarang orang yang mengingat siapakah sosok pertama yang pernah menginjakkan kaki di bulan. Pun demikian dengan teror 9/11 yang pada masanya menghebohkan dunia.

Berikut ini sejumlah peristiwa besar dalam sejarah yang sering kali dilupakan banyak orang, yang dilansir dari Liputan6.com (10/11/2017).

  1. Pendaratan Manusia di Bulan

Pendaratan manusia di bulan menjadi suatu kejadian yang paling dikenang dalam sejarah manusia. Presiden John Kennedy dipandang sebagai sosok pendukung dan pemimpin pencapaian tersebut.

Namun, orang sering lupa motif utama Kennedy melakukan tugas besar itu. Dalam pembicaraan dengan James Webb, direktur NASA pada saat itu, Kennedy disebut mengatakan begini, “Semua yang kita lakukan harus benar-benar berkaitan dengan pencapaian kita di Bulan untuk mendahului Rusia.”

“Kalau bukan begitu, kita tidak boleh membelanjakan uang sebanyak itu, karena saya tidak tertarik dengan ruang angkasa… satu-satunya pembenaran adalah karena kita berharap mengalahkannya, untuk membuktikan bahwa bukannya kita ketinggalan beberapa tahun, tapi, demi Tuhan, kita telah mendahului mereka.”

Karena tekadnya untuk mendesak Amerika Serikat mendahului Soviet, Kennedy pada hakikatnya telah mengalihkan semua pendanaan NASA untuk pendaratan di Bulan.

Hal itu sejatinya mengecewakan Webb, yang lebih menyukai pendekatan lebih luas untuk penjelajahan dan program antariksa.

  1. Kaisar Jepang Setelah Hiroshima

Ketika sejarah Amerika Serikat membahas Jepang dalam Perang Dunia II, yang paling diingat adalah awan-awan cendawan yang melukai geografi fisik Jepang. Namun, hal itu luput dari pembicaraan luka psikologis mendalam setelah Jepang menyerah.

Setelah Jepang menyerah, Jenderal MacArthur dari pihak Amerika Serikat memaksa Hirohito untuk menerbitkan “Deklarasi Kemanusiaan” atau Ningen-sengen.

Dalam deklarasi itu, Sang Kaisar menyatakan sebenarnya itu berlawanan dengan agama Shinto yang menjadi dasar kebudayaan Jepang, sebab ia bukanlah dewa.

Yang menarik, pengakuan itu diberikan dalam bentuk tulisan kuno Jepang sehingga Sang Kaisar bisa menyatakannya secara samar-samar.

Ada teori yang menyebutkan bahwa ia mengganti kata yang lazim, yaitu arahitogami atau “dewa yang hidup” dengan kata yang lebih unik, yaitu akitsumikami, yang berarti “jelmaan dewa.”

Banyak cendekiawan berpandangan bahwa ia bisa saja menjadi dewa yang hidup tanpa perlu menjadi suatu jelmaan dewa.

  1. Serangan Teror 9/11

Karena tayangan-tayangan sensasional Twin Tower setinggi 110 lantai di World Trade Center, banyak orang lupa tentang kerusakan keseluruhan yang terjadi akibat serangan 9/11.

Pada saat itu, selain Twin Tower, sebenarnya gedung 7 World Trade Center (setinggi 47 lantai), 6 World Trade Center (8 lantai), dan 3 World Trade Center juga hancur semuanya. Demikian juga dengan gereja Ortodoks Yunani St. Nicholas yang terkubur seluruhnya oleh reruntuhan Tower 2.

Selain itu, 5 World Trade Center (9 lantai), 4 World Trade Center (9 lantai), Deutsche Bank Building (40 lantai), dan Filterman Hall (15 lantai) milik Manhattan Community College juga rusak tanpa bisa diperbaiki sehingga harus dihancurkan.

  1. Tsunami Samudra Hindia 2004

Setelah tsunami 2004, dunia amat kaget melihat jumlah korban meninggal dunia yang mencapai hampir 240 ribu orang. Namun, orang tidak menyadari betapa banyak warga pedesaan dan tradisional yang mampu bertahan karena memperhatikan kearifan lokal tentang tanda-tanda datangnya tsunami.

Misalnya, para ilmuwan tadinya yakin bahwa populasi aborigin di Kepulauan Andaman akan binasa akibat tsunami. Ternyata, hanya satu di antara sekian banyak suku yang menjadi korban. Banyak anggota suku yang dimaksud telah memeluk agama Kristen dan mengubah gaya hidup mereka.

Ketika ditanyai, warga suku-suku yang berhasil bertahan menjelaskan kepada para ilmuwan bahwa laut dan samudra sering kali “bertarung” terkait batasan. Ketika Bumi berguncang, mereka sejatinya sudah tahu bahwa laut akan segera memasuki daratan sampai dua kekuatan itu bisa mengatur kembali batas-batas di antara mereka.

Karena alasan itu, warga-warga desa mengungsi ke pegunungan, sehingga hanya sedikit jatuh korban.

Selain itu, ada kisah tentang Tilly Smith, seorang siswa Inggris berusia 10 tahun yang sedang berlibur di Pantai Mikakhao, Thailand. Tilly baru saja belajar tentang tsunami di sekolah.

Ia segera mengenali buih-buih dan surutnya air laut sebagai tanda-tanda tsunami. Bersama-sama orangtuanya, mereka memberi peringatan kepada orang-orang di pantai sehingga semuanya dievakuasi dengan aman.

  1. Penyanderaan Teater Moskow

Ketika tersiar kabar bahwa militer Rusia telah mengakhiri ketegangan penyanderaan 850 orang oleh kelompok separatis Chechen, fokus pemberitaan segera bergeser kepada upaya penyelamatan dramatis.

Oleh karena itu, kepahlawanan dan pengorbanan Olga Romanova sering kali terlupakan. Padahal kala itu Romanova, wanita 26 tahun yang menjadi penjaga toko parfum, bergegas menuju teater untuk membantu menyelamatkan sandera.

Merasa yakin bisa berbicara dengan para teroris agar setidaknya bisa membebaskan kaum wanita dan anak-anak, Romanova pun sukses melewati penjagaan ketat di sana dan memasuki teater.

Ia kemudian berhadapan dengan para pemberontak dan memohon pembebasan segera para tawanan. Para teroris mencurigainya sebagai anggota FSB, kesatuan keamanan dalam negeri Rusia, lalu menggelandangnya ke kamar sebelah dan kemudian menembak kepalanya hingga ia meninggal dunia. (Uli)