Ini Alasannya Mengapa Tubuh Terasa Gerah Sebelum Hujan Turun

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Minggu, 13 Desember 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Musim hujan telah tiba. Terik matahari saat ini sudah jarang lagi kita rasakan, di tengah awan mendung dan guyuran hujan bahkan badai. Namun satu hal yang selalu jadi penanda sebelum hujan, hawa yang panas.

Mengapa ya hal ini bisa terjadi? Padahal matahari sedang tertutup awan mendung yang tebal.

Ternyata begini alasannya. Hujan berasal dari mendung. Bila kita telusuri prosesnya, mendung atau awan adalah kumpulan dari uap air hasil pemanasan sinar matahari pada laut, sungai, danau, kumpulan air lainnya. Mirip seperti kepulan uap yang keluar saat kita membuka tutup panci yang airnya sudah mendidih.

Nah, udara panas tentu membawa lebih banyak uap air ketimbang udara yang dingin. Jadi, saat udara panas atau mendung itu tadi semakin naik ke atas, udara panas dan dingin bertemu.

Saat bersatu dengan udara dingin itu, mendung akan melepaskan panasnya, dan panas tersebut yang kita rasakan sebelum hujan. Saat semua panas itu terlepas, pasti kita merasa udara mulai dingin, dan saat itu hujan akan turun, dilansir dari Merdeka.com (12/12/2020).

Kelembapan Tinggi

Selain pelepasan panas dari mendung, gerah sebelum hujan juga disebabkan oleh tingkat kelembapan yang tinggi. Hal ini dikarenakan sebelum hujan uap air akan memenuhi udara di sekitar kita.

Ketika udara sudah sangat penuh dengan uap air, maka tidak ada lagi ruang bagi keringat yang sebelumnya sudah keluar karena panas dari mendung untuk menguap.

Karena keringat tidak bisa menguap, otomatis suhu tubuh akan terus mengalami kenaikan. Keringat sendiri keluar untuk mendinginkan tubuh kita.

Efek Rumah Kaca

Penyebab lain yang diduga ikut berpengaruh terhadap panas sebelum hujan, yakni efek rumah kaca. Saat mendung menutupi langit, secara otomatis panas matahari tidak bisa terpantulkan lagi dan terjebak di Bumi.

Teori ini dikuatkan oleh komposisi awan yang ternyata sebagian besar terdiri dari udara biasa yang mengandung banyak polusi seperti karbondioksida. Polusi ini yang menjebak panas matahari, persis seperti yang diterangkan dalam teori efek rumah kaca yang memerangkap panas dengan gas rumah kaca di atmosfer.

Hal ini membuat kawasan perkotaan bisa jauh lebih panas kala sebelum hujan. Mengingat polusi perkotaan jauh lebih tinggi. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: