Ini Alasan Mengapa Orang Tak Pernah Tersenyum Pada Foto Jadul

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Jumat, 15 Oktober 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Hampir semua foto lama, yang di ambil pada saat abad-19 hingga awal abad ke-20, kebanyakan orang terlihat tidak senyum.

Konon hal tersebut mengarah pada kepercayaan paling populer bahwa orang tidak tersenyum dalam foto lama. Seperti foto pernikahan yang terkesan menyedihkan dari tahun 1900.

Jadi, mengapa orang-orang di foto lama terlihat seperti mereka baru saja telah mendengar berita paling buruk selama mereka hidup?

Penyebab pastinya belum diketahui, namun beberapa teori menyebut kemungkinan yang terjadi di balik muka muram di dalam foto hitam-putih jadul, dilansir dari Liputan6.com (13/10/2021)

  1. Teknologi Terdahulu Membuat Lebih Sulit untuk Menangkap Senyum Seseorang

Gambar di atas mengilustrasikan mengapa kamera terdahulu sulit untuk menangkap senyuman seseorang.

Satu sosok yang berada di tengah terlihat buram, kemungkinan besar karena ia bergerak sedikit selama proses waktu paparan yang lama.

Secara teori, pada saat proses pengambilan foto kamu ingin mempertahankan posisi setenang mungkin, namun mepertahankan senyum jauh lebih sulit daripada ekspresi wajah yang terlihat datar.

Tapi itu hanya bagian dari cerita, dan itu benar-benar faktor terbesar dalam dunia awal fotografi.

Seperti yang telah dikatakan oleh George Eastman sebagai kurator rumah miliki Todd Gustavson kepada saya ketika saya sedang meneliti, pemaparan waktu menjadi jauh lebih singkat pada tahun 1900 dengan diperkenalkannya Borwnie dan kamera lainnya.

Namun kamera-kamera ini masih terbilang lambat jikalau harus disandingkan dengan standar kamera pada saat ini, karena hal tersebut masih tidak memungkinkan untuk seseorang harus tersenyum pada saat proses pemfotoan.

Namun senyum masih merupakan hal yang jarang sampai di awal abad ini. Hal itu menunjukkan adanya alasan kebudayaan, dimana orang tidak tersenyum pada saat foto lama.

Setiap teori budaya umumnya melibatkan beberapa keyakinan, namun teori ini mencoba menjelaskan mengapa foto-foto lama terlihat begitu menyedihkan.

  1. Fotografi Awal Masih Sangat Terpengaruh oleh Lukisan, Tidak Ada Senyuman

Saat ini, fotografi adalah sarana untuk merekam kehidupan kita sebagaimana mereka hidup. Namun pada masa-masa awal seni, ia berhutang budi pada tradisi potret dalam seni lukis.

Pasalnya sebuah foto adalah presentasi beku seseorang, bukan setiap moment dalam setiap waktu. bahkan para model pun juga berpikir demikian.

Pada tahun 1894, Photographic Journal of America mewawancarai seorang model bernama Elmer Ellsworth Masterman.

Dia memiliki peran yang tidak biasa dalam karirnya, secara profesional ia menjadi model sebagai Yesus Kristus untuk lukisan dan juga foto. Ia pun juga tidak melihat adanya perbedaan antar kedua bentuk seni tersebut. “Apa perbedaan antara berpose untuk foto dan berpose untuk lukisan?” Elmer bertanya.

Tradisi fotografi potret dimulai sebagian karena keterbatasan teknologi kamera yang hanya bisa mengambil gambar secara perlahan.

Bahkan setelah kamera berhasil ditingkatkan, masih sulit untuk memabyangkan bahwa fotografi juga merupakan seni yang unik dengan nilai estetikanya sendiri.

Bahkan ketika sudah lebih mudah untuk mengambil sebuah foto dengan cepat, kamera masih merepresentasikan sebagai kehidupan yang ideal, bukan sepotong-sepotong. itu berarti tidak ada senyuman.

  1. Foto-Foto Awal Dilihat Sebagai Jalan Menuju Keabadian

Saat kita mengambil foto profil kita di hari ini, dengan tujuan agar terlihat keren atau hanya untuk mendokumentasikan momen singkat saja, namun pada awal fotografi orang-orang tidak memikirkan tentang hal itu atau tentang halaman Facebook dan media sosial lainnya, bagi mereka foto adalah jalan menuju keabadian.

Terutama terlihat dalam tradisi fotogradi postmortem, dalam genre itu bagi orang, anak, atau hewan peliharaan yang baru saja meninggal akan difoto seolah-olah mereka masih hidup.

Dimulai pada awal hari dalam dunia fotografi, dalam sebagian besar meskipun tidak sepenuhnya pada tahun 1900 mengungkapkan mentalitas waktu: potret digunakan sebagai cara untuk melestarikan kehidupan untuk generasi mendatang.

Itu berarti medium cenderung lebih serius daripada fana. Tidak ada refleksi yang lebih baik dari gagasan itu selain kata-kata Mark Twain, seorang pria yang mencari nafkah sebagai seorang yang humoris dan menulis ceita tentang katak yang melompat.

Bahkan dia berkata, “saya pikir sebuah foto merupakan dokumen yang paling terpenting, dan tidak ada yang lebih memberatkan untuk diturunkan ke anak dan cucu daripada senyum konyol dan bodoh yang tertangkap selamanya.”

  1. Budaya Victoria dan Edwardian Memandang Rendah Senyuman

Argumen keempat mengapa orang-orang di foto lama mengerutkan kening adalah salah satu pose yang paling menarik, mungkin saja banyak orang di awal 1900-an berpikir bawah tersenyum adalah untuk orang bodoh.

Nicholas Jeeves membeberkan survei bahwa senyum dalam potret untuk Public Domain Review dan sampai pada kesimpulannya bahwa ada sejarah yang sudah berlangsung selama berabad-abad bahwa senyuman merupakan bentuk yang hanya dilakukan oleh badut.

(Jeeves menolak teori alternatif bahwa gigi yang buruk membuat orang tidak tersenyum, takut memberi kesenjangan antara gigi yang bagus dengan yang buruk.)

Seperti tesis budaya lainnya, ini merupakan pernyataan yang sulit untuk dibuktikan, dan banyak pengecualian. Misalnya, grup Flickr “Smiling Victorians” memiliki 2.100 foto, dan setidaknya beberapa di antaranya menunjukkan senyuman yang tulus.

Hal tersebut merupakan kontra-argumen yang signifikan. Namun konsep yang berlaku dari gambar-gambar lama sebagai peninggalan tanpa humor tampaknya tepat (dan dikonfimasi dalam beberapa hal dibutuhkan untuk membuat grup Flickr khsusus untuk gambar-gambar yang tidak lusuh).

Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, budaya pada umumnya mungkin tifak menyukai senyuman, namun butuh beberapa saat untuk belajar menyukainya.

Lalu Kenapa Lelaki Ini Tersenyum?

Foto ini, yang diambil sekitar tahun 1904 begitu mencolok. Ini dari koleksi gambar Berthold Laufer dari ekspedisinya ke China (dan ditampilkan oleh American Museum of Natural History Library).

Kami tidak tahu banyak mengenai foto itu sendiri. Namun foto itu memberikan kesempatan penawaran yang baik untuk meneliti lebih mengapa sepertinya orang-orang di foto lama tidak pernah tersenyum.

Petunjuknya mungkin terletak pada fotografer dan subjeknya. Fotografer Berthold Laufer adalah seorang antropolog, yang berarti dia memiliki misi yang berbeda dari fotografer lain pada masanya, ia berusaha merekam kehidupan alih-alih berpose.

Tujuan itu untuk menangkap emosi yang lebih luas. Subjeknya, pria yang suka nasi telah bersedia untuk tersenyum, karena ia berasal dari budaya yang berbeda dengan kepekaannya sendiri tentang fotografi dan perilaku publik. Keduanya adalah orang luar dari budaya fotografi arus utama.

Bersama-sama, mereka menciptakan gambar yang tak terlupakan sampai sekarang. Kami tidak tahu pasti mengapa seorang pria yan makan nasi terlihat sangat bahagia, tetapi kami tahu itu menghasilkan gambar yang masih bisa membuat kami tersenyum sampai hari ini. (Uli)