Inggris Teken Perjanjian Penyerahan Hong Kong Ke China

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Rabu, 19 Januari 2022

Indolinear.com, Hong Kong – Setelah sekian lama menjadi koloni kerajaan Inggris, Hong Kong secara resmi berpindah ke tangan China menyusul penandatangan perjanjian yang dilakukan oleh negara Eropa dan Asia itu pada 19 Desember 1984.

Penandatangan dilaksanakan di Beijing, oleh Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher dan Perdana Menteri China Zhao Ziyang. Keduanya meneken dokumen yang dikenal dengan nama Deklarasi Bersama Sino-Inggris, demikian seperti dikutip dari Liputan6.com (17/01/2022).

Ini secara resmi menyegel masa depan Hong Kong, memindahkannya dari koloni Inggris yang terdiri dari enam juta orang ke China komunis dalam 13 tahun.

Perjanjian itu, yang akan mengakhiri 155 tahun pemerintahan Inggris di koloni itu, juga meluncurkan era baru dalam perdagangan dan diplomasi antara kedua negara.

Presiden China Deng Xiaoping, yang mengejar pemulihan Hong Kong, menyambut Nyonya Thatcher.

Upacara sampanye berlangsung di Aula Besar Rakyat di Beijing, bersama dengan delegasi yang membantu menyusun perjanjian, termasuk 101 tamu dari Hong Kong.

PM Thatcher berkata: “Keadaannya unik. Perjanjian itu unik.

“Adalah benar bahwa kita harus merasakan sejarah, kebanggaan dan kepercayaan diri di masa depan.”

Deklarasi tersebut menguraikan Hong Kong akan “dikembalikan” ke Republik Rakyat Tiongkok yang berlaku mulai 1 Juli 1997 dan akan berlaku selama lima puluh tahun.

Ini akan dikenal sebagai Hong Kong Special Administrative Region (SAR).

Negosiasi Panjang

Inggris telah setuju untuk mengembalikan Hong Kong setelah jaminan akan “menikmati otonomi tingkat tinggi, kecuali dalam urusan luar negeri dan pertahanan”.

Dan prinsip China tentang “satu negara, dua sistem” memungkinkan Hong Kong untuk memiliki ekonomi kapitalis dan menikmati hak dan kebebasan yang ada –sebuah hal yang tidak diterapkan oleh Tiongkok Daratan.

Perdana Menteri Thatcher diketahui pernah mengungkapkan bahwa proses negosiasi untuk hal tersebut harus melalui jalan yang berbatu.

Ketika Thatcher terakhir mengunjungi Peking (nama kuno Beijing) pada tahun 1982, suasana bermusuhan antara kedua negara santer terasa dengan kesepakatan yang akhirnya tidak dapat dicapai.

Pembicaraan dimulai kembali pada Juli 1983 dan perjanjian yang pada akhirnya diteken pada 1984, yang diselesaikan hanya sepuluh hari sebelum batas waktu 30 September, dipuji sebagai kudeta diplomatik.

Dalam Konteks

Sebuah tindakan keras berdarah oleh pasukan terhadap protes di ibukota China, Beijing, pada bulan Juni 1989, yang dikenal sebagai “pembantaian Lapangan Tiananmen” memperburuk hubungan antara Inggris dan China.

Tragedi berdarah Tiananmen membuat Inggris berkontemplasi atas keputusannya untuk menyerahkan Hong Kong ke China.

Pemerintah Inggris, yang khawatir akan masa depan koloni itu, menanggapi dengan memberikan paspor Inggris kepada 50.000 kepala keluarga Hong Kong, membangun bandara internasional baru, dan memperkenalkan Bill of Rights.

Chris Patten, Gubernur Hong Kong terakhir memperkenalkan reformasi demokrasi pada tahun 1992 yang ditentang pemerintah China.

Serangkaian pertemuan diplomatik antara kedua pemerintah pada tahun 1995 dan 1996 meningkatkan hubungan.

Pada tanggal 1 Juli 1997 sebuah upacara spektakuler di Hong Kong merayakan era baru dalam kehidupan politiknya saat beralih ke kontrol China.

Sejumlah insiden dan ketegangan di Hong Kong pada Abad ke-21 semakin menebalkan kekhawatiran Inggris di masa lalu, dengan kritikus menyebut bahwa Beijing tengah berusaha keras untuk menanamkan kontrol atas Hong Kong –melunturkan independensi pulau itu, yang dianggap sebagai poin ‘penyimpangan’ penting dari perjanjian yang diteken dengan Inggris pada 1984. (Uli)