Ilmuwan Mengklaim Hitler Tewas pada 1945, Akhir Misteri Kematian Hitler?

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Senin, 9 September 2019

Indolinear.com, Paris – Ketidaan bukti jenazah membuat kematian Adolf Hitler dipertanyakan. Kesimpulan yang menyebut, bos Nazi itu bunuh diri dengan menenggak sianida dan menembak kepalanya gara-gara takut kalah perang, dituding terlalu sederhana.

Narasi-narasi alternatif pun berkembang liar. Konon, Sang Fuhrer memalsukan kematiannya dan kabur ke Argentina, Brasil, Indonesia, Antartika, bahkan ke Bulan.

Belakangan, hasil penelitian para ilmuwan Prancis kembali menguatkan kesimpulan bahwa Hitler mati di Berlin pada 1945, di penghujung Perang Dunia II. Nyawanya tumpas gara-gara menenggak sianida dan tembakan di kepala.

Seperti dikutip dari Liputan6.com (07/09/2019), para peneliti mendapat kesempatan langka untuk mengakses fragmen gigi sang diktator yang disimpan di Moskow.

“Gigi tersebut otentik, tidak ada keraguan terhadap keasliannya,” kata salah satu ilmuwan, Philippe Charlier.

“Mulai saat ini kita bisa menghentikan semua teori konspirasi terkait Hitler. Ia tidak lari ke Argentina dengan menggunakan kapal selam. Hitler juga tak kabur ke pangkalan tersembunyi di Antarktika atau ke sisi gelap Bulan,” kata dia.

Studi yang dilakukan Charlier dan empat penelitu lain dipublikasikan pada Jumat 18 Mei 2019 di jurnal ilmiah European Journal of Internal Medicine.

Hasil Analisis

Analisis terhadap gigit Hilter, yang dalam kondisi buruk dengan banyak gigi palsu, tidak menemukan keberadaan plak, juga jejak serat daging. Charlier menduga, Hitler adalah seorang vegetarian.

Pada Maret dan Juli 2017, dinas rahasia Rusia FSB dan pihak arsip negara di Moskow mengizinkan tim ahli meneliti belulang sang diktator, untuk kali pertamanya sejak 1946.

Tim dari Prancis itu juga bisa melihat secara langsung fragmen kepala Hitler, yang menunjukkan keberadaan lubang di sisi kirinya, yang diduga kuat akibat terjangan peluru.

Namun, mereka tak boleh mengambil sampel dari fragmen tersebut.

Penelitian menyimpulkan, morfologi fragmen tersebut berkesesuaian dengan foto radiografi tengkorak Hitler yang diambil satu tahun sebelum kematiannya.

Jika studi tersebut mengonfirmasi kesimpulan bahwa Hitler tewas pada 30 April 1945 di bunkernya di Berlin bersama istrinya, Eva Braun, Charlier menambahkan, hal itu juga memberikan wawasan baru tentang apa penyebab pasti kematian bos Nazi itu.

“Kita sebelumnya tak yakin apakah ia menggunakan ampul sianida atau tembakan di kepala untuk bunuh diri. Kemungkinan adalah keduanya,” kata dia.

Pemeriksaan di bagian gigi tidak menemukan jejak bubuk. Hal itu mengindikasikan, Hitler tak mengarahkan pistolnya ke mulut, melainkan ke leher atau dahi.

Sementara, jejak kebiruan pada gigi palsu Hitler mengindikasikan adanya reaksi kimia antara sianida dan logam penyangga gigi tersebut.

Charlier, seorang spesialis di bidang antropologi medis dan hukum, juga terlibat dalam analisis mumi jantung Richard Lionheart.

Adolf Hitler Putus Asa

Suatu ketika, Adolf Hitler kalut bukan kepalang. Salah satu jenderalnya menyampaikan kabar buruk: pasukannya tak mampu menahan serbuan Rusia ke Eberswalde. Sang Fuhrer tahu, ia telah kalah.

Pada 22 April 1945, di dalam bunker rahasia, ia menemui para panglima perangnya. Menteri Luar Negeri Nazi, Heinrich Himmler juga ada di sana.

“Ia datang sekitar pukul 20.30, dalam kondisi hancur,” demikian cuplikan laporan Joint Intelligence Committee terkait hari-hari terakhir Hitler, seperti ditulis mantan deputi jenderal Dinas Intelijen Inggris MI5, Guy Liddell.

Di depan para jenderal yang memintanya cepat-cepat meninggalkan Berlin, Hitler histeris. Ia tak bisa mengendalikan emosinya.

“Semua orang berbohong kepadaku!,” teriaknya. “Semua orang telah menipuku, tak ada satu pun yang berkata benar!”

Dengan wajah marah, Hitler menambahkan, “Angkatan bersenjata berdusta kepadaku, SS meninggalkanku di tengah kesulitan. Rakyat Jerman tak berjuang secara heroik. Mereka pantas binasa,” kata dia. “Bukan aku, tapi rakyat Jerman yang kalah.”

Laporan tersebut menyebut, wajah Hitler merah padam, kedutan di lengan kirinya berhenti, dan ia berdiri dengan goyah.

“Sepanjang malam, ia menderita gangguan syaraf parah yang membuatnya rubuh. Berkaki-kali Hitler mengoceh, ia akan menemui ajalnya di Berlin.”

Tak ada lagi harapan bagi Reich Ketiga — yang hanya kuat bertahan selama 12 tahun, 3 bulan, bukan 1.000 tahun seperti yang dicita-citakan. Bagi Hitler kala itu, tidak ada jalan lain selain menghabisi dirinya sendiri.

Berbeda dengan saat menerima kekalahan, Albert Speer, menteri persenjataan Nazi mengatakan, Hitler terlihat ‘tenang’ selama hari-hari menjelang ajalnya.

“Hitler akhirnya menyadari, bintangnya telah redup, bahwa ia kalah dalam perang yang dimulainya,” demikian keterangan Speer.

Kepada Speer, Hitler mengakui ia menunggu kematian datang, untuk membebaskannya dari semua masalah.

“Hitler mengaku bisa keluar dan ikut melawan musuh. Ia takut bakal terluka dan ditangkap oleh Rusia. Ia memilih menembak dirinya sendiri,” demikian isi laporan tersebut.

Beberapa hari kemudian, pada saat makan siang, Hitler menyampaikan instruksi mengerikan.

“Aku tak akan jatuh ke tangan musuh, hidup atau mati,” kata dia kepada para bawahannya. “Aku memerintahkan agar jasadku dibakar, agar tak ada yang bisa menemukannya.”

Hitler tak mau bernasib seperti rekannya, Benito Mussolini yang dipermalukan setelah tewas. Jasad diktator Italia itu digantung terbalik dan dijadikan tontonan publik. (Uli)