Ilmuwan Asal Jogja Ciptakan Alat Pendeteksi Alien, Ini Tiga Faktanya

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Sabtu, 5 September 2020
Unik | Uploader Yanti Romauli
loading...

Indolinear.com, Yogyakarta – Kehidupan luar angkasa memang penuh misteri. Mitos keberadaan alien masih terus dipertanyakan. Beberapa penampakan-penampakan benda asing di langit memperkuat hal itu. Namun masih banyak pula dari mereka yang tidak percaya.

Venzha Christ, seorang pengamat luar angkasa yang juga menjadi Direktur Indonesia Space Society (ISSS) ingin membuktikan keberadaan alien. Untuk itulah ia menciptakan karya berupa alat pendeteksi alien.

Dilansir dari Merdeka.com (04/09/2020), karya ini akan dipamerkan pada perhelatan di dua negara, yakni pada Yokohama Triennale 2020 di Jepang dan Bangkok Art Biennale 2020 di Thailand. Dalam karyanya ini, ia berusaha untuk mewujudkan kolaborasikonkret antara seni dan luar angkasa.

Ciptakan Alat Pendeteksi Alien

Untuk mengikuti pameran di Jepang, Venzha membuat alat simulasi berupa penangkap frekuensi dari luar angkasa yang berwujud antena. Alat yang berbentuk trapesium setinggi 3,5 meter itu diberi judul “Evolution of The Unknown #07”.

Alat itu bekerja dengan mengubah suara dari luar angkasa ketika sudah sampai di bumi. Dengan begitu suara itu bisa didengar oleh telinga manusia.

“Analoginya alat ini bisa menangkap gelombang dari luar angkasa supaya bisa didengar dan dilihat oleh manusia. Selain itu gelombang ini juga bisa menunjukkan adanya peradaban atau entitas asing yang belum teridentifikasi di luar bumi. Jadi jangan dibayangkan serta merta alien itu adalah makhluk luar angkasa yang kerap digambarkan di film-film,” ungkap Venzha.

Kritik Rencana Ekspansi Manusia ke Mars

Selain membuat karya untuk pameran di Jepang, Venzha juga membuat karya yang akan dipamerkan di Thailand. Untuk pameran ini Venzha membuat tiga konstruksi metal berbentuk globe yang disusun bersama dengan dimensi berukuran empat meter.

Karyanya itu ia beri judul “MARS IS (NOT) A SIMULATION – a terraforming paradox after the mission”. Dalam karyanya ini dia berusaha mengkritisi rencana ekspansi manusia dari Bumi ke Planet Mars.

“Saya tidak setuju membangun koloni di Mars karena kondisi di sana tidak layak dihuni manusia. Tetapi saya mendukung pembuatan laboratorium luar angkasa di Mars dan mengembalikan pengetahuannya untuk peradaban bumi,” jelas Venzha dikutip dari Liputan6.com.

Mewujudkan Astronomical Art

Di kedua pameran tersebut, Venzha berusaha mewujudkan apa yang dinamakan sebagai “Astronomical Art”. Konsep ini merupakan penggabungan antara pengetahuan luar angkasa dengan seni. Menurut Venzha, seni kerap dipandang sebagai sebuah tambahan estetika saja dari sebuah era keilmuan.

“Ini adalah sebuah stigma yang keliru bila ditilik dalam ranah seni dan teknologi. Manusia selalu ingin berkembang dan berkehendak untuk membuat peradabannya semakin mudah demi berlangsungnya kehidupan,” kata Venzha. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: