Ibu WNI Sukses Buka Warung di Arab, Bakso Seporsi Rp50 Ribu

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Senin, 16 Mei 2022

Indolinear.com, Jakarta – Tak sedikit orang Indonesia yang tergiur untuk bekerja di luar negeri, dengan iming-iming pendapatan yang lebih besar. Salah satu negara yang jadi incaran untuk bekerja adalah di Arab Saudi.

Lain halnya dengan kebanyakan perempuan yang bekerja untuk orang, ketiga WNI ini justru membuka bisnis sendiri di Jeddah, Arab. Mereka memilih membuka bisnis kuliner. Tempat makan sederhana tersebut diberi nama ‘Warung Pojok Top One’.

Hebatnya lagi, mereka bisa mengumpulkan omzet dalam sehari mencapai Rp10-19 juta per hari. Apalagi warungnya menyediakan banyak varian menu khas tanah air, sehingga jadi ajang melepas rindu bagi para WNI yang tinggal di sana, serta memperkenalkan cita rasa nusantara bagi warga asli Arab.

Penasaran dengan penampakan warung milik ibu WNI ini? Simak ulasannya berikut ini seperti dilansir dari Merdeka.com (14/05/2022).

Varian Menu di Warung Kecilnya

Seorang ibu WNI (Warga Negara Indonesia) bersama kedua rekannya mendirikan warung makan di daerah Souq, Jeddah, Saudi Arabia. Warungnya tidak terlalu besar, tapi menyajikan banyak menu khas nusantara yang menggugah selera.

Di ‘Warung Pojok Top One’, tersedia gado-gado, pempek, semur jengkol, nasi campur, mie ayam, bakso, sate, dan banyak lagi. Yang jadi favorit warga sekitar adalah cireng dan siomay.

“Wah ada warung bakso di sini,” kata Kang Irlan heran.

“Ada bakso, sate, mi ayam. Ada risoles, cireng juga. Nanti bisa dibawa pulang yang frozen kalau mau masak di rumah. Semua digoreng dadakan,” kata Teteh.

“Paling favorit di sini cireng sama siomay,” tukas rekannya. [kur]

Semua Diurus Sendiri

Tiga TKW hebat yang bisa mandiri tanpa harus berpangku tangan atau bekerja di bawah tekanan majikan. Bahkan hebatnya lagi, mereka mengurus semuanya sendiri.

Tanpa orang suruhan maupun sosok pria yang membantu, ketiga wanita ini akan bergantian dan membagi tugas untuk berbelanja, memasak dan menyetir mobil.

“Ibunya dari Cianjur,” ungkap Teteh.

“Fenomenalnya lagi dari sini, ibu itu ya sama teteh ini belanja sendiri, masak sendiri, dan ibu bawa mobil sendiri,” terang rekan Kang Irlan.

TKW Sukses Buka Warung Makan

Ketiga wanita ini telah menuai sukses di negeri Arab. Apalagi hal ini dinilai langka di sana, saat seorang wanita bekerja mandiri.

“Iya semuanya serba sendiri. Kita bertiga, yang satu lagi ini lagi pergi belanja,” ujar Teteh.

Selama ini, acap kali restoran di Arab akan mempekerjakan laki-laki dibanding perempuan.

“Sangat jarang restoran Indonesia itu pegawai atau pemiliknya itu perempuan. Karena biasanya mayoritas laki-laki,” papar Kang Irlan.

Omzet Bisa Mencapai Rp50 Juta Per Bulan

Warung kecilnya tersebut diperkirakan bisa mendulang omzet cukup besar. Dalam satu hari, jika sepi pengunjung saja mencapai Rp4 juta. Sedangkan jika ramai, bisa lebih dari Rp19 juta.

“Kalau setiap hari biasa atau sepi dapat 1.000 riyal lebih. Kalau ramai lebih dari 2.000 riyal. Kalau hari sabtu atau libur, biasa per malamnya sampai 5.000 bahkan Insyaa Allah lebih,” imbuhnya.

Berbeda dengan selama bulan suci Ramadan, jam warung buka akan dibatasi. Lantaran di sana lebih banyak orang yang memilih untuk memasak di rumah, dari pada membeli di luar.

“Kalau Ramadan kurang, karena waktu bukanya cuma sedikit. Nanti habis buka puasa kita jualan, buka dari jam 8 sampai jam 2 (dini hari). Terbatas waktunya. Kalau hari biasa buka jam 5 sampai jam 12 malam,” ucap Teteh.

Harga Seporsi Rp50 Ribu

Untuk kisaran harganya pun terbilang murah di Arab Saudi. Satu porsi bakso dibanderol dengan harga 15 riyal atau setara Rp57 ribu. Tak beda jauh dengan sejumlah harga dari varian menu lainnya.

“Kalau di sini, harga bakso segini berapa teh?,” tanya Kang Irlan.

“15 riyal bukan 15.000, kalau dirupiahkan sekitar Rp50 ribu,” terang Teteh.

“Ya terhitung murah kalau di sini,” tukasnya.

Alasan Wanita Indonesia jadi Idola

Rupanya sikap mandiri wanita Indonesia yang demikian, menjadi salah satu daya tarik bagi sebagian besar orang Arab Saudi. Selain itu, mereka bisa kreatif tanpa harus mengadah pada suami.

“Di situlah perbedaan wanita Indonesia di mana pun berada selalu kreatif tanpa batas. Tidak mengandalkan pemberian dari seorang suami, mandiri. Dan ini yang bikin disukai dari perempuan Indonesia itu karena keramahan, kemandirian, dan rajin,” tukas Kang Alman.

“Ada di sini terlihat seperti orang miskin, enggak tahunya di rumahnya (Indonesia) rumah tingkat tujuh,” imbuhnya berkelakar. (Uli)