Hukuman Seumur Hidup Untuk Bomber Gedung Federal AS

liputan6com/indolinear.com
Kamis, 16 November 2017
loading...

Indolinear.com, Washington DC – Hari itu, tanggal 4 Juni 1998, menjadi hari yang sangat menentukan nasib Terry Nichols, salah satu dari pelaku pengeboman gedung pemerintah Federal Amerika Serikat di Oklahoma City. Pengadilan Denvert menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepadanya, tanpa pembebasan bersyarat.

Seperti dilansir dari Liputan6.com (14/11/2017), Nichols dan rekannya Timothy McVeigh dinyatakan bertanggung jawab dalam insiden bom truk di luar Gedung Federal Alfred P Murrah, Oklahoma pada 19 April 1995. Ledakan menyebabkan sisi utara gedung berlantai 9 itu runtuh dan menimbun orang-orang di dalamnya.

Akibatnya, sekitar 168 orang tewas dan ribuan lainnya terluka. Ini menjadi tragedi bom terbesar kedua sepanjang sejarah Amerika Serikat setelah insiden WTC 11 September 2001.

Nichols yang saat itu berusia 43 juga dinyatakan bersalah atas kematian delapan agen federal akibat ledakan. Aksi pria tersebut dinyatakan telah terlampau batas, sehingga jaksa pun menyerahkan sepenuhnya keputusan pada hakim, tanpa banding.

“Dia (Nichols) adalah musuh dari Konstitusi,” ujar hakim Richard Matsch menjelaskan perbuataannya sangat sangat melanggar hukum federal.

Nichols dinyatakan berperan dalam membantu pelaku utama, Timothy McVeigh dalam membuat bom truk.

Hakim juga menyebut Nichols kurang kooperatif dengan pihak penegak hukum dengan enggan menjelaskan pihak-pihak yang terlibat dan kronologi rencana pengemboman. Sehingga dijatuhi hukuman yang berat.

Sementara itu, si pelaku utama pengeboman, McVeigh yang merupakan mantan tentara tersebut sebelumnya telah dijatuhi hukuman mati atas pengeboman tersebut. Motif pengeboman ini karena Timothy sangat membenci pemerintah federal yang saat itu dipimpin Presiden Bill Clinton.

Ia sebelumnya dikeluarkan dari militer karena imbas pemangkasan anggota tentara.

Pada 11 Juni 2001, McVeigh akhirnya menjalani hukuman mati di LP Terre Haute, Indiana dan menjadi tahanan federal pertama yang dihukum mati sejak 1963.

Pihak keluarga korban mengapresiasi hakim yang telah memberikan hukuman berat kepada pelaku. Berharap tak akan ada lagi kejadian serupa. Pihak keluarga juga berharap aparat bisa mengusut pelaku lainnya, yang dicurigai juga berperan dalam aksi terorisme tersebut. (Uli)

loading...