Hindari Permainan Harga, Pangkalan Elpiji Kini Menjangkau Pelosok Sumatera

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Minggu, 9 Agustus 2020
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Menjamurnya pengecer di lokasi-lokasi yang belum ada pangkalan resmi Pertamina menyebabkan ada permainan harga elpiji bersubsubsidi di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).

Unit Manager Communication Relation dan CSR Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I Roby Hervindo mengatakan, para pengecer ini menyebabkan pasokan habis dan menimbulkan isu kelangkaan di masyarakat.

Guna mendekatkan produk elpiji kepada masyarakat, khususnya di daerah pelosok, Pertamina mengusung program One Village One Outlet (OVOO) atau satu desa satu pangkalan.

Roby menjelaskan, OVOO bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan layanan elpiji, sehingga masyarakat tidak perlu lagi membeli dengan harga tinggi di pengecer.

“Untuk wilayah Sumatera Utara (Sumut), OVOO sudah mencakup 33 kota dan kabupaten. Lebih dari 430 kecamatan dan di lebih dari 4.000 kelurahan,” ujarnya, dilansir dari Tribunnews.com (08/08/2020).

Sementara, lanjut Roby, jumlah pangkalan di Sumut bertambah mencapai 11.176 sejak pelaksanaan OVOO dari sebelumnya 9.626.

Pencapaian OVOO di Sumut sekarang mencapai 85 persen dan khir tahun 2020 ditargetkan seluruh wilayah Sumut telah hadir OVOO.

“Program OVOO ini dikhususkan untuk menambah pangakalan elpiji di wilayah-wilayah pelosok pedesaan. Bukan di wilayah perkotaan yakni Medan, yang jumlah pangkalannya sudah banyak,” kata Roby.

Menurut dia, jika terlalu banyak pangkalan di satu wilayah maka jatah pasokan per pangkalan menjadi terlalu kecil karena meski jumlah pangkalan ditambah, kuotanya tetap alias tidak ikut bertambah.

“Berdasarkan catatan Pertamina, sepanjang Januari hingga Juli 2020 penyaluran elpiji kilogram subsidi di Sumut sudah mencapai lebih dari 77 juta tabung. Sementara, elpiji non subsidi seperti Bright Gas, sebesar 13.903 metrik ton (MT)” pungkasnya. (Uli)

INFORMASIKAN PADA SAHABAT: