Hilangnya Kebiasaan Memanjat Rumah Untuk Betulkan Antena Berkat Siaran Digital

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Jumat, 27 Agustus 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Pada kampung-kampung padat penduduk baik di perkotaan maupun perdesaan, sebenarnya terdapat cara mudah untuk menghitung berapa rumah yang ada dengan waktu cepat. Panjatlah pohon atau tiang yang cukup tinggi, lalu hitung berapa jumlah antena yang terpasang di kampung tersebut. Pasalnya, memang hampir semua rumah memiliki televisi dan hal itu terbukti dari banyaknya antena yang terpasang di rumah-rumah.

Pada masa siaran TV analog, pemasangan antena di atap rumah memang menjadi kebiasaan warga di Indonesia. Biasanya bahkan di wilayah-wilayah tertentu, antena ini bakal dipasang menggunakan bambu dan tingginya bisa dua hingga tiga kali lipat dari tinggi rumah demi memperoleh gambar yang cukup bagus, dilansir dari Merdeka.com (26/08/2021).

Posisi antena yang sangat tinggi ini bukannya tanpa risiko, ada kemungkinan tiang yang dipasang ini terdorong angin dengan keras hingga antena terlempar atau bahkan tiang tersebut jatuh. Antena televisi dan tiangnya ini juga menjadi musuh bagi bocah-bocah kecil yang biasa bermain layang-layang di tengah kampung karena sering membuat layang-layang mereka tertambat di sana.

Memasang antena dengan posisi setinggi-tingginya ini juga bukan berarti kita sudah bebas masalah dan berleha-leha menanti siaran TV dengan gambar bening di rumah. Untuk mendapatkan gambar yang benar-benar bening ini, kita harus “men-setting” posisi antena agar tepat dan mendapat gambar yang baik di semua saluran. Namun, sayangnya hal ini juga tidak mudah kerap kali gambar TV benar-benar bening di satu saluran namun penuh “semut” di saluran yang lain.

Kondisi gambar yang kadang tak bisa bening di semua saluran ini menyebabkan banyak orang yang terbiasa memanjat rumah untuk mengubah arah atau posisi antena demi siaran yang bagus. Ketika kita sering berganti-ganti saluran dengan tepat, tentu terus-menerus mengganti posisi antena ini bakal bikin kelabakan. Lebih repot lagi ketika angin bertiup kencang dan membuat antena terus bergoyang hingga siaran sepakbola yang tadinya kita tonton malah hanya menjadi gambar “semut” berbaris dengan suara bising tak jelas.

Untungnya, masalah ini tampaknya akan terus berkurang seiring waktu. Penyelamatnya tentu bukan karena pada saat ini orang lebih sibuk melihat ponsel, namun karena migrasi televisi yang kini menggunakan siaran digital. Perpindahan ini bakal membuat kita mengucapkan selamat tinggal pada kebiasaan menggoyang antena yang dipasang di atas rumah. Kini, selamat datang pada dekoder set top box yang cukup “duduk manis” di dekat televisi atau kalau kamu memiliki TV keluaran terbaru, kamu cukup menancapkannya di antena seperti biasa.

Melalui UU Cipta Kerja Omnimbus Law yang disahkan 2020, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mulai melakukan migrasi TV analog ke TV digital secara bertahap yang ditargetkan selambat-lambatnya dua tahun sejak berlakunya UU Cipta Kerja tersebut. Sejak beberapa waktu lalu, sebenarnya sudah mulai banyak orang yang beralih ke siaran digital terutama karena beberapa saluran TV tidak lagi tersedia secara analog di wilayah tersebut.

Gambar yang Benar-Benar Bening

Selama ini, kebiasaan memanjat rumah untuk membetulkan antena menjadi sebuah “ritual” yang harus dijalani untuk mendapat gambar berkualitas. Sayangnya, seperti telah disebut sebelumnya, gambar bagus yang muncul pada satu siaran menyebabkan gambar di siaran yang lain menjadi jelek dan tak berkualitas.

Datangnya siaran televisi digital ini bisa membuat semua masalah tersebut tidak lagi kita alami. Siaran TV digital hadir dengan gambar kualitas high-definition yang benar-benar memanjakan mata. Hal ini tentu berbeda dengan gambar dari siaran analog yang definisi “bening” di situ adalah gambar cukup jelas dilihat.

Penggunaan siaran digital ini menjadikan gambar di televisi kita setara dengan siaran HD yang biasa kita saksikan di TV kabel. Bagian yang paling menyenangkannya tentu adalah kita bisa menikmati kualitas siaran dengan gambar yang benar-benar bening ini tanpa mengeluarkan biaya berlangganan seperti pada televisi kabel.

Selain Gambar Bening, Internet di Rumah Juga Bisa Lebih Kencang

Selain gambar televisi yang bakal berkualitas HD dan memanjakan mata, kita yang biasa berlama-lama di rumah juga bisa menikmati internet yang lebih Kencang jika hal ini terjadi, kok bisa?

Perlu diketahui bahwa siaran televisi baik analog maupun digital menggunakan frekuensi yang sama. Direktur Penyiaran, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Geryantika Kurnia, dalam wawancara dengan Antara mengatakan bahwa Siaran televisi analog saat ini menggunakan pita frekuensi 700MHz dan menghabiskan alokasi 328MHz pada frekuensi tersebut. Sementara itu, siaran televisi digital hanya membutuhkan 176MHz.

Perbedaan besar frekuensi tersebut bisa menimbulkan dividen digital sebesar 112MHz yang bisa dimanfaatkan untuk jaringan internet cepat. Indonesia juga akan memiliki cadangan 40MHz di frekuensi 700MHz dengan siaran televisi digital. Meningkatnya kecepatan internet ini tentu bisa sangat membantu kita dalam belajar lebih banyak hal serta mengakses internet tanpa takut koneksi yang lambat.

Semakin cepat masyarakat bermigrasi ke televisi digital maka semakin cepat terjadi perubahan tersebut. Jika sudah migrasi ke siaran digital pada saat ini, setidaknya kita tidak perlu takut siaran TV akan menjadi jelek ketika angin kencang tiba dan tinggal menunggu waktu untuk menikmati kecepatan internet yang lebih kencang. (Uli)