Hikayat Marina Budiman Jadi Wanita Terkaya Di Indonesia

FOTO: dream.co.id/indolinear.com
Kamis, 14 Juli 2022

Indolinear.com, Jakarta – Mengenakan kemeja lengan pendek abu-abu dan celana kain hitam, wanita berambut pendek dan berkacamata itu nampak cekatan di sela-sela peresmian pembangunan data center PT DCI Indonesia, di kawasan industri utama MM2100, Cibitung, enam tahun lalu.

Saat itu dia masih menjabat sebagai Presiden Direktur PT DCI Indonesia. Kini, setelah enam tahun, dia tak lagi menjabat posisi sebagai Presiden Direktur. Ia kini menjabat sebagai Presiden Komisaris PT DCI Indonesia.

Dan belum lama ini majalah Forbes memasukkan wanita berambut pendek berkacamata itu sebagai Asia’s Power Businesswomen 2021.

Tak hanya itu, untuk tahun 2021, dia juga didapuk oleh majalah Forbes menjadi wanita terkaya di Indonesia.

Dilansir dari Dream.co.id (12/07/2022), wanita itu berada di posisi ke-30 orang terkaya di Indonesia. Padahal dia merupakan pendatang baru di daftar orang terkaya Indonesia versi Forbes.

Pengusaha perempuan ini tercatat memiliki kekayaan 1,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 21,48 triliun.

Wanita itu adalah Marina Budiman, 60 tahun.

Ia merupakan pendiri dan Presiden Komisaris DCI Indonesia, operator pusat data terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar lebih dari 50 persen. PT DCI Indonesia juga merupakan pusat data tingkat IV pertama di Asia Tenggara, peringkat industri tertinggi untuk keandalan dan ketahanan.

Dengan nilai perusahaan atau valuasi sekitar U$ 7 miliar atau sekitar Rp 105 triliun, PT DCI Indonesia kini menjadi salah satu perusahaan publik paling berharga di Indonesia.

Marina sendiri tercatat memiliki 26,27% saham di DCII atau lebih dari U$ 1 miliar. Tak heran jika hartanya ditaksir mencapai Rp 21,4 triliun.

Maka, dengan kepemilikan saham itu, dia menjadi pendatang baru di daftar  orang terkaya Indonesia. Hebatnya, meski pendatang baru di tahun 2021, dia langsung melejit ke urutan nomer 30 orang terkaya Indonesia.

Dijual perdana pada Januari 2021, saham PT DCI Indonesia awalnya hanya seharga Rp 420. Tapi sampai Rabu, 6 Juli 2022, harga saham perlembar PT DCI Indonesia sudah mencapai Rp 39.000.

Hal yang membuat investor terkesan bagaimana  kenaikan harga saham PT DCI Indonesia mencapai 11.000 persen dari harga awal saham DCII dalam setahun sejak pencatatan saham perdana pada Januari 2021.

Forbes menyebutkan, karena prospeknya yang bagus, pengusaha Anthoni Salim juga meningkatkan kepemilikan saham di DCII pada Mei 2021 dari 3 persen menjadi 11 persen.

” Anda tidak akan pernah bosan dengan sektor teknologi,” ujar Marina kepada majalah Forbes.

“ Perubahan menjadi konstan. Inovasi menjadi lebih cepat dan lebih cepat,” tuturnya.

Dikutip dari situs resminya, PT DCI Indonesia adalah perusahaan penyedia data center terkemuka di Indonesia. PT DCI Indonesia menyediakan layanan infrastruktur pusat data cloud yang handal, berjejaring dengan baik, dan dikelola di Indonesia. Menjadi pusat data Tier-IV pertama di Asia Tenggara, PT DCI Indonesia hadir untuk menyediakan layanan pusat data kelas dunia.

PT DCI Indonesia adalah pusat data yang dibangun dengan total lahan 8,5 hektare di komplek MM2000, Cibitung, Bekasi. Sebagai perusahaan yang sedang berkembang, DCII terus meningkatkan pelayanan dan menambah gedung dengan total daya 300 MegaWatt.

Perempuan kelahiran 1961 ini awalnya ingin menjadi bankir.

Ia mendapatkan gelar sarjana di bidang keuangan dan ekonomi dari University of Toronto, Kanada. Ia menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1985.

Setelah menamatkan pendidikan sarjananya, Marina pulang ke Indonesia dan bekerja sebagai account officer di Bank Bali pada 1985.

Di perusahaan tersebut, Marina bertemu dengan Otto Toto Sugiri. Ketika menjadi bankir, Marina melihat peluang dari hubungan teknologi dengan bisnis.

Selama di sana, ia mengambil bagian dalam proyek bank saat meng-install perangkat lunak ke komputer pada 1985.

“ Itu adalah pertama kalinya saya mengetahui bagaimana teknologi membantu bisnis,” ujar dia ke majalah Forbes.

Setelah berkarir di Bank Bali, Marina bergabung dengan PT Sigma Cipta Caraka, perusahaan yang dia dirikan bersama oleh Otto Toto Sugiri pada tahun 1989 bersama empat orang eks karyawan Bank Bali. Marina sempat menjabat sebagai Project Manager di perusahaan tersebut hingga tahun 2000.

Perusahaan ini adalah cikal bakal Sigma Group, perusahaan penyedia solusi perbankan yang mengembangkan perangkat lunak bagi bank-bank di Indonesia.

Ketika mendirikan Sigma, Marina dan Toto menyatakan Sigma memiliki tujuan yang sederhana yakni menjadi perusahaan perangkat lunak dengan produk yang digunakan lebih dari 10 perusahaan.

Karir Marina terus menanjak, pada 2000 hingga 2008, ia menjabat sebagai Chief Financial Offficer Sigma. Selanjutnya, ia memegang posisi direktur penjualan dan pengantaran pada 2008 sampai 2010.

Bisnis perusahaan Sigma yang prospektif membuat perusahaan ini diakuisisi oleh perusahaan telekomunikasi pelat merah, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. pada 2010.  Akuisisi dilakukan Telkom melalui TelkomMetra. Sekarang, namanya dikenal sebagai Telkomsigma.

Pada 1994, bersama Otto Sugiri, Marina mendirikan perusahaan penyedia jasa internet pertama di Indonesia, Indonet.

Setelah lebih dari dua dekade malang melintang di industri teknologi, Marina makin menyadari pentingnya sektor tersebut. Sementara, pasarnya belum digarap optimal di Indonesia. Kapasitas pusat data di Indonesia juga masih tertinggal dibandingkan negara tetangga.

Akhirnya, bersama Otto Sugiri dan Han Arming Hanafia, Marina mendirikan PT DCI Indonesia pada 18 Juli 2011. Perusahaan dibesarkan menjadi operator pusat data Tier IV pertama di Asia Tenggara.

Sejak 2016 hingga sekarang, Marina menjabat sebagai Presiden Komisaris perusahaan.

Seiring ledakan digital di Indonesia, perseroan membukukan kenaikan pendapatan 81 persen dan laba 57 persen selama tiga tahun terakhir.

Daftar pelanggan unggulan PT DCI Indonesia mencakup 44 perusahaan telekomunikasi, 134 perusahaan keuangan dan sejumlah perusahaan e-commerce terbesar di Asia.

Walau sibuk bekerja, berkumpul dengan keluarga merupakan hal yang paling berharga bagi Marina Budiman. Karena itu, saat anaknya libur sekolah, Marina mengambil cuti untuk jalan-jalan bersama keluarga tercinta.

Saat liburan sekolah, kata Marina, merupakan waktu yang tepat bagi seluruh anggota keluarga untuk kumpul bersama. Untuk merayakan kebersamaan tersebut, Marina dan keluarga biasanya memilih pergi berlibur ke suatu tempat.

Setiap liburan, kota tujuannya selalu berbeda. “ Tetapi kalau tujuan favorit liburan kami biasanya Bali dan Jepang,” katanya.

Kinerja PT DCI Indonesia yang dibesut Marina Budiman dan Otto Sugiri juga terhitung bagus.

Pada awal tahun PT DCI Indonesia Tbk (DCII) mengumumkan laporan keuangan yang tumbuh positif sepanjang 2021. Pada periode itu, perseroan mencatatkan laba yang naik 42,76 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Merujuk laporan keuangan DCII dalam keterbukaan informasi Bursa Efek indonesia (BEI), Selasa 1 Maret 2022, pendapatan DCI Indonesia hingga akhir 2021 tercatat Rp 871,24 miliar. Naik 17,73 persen dari tahun sebelumnya Rp 759,34 miliar. Raihan tersbeut ditopang oleh pendapatan dari colocation sebesar Rp 828 miliar.

Sementara sisanya Rp 43,23 miliar merupakan pendapatan lain-lain. Sejalan dengan itu, laba pokok pendapatan juga naik menjadi Rp 395,24 miliar, dari Rp 389,3 miliar pada 2020. Sehingga diperoleh laba bruto sebesar Rp 476 miliar.

Setelah dikurangi beban usaha dan pajak penghasilan, perseroan berhasil mengukuhkan laba tahun berjalan sebesar Rp 261,45 miliar. Naik 4,76 persen dibanding akhir 2020 sebesar Rp 183,14 miliar. Sementara laba per saham dasar tercatat naik menjadi Rp 110 per lembar dari Rp 90 per lembar pada akhir Desember 2020.

Dari sisi aset perseroan hingga akhir Desember 2021 tercatat sebesar Rp 2,99 triliun, naik dari posisi akhir Desember 2020 sebesar Rp 2,44 triliun. Rinciannya, terdiri dari aset lancar Rp 297,3 miliar dan Rp 2,7 triliun merupakan aset tidak lancar.

Liabilitas DCI Indonesia sepanjang 2021 tercatat sebesar Rp 1,78 triliun, naik dari Rp 1,71 triliun di akhir Desember 2020. Terdiri dari liabilitas jangka pendek Rp 465,7 miliar dan sisanya Rp 1,31 merupakan liabilitas jangka panjang.

Sementara ekuitas perseroan hingga Desember 2021 tercatat naik dari Rp 719,91 miliar di 2020 menjadi Rp 1,21 triliun di akhir 2021.

Dengan kinerja perusahaan yang kinclong seperti ini, maka wajar Marina Budiman masuk ke dalam daftar majalah Forbes untuk Asia’s Power Businesswomen 2021. Ia masuk bersama 20 pemimpin bisnis perempuan di kawasan Asia Pasifik dalam jajaran tersebut.

Editor Asia’s Power Businesswomen 2021, Rana Wehbe Watson menuturkan, pelaku bisnis di Asia Pasifik terutama perempuan terus mendobrak hambatan dan memperluas bisnisnya meski hadapi pandemi COVID-19.

Dalam daftar Asia’s Power Businesswomen tersebut ada 20 pebisnis yang berhasil beradaptasi dan berkembang di industri termasuk teknologi, perawatan kesehatan, perbankan dan manufaktur. ” Mereka memimpin saat dunia berjuang dengan realitas pasca COVID-19,” ujar dia dikutip dari laman Forbes.

Semua pengusaha wanita yang disorot pada 2021 adalah pendatang baru dalam daftar tersebut yang makin memperluas jaringan bisnis terkemuka di Asia. Pebisnis perempuan tersebut dipilih karena prestasi dalam mengelola bisnis dengan pendapatan atau valuasi startup lebih dari USD 100 juta.

Di antara 20 perempuan tersebut, ada dua dari Indonesia. Salah satunya menjabat sebagai Presiden Komisaris PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yaitu Marina Budiman.

Dengan kepemilikan sahamnya sebesar seperempat dari seluruh saham PT DCI Indonesia, Marina Budiman sudah membuktikan diri sebagai wanita paling kaya di Indonesia. Kenaikan harga saham PT DCI Indonesia sebesar 11.000 persen membuat hartanya melonjak tajam! Sebuah prestasi yang bukan main-main. (Uli)

loading...