Hasil Rekonstruksi Wajah Tiga Dimensi Mumi Mesir Dari 2000 Tahun Lalu

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Kamis, 30 September 2021
Unik | Uploader Yanti Romauli
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Para peneliti di Amerika Serikat (AS) menggunakan data DNA dari jasad yang dibalsemkan untuk menciptakan rekosntruksi tiga dimensi (3D) tiga pria yang hidup pada zaman Mesir kuno lebih dari 2.000 tahun lalu.

Mumi-mumi tersebut berasal dari Abusir el-Meleq, kota kuno Mesir di selatan Kairo, dan mereka dikubur antara tahun 1380 Sebelum Masehi dan 425 Masehi.

Pada 2017, para peneliti di Institut Max Planck bidang Ilmu Sejarah Manusia di Tubingen, Jerman berhasil mengurutkan DNA dari mumi-mumi Mesir untuk pertama kalinya.

Menggunakan teknologi, para peneliti di Parabon NanoLabs, sebuah perusahaan teknologi DNA di Reston, Virginia, telah menggunakan data genetik itu untuk membuat model 3D dari wajah mumi.

Para ahli membuat wajah para mumi melalui proses yang disebutkan fenotip forensik DNA yang menggunakan analisis genetik untuk menciptakan ulang bentuk fitur wajah dan aspek lainnya dari penampilan fisik seseorang.

β€œIni adalah fenotip DNA komprehensif pertama kali yang dilakukan pada DNA manusia pada masa ini,” kata perwakilan Parabon dalam sebuah pernyataan, dilansir dari Merdeka.com (29/09/2021).

Parabon mengungkap wajah-wajah mumi pada September 15 di Simposium Internasional Identifikasi Manusia ke-32 di Orlando, Florida.

Para ilmuwan menggunakan metode fenotif yang disebut Snapshot untuk memprediksi nenek moyang, warna kulit, dan ciri-ciri wajah para mumi pria tersebut.

Temuan tersebut mengungkapkan, orang-orang kuno ini secara genetik lebih mirip populasi yang hidup di Mediterania timur – wilayah yang sekarang ini termasyk Suriah, Lebanon, Israel, Yordania, dan Irak – daripada orang yang hidup di era Mesir modern. Para peneliti kemudian membuat jerat 3D yang menguraikan fitur wajah mumi, dan menghitung peta panas untuk menyoroti perbedaan antara tiga individu dan menyempurnakan detail setiap wajah.

Seniman forensik Parabon kemudian menggabungkan hasil ini dengan prediksi Snapshot tentang warna kulit, mata, dan rambut.

Di seluruh dunia, sisa-sisa ribuan mumi dari Mesir kuno telah digali, tetapi untuk mendapatkan DNA utuh dan tidak rusak dari mayat-mayat itu terbukti sulit.

Tim peneliti lain juga sebelumnya melakukan upaya untuk mengurutkan DNA dari mumi tetapi terbukti tidak meyakinkan. Upaya pertama terjadi pada tahun 1985 dan kemudian terbukti cacat, karena sampel telah terkontaminasi dengan DNA modern.

Namun, menurut Direktur Bioinformatika Parabon, Ellen Greytak, proses baru yang digunakan pada mumi kuno ini juga dapat membantu para ilmuwan membuat ulang wajah untuk mengidentifikasi sisa-sisa modern. Greytak mengatakan, dari sekitar 175 kasus yang peneliti Parabon bantu selesaikan menggunakan silsilah genetik, sejauh ini sembilan dianalisis menggunakan teknik dari penelitian ini. (Uli)